KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Perusahaan teknologi antariksa asal India, GalaxEye, memperoleh paten Amerika Serikat untuk teknologi pengamatan Bumi yang menggabungkan sensor optik dan radar dalam satu sistem satelit.
Teknologi tersebut memungkinkan satelit mendapatkan informasi dari lokasi yang sama secara bersamaan menggunakan dua jenis sensor berbeda.
Hasilnya, pengamatan dapat dilakukan lebih konsisten ketika kondisi cuaca tidak mendukung maupun saat malam hari.
GalaxEye mengumumkan perolehan paten tersebut pada Selasa, 8 September 2026.
Sistem yang dikembangkan menyinkronkan optical imaging dengan Synthetic Aperture Radar atau SAR.
Kamera optik mempunyai keunggulan menghasilkan citra yang relatif mudah dipahami manusia.
Sistem tersebut bekerja menggunakan cahaya seperti prinsip kamera biasa.
Namun ada keterbatasan besar.
Ketika awan tebal menutupi wilayah tertentu, kamera dari luar angkasa dapat kesulitan melihat permukaan.
Masalah yang sama muncul ketika kondisi gelap.
SAR mempunyai karakter berbeda.
Radar memancarkan sinyal kemudian mengukur pantulannya dari permukaan Bumi.
Teknologi tersebut tidak bergantung pada cahaya matahari dengan cara yang sama seperti kamera optik.
Radar juga dapat bekerja melalui sejumlah kondisi awan.
Karena itu SAR sangat berguna untuk pengamatan yang membutuhkan kontinuitas.
Namun informasi radar mempunyai karakter visual yang berbeda dan membutuhkan analisis khusus.
GalaxEye mencoba menggabungkan kelebihan kedua teknologi.
Optical sensor memberikan informasi visual dan spektral yang kaya.
SAR memberikan kemampuan pengamatan saat malam maupun ketika kondisi atmosfer tidak ideal.
Jika dua sensor berada pada satelit berbeda, terdapat persoalan waktu.
Satelit optik mungkin memotret sebuah wilayah pada pukul 10 pagi.
Satelit radar baru melewati lokasi yang sama beberapa jam kemudian.
Dalam interval tersebut kondisi lapangan bisa berubah.
Kendaraan dapat berpindah.
Air banjir dapat bertambah.
Kapal dapat bergerak.
Awan juga dapat berubah.
Menggabungkan dua gambar yang diambil pada waktu berbeda membuat analisis menjadi lebih sulit.
Teknologi GalaxEye menempatkan kedua jenis sensor pada satu platform dan menyinkronkan proses pengambilan data.
Dengan demikian optical dan radar dapat merekam lokasi yang sama pada waktu yang sama.
Data yang dihasilkan secara alami lebih sejajar.
Reuters melaporkan paten AS tersebut mencakup teknologi untuk menangkap citra optik dan radar yang teralign secara tepat.
CEO GalaxEye Suyash Singh mengatakan kemampuan tersebut memungkinkan perusahaan menyediakan layanan imaging yang tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca.
Teknologi semacam itu mempunyai banyak penggunaan.
Pada sektor pertanian, citra satelit dapat digunakan untuk memantau kondisi tanaman dan perubahan lahan.
Apabila wilayah pertanian tertutup awan selama beberapa hari, radar masih dapat memberikan informasi.
Pada penanganan bencana, data yang cepat bahkan lebih penting.
Saat banjir besar atau badai terjadi, awan justru sering menutupi wilayah yang paling perlu diamati.
Radar dapat membantu melihat perubahan kondisi permukaan meskipun kamera optik tidak mendapatkan gambar yang jelas.
Informasi tersebut dapat digunakan lembaga penanggulangan bencana untuk memahami wilayah terdampak.
Pada sektor maritim, sistem dapat digunakan untuk memantau kapal dan perubahan aktivitas di laut.
Bidang asuransi juga dapat menggunakan data satelit untuk membantu memeriksa dampak kerusakan setelah bencana.
Sementara pemerintah dan sektor pertahanan dapat menggunakan Earth observation untuk kebutuhan keamanan dan pemantauan wilayah.
GalaxEye sudah mempunyai satelit bernama Mission Drishti.
Perusahaan menyebut Drishti sebagai satelit OptoSAR pertama di dunia.
Satelit tersebut berhasil diluncurkan pada 3 Mei 2026 menggunakan roket Falcon 9 dari California.
Drishti mempunyai bobot sekitar 190 kilogram dan beroperasi pada orbit sekitar 500 kilometer di atas Bumi.
Perangkat membawa SAR serta multispectral imager dalam satu satelit.
Resolusi spatial yang dicantumkan GalaxEye berada pada kisaran sekitar 1,2 hingga 3,6 meter tergantung mode dan sensor.
Multispectral imaging berarti kamera tidak hanya merekam warna merah, hijau dan biru seperti kamera biasa.
Sensor dapat melihat beberapa band spektrum tambahan.
Mission Drishti misalnya membawa band seperti near-infrared, coastal blue dan red edge.
Band tambahan dapat memberikan informasi yang tidak terlihat mata manusia.
Dalam pertanian, near-infrared dan red edge dapat membantu menganalisis kondisi vegetasi.
Tanaman sehat dan tanaman yang mengalami stres dapat memantulkan cahaya dengan pola berbeda.
Data satelit kemudian dapat digunakan untuk memetakan perbedaan tersebut dalam wilayah sangat luas.
GalaxEye mengatakan Mission Drishti mempunyai revisit frequency sekitar empat hari.
Revisit menunjukkan seberapa sering satelit dapat kembali mengamati sebuah lokasi.
Namun satu satelit mempunyai keterbatasan.
Karena itu perusahaan mempunyai ambisi membangun konstelasi lebih besar.
Reuters melaporkan GalaxEye berencana membangun jaringan sekitar 30 satelit selama lima tahun ke depan.
Semakin banyak satelit yang berada di orbit, semakin sering sebuah lokasi dapat diamati.
Hal tersebut sangat penting untuk kejadian yang berubah cepat.
Dalam pemantauan banjir misalnya, gambar satu minggu sekali mungkin tidak cukup.
Keadaan dapat berubah hanya dalam hitungan jam.
Dengan konstelasi besar, perusahaan dapat memperpendek waktu antara dua observasi.
GalaxEye sejauh ini telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$21 juta.
Perusahaan didirikan oleh engineer dari Indian Institute of Technology Madras atau IIT Madras.
Pada Agustus, startup juga mengakuisisi perusahaan engineering spacecraft StarOps yang berbasis di Bengaluru.
Akuisisi tersebut dimaksudkan memperkuat kemampuan manufaktur dan pengembangan satelit secara internal.
Langkah GalaxEye berlangsung ketika industri luar angkasa India mengalami perubahan besar.
Dahulu sebagian besar aktivitas antariksa negara tersebut berpusat pada badan antariksa pemerintah ISRO.
Sekarang pemerintah membuka lebih banyak ruang kepada perusahaan swasta.
India berharap industri luar angkasa komersialnya dapat mencapai nilai sekitar US$44 miliar dalam dekade ini.
Startup mulai muncul pada berbagai bidang.
Ada perusahaan yang mengembangkan roket, mesin, satelit hingga layanan data pengamatan Bumi.
GalaxEye memilih fokus pada Earth intelligence.
Pasar tersebut mempunyai nilai ekonomi besar karena citra satelit semakin banyak digunakan perusahaan yang sebenarnya bukan perusahaan luar angkasa.
Bank dapat menggunakannya untuk memantau proyek.
Perusahaan energi dapat memeriksa fasilitas.
Perusahaan agrikultur dapat mengetahui kondisi lahan.
Pemerintah dapat mengawasi pembangunan infrastruktur.
Reuters mengutip proyeksi SkyQuest Technology bahwa pasar commercial satellite imaging global yang bernilai sekitar US$6,55 miliar pada 2024 dapat meningkat menjadi sekitar US$20,15 miliar pada 2033.
Pertumbuhan tersebut mendorong persaingan semakin ketat.
Perusahaan seperti Planet, Maxar, BlackSky, ICEYE dan berbagai startup lainnya mempunyai pendekatan masing-masing.
Sebagian berfokus pada optical imaging dengan frekuensi tinggi.
Sebagian lainnya mengembangkan radar.
GalaxEye mencoba membedakan diri dengan memberikan kedua jenis data dari platform yang sama.
Nilai sebuah citra satelit juga mulai bergeser.
Pelanggan tidak selalu ingin membeli gambar mentah.
Mereka lebih membutuhkan jawaban.
Misalnya bukan hanya gambar sebuah pelabuhan, tetapi informasi mengenai berapa kapal yang masuk dan bagaimana aktivitas berubah selama satu minggu.
Di sinilah artificial intelligence dan software analytics mempunyai peran.
Sistem komputer dapat menganalisis banyak gambar dan menandai perubahan yang dianggap penting.
Dengan kombinasi optical dan SAR, AI memperoleh jenis data yang lebih kaya untuk dianalisis.
Paten AS yang diterima GalaxEye menjadi salah satu langkah untuk melindungi teknologi tersebut ketika perusahaan mulai memperluas bisnis internasional.
Namun keberhasilan jangka panjang tetap akan ditentukan oleh kualitas data, frekuensi pengamatan dan kemampuan menjual informasi kepada pelanggan.
Satu hal yang sudah terlihat adalah satelit modern semakin tidak hanya menjadi kamera yang mengambil foto dari luar angkasa.
Perangkat mulai menjadi sistem sensor yang mampu melihat Bumi dalam berbagai kondisi.
Ketika radar, kamera multispektral dan kecerdasan buatan digabungkan, wilayah yang tertutup awan ataupun berada dalam kegelapan tidak lagi berarti informasi harus terputus.
Teknologi seperti itulah yang sekarang coba dibawa GalaxEye menuju pasar global.