Teknologi
Hilmi An Naufal

Kasus OpenAI vs New York Times Bisa Tentukan Masa Depan Data Latih AI, Pengadilan Uji Batas “Fair Use”

Kasus OpenAI vs New York Times Bisa Tentukan Masa Depan Data Latih AI, Pengadilan Uji Batas “Fair Use”

08 September 2026 | 23:11

KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Salah satu pertarungan hukum paling penting dalam perkembangan kecerdasan buatan memasuki fase yang dapat menentukan bagaimana perusahaan AI menggunakan konten berhak cipta untuk melatih model mereka.

OpenAI dan Microsoft berhadapan dengan The New York Times serta sejumlah penulis dalam perkara hak cipta di pengadilan federal Amerika Serikat.

Persoalan utama yang diperdebatkan adalah apakah penggunaan buku, artikel berita dan karya berhak cipta untuk melatih model kecerdasan buatan dapat dianggap sebagai fair use atau penggunaan wajar berdasarkan hukum Amerika Serikat.

Jawaban atas pertanyaan tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap seluruh industri AI.

Model bahasa besar membutuhkan data dalam jumlah luar biasa banyak untuk belajar memahami pola bahasa.

Data tersebut dapat berasal dari website, buku, artikel, dokumentasi teknis dan berbagai sumber digital lainnya.

Perusahaan AI berpendapat proses pelatihan tidak sama dengan membuat salinan biasa dari sebuah karya.

Menurut mereka, model mempelajari pola statistik dari kumpulan data kemudian menggunakan pola tersebut untuk menghasilkan respons baru.

OpenAI dan Microsoft berargumen penggunaan data tersebut bersifat transformatif.

Dengan kata lain, materi asli digunakan untuk menciptakan teknologi dengan fungsi yang berbeda dari karya awalnya.

Namun The New York Times dan kelompok penulis mempunyai pandangan berbeda.

Mereka menuduh karya mereka digunakan tanpa izin untuk membangun produk komersial yang menghasilkan pendapatan besar bagi perusahaan AI.

Salah satu kekhawatiran utama adalah AI dapat menghasilkan jawaban yang membuat pengguna tidak lagi perlu membuka artikel atau membeli karya asli.

Jika chatbot dapat memberikan ringkasan sangat lengkap dari sebuah artikel, pengguna mungkin memilih membaca jawaban AI dibandingkan mengunjungi website penerbit.

Hal tersebut dapat berdampak terhadap trafik, pelanggan berbayar dan pendapatan iklan media.

Persoalan yang sama juga berlaku terhadap buku.

Penulis berpendapat apabila model AI mampu menghasilkan karya dengan gaya atau informasi yang sangat dekat dengan materi asli, teknologi tersebut dapat mengurangi nilai ekonomi karya yang digunakan untuk melatihnya.

OpenAI membantah pandangan tersebut.

Perusahaan menilai model AI tidak menyimpan seluruh materi pelatihan seperti database tradisional.

Model mempelajari hubungan dan pola dalam bahasa untuk kemudian menghasilkan respons berdasarkan permintaan pengguna.

Perkara tersebut sekarang berada di hadapan Hakim Sidney Stein di U.S. District Court for the Southern District of New York.

Reuters menyebut hakim nantinya harus menentukan apakah penggunaan materi berhak cipta dalam proses training AI memenuhi kriteria fair use.

Keputusan tersebut menjadi sangat penting karena pengadilan Amerika Serikat sebelumnya memberikan hasil berbeda pada beberapa perkara AI dan hak cipta.

Belum ada satu aturan sederhana yang dapat digunakan untuk seluruh jenis pelatihan AI.

Salah satu faktor yang akan diperiksa adalah seberapa transformatif penggunaan karya asli.

Pengadilan juga dapat melihat apakah penggunaan tersebut merugikan pasar ekonomi dari karya yang digunakan.

Konsep market harm atau kerugian pasar merupakan bagian penting dalam analisis fair use.

Jika teknologi baru dianggap menggantikan kebutuhan konsumen terhadap karya asli, posisi pemegang hak cipta dapat menjadi lebih kuat.

Sebaliknya, apabila penggunaan dianggap menciptakan produk yang sangat berbeda dan tidak menjadi pengganti karya asli, argumen fair use dapat memperoleh dukungan lebih besar.

Hasil perkara juga dapat memengaruhi cara perusahaan AI mengumpulkan data pada masa depan.

Jika pengadilan menyatakan penggunaan karya berhak cipta tanpa lisensi tidak termasuk fair use, perusahaan AI dapat menghadapi kebutuhan membeli lisensi dalam skala besar.

Biayanya berpotensi sangat tinggi.

Model AI membutuhkan data yang dapat terdiri dari miliaran hingga triliunan potongan teks.

Perusahaan kemudian harus membuat perjanjian dengan penerbit, platform maupun pemegang hak cipta.

Beberapa perusahaan AI sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah tersebut.

Perjanjian lisensi dengan media dan penerbit semakin umum dilakukan untuk memberikan akses resmi terhadap konten.

Namun sebagian besar model besar sudah dibangun menggunakan data internet yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Karena itu persoalannya bukan hanya bagaimana model berikutnya akan dilatih.

Perusahaan juga menghadapi pertanyaan mengenai data yang telah digunakan untuk model yang sudah tersedia sekarang.

Dampaknya dapat menjalar jauh melewati OpenAI.

Google, Anthropic, Meta, xAI dan berbagai perusahaan lain mengembangkan model menggunakan kumpulan data dalam jumlah besar.

Jika pengadilan menetapkan standar baru mengenai lisensi, praktik seluruh industri dapat berubah.

Perusahaan kecil juga dapat terkena dampak.

Raksasa teknologi mungkin mempunyai kemampuan finansial untuk membayar lisensi data bernilai besar.

Startup dengan pendanaan lebih terbatas belum tentu mampu melakukan hal yang sama.

Hal ini dapat membuat pengembangan model AI frontier menjadi semakin terkonsentrasi di perusahaan besar.

Sebaliknya, keputusan yang mendukung fair use dapat mempertahankan pendekatan industri yang sekarang banyak digunakan.

Namun persoalan mengenai bagaimana pencipta mendapatkan kompensasi kemungkinan tidak akan hilang.

Penulis, seniman, fotografer, musisi dan media terus menuntut transparansi mengenai apakah karya mereka digunakan untuk membangun teknologi AI.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar kecerdasan buatan tidak hanya berhubungan dengan kemampuan teknis model.

AI juga memaksa hukum yang dibuat jauh sebelum hadirnya machine learning untuk menjawab persoalan baru.

Ketika undang-undang hak cipta modern disusun, belum ada sistem yang dapat membaca jutaan buku dan artikel kemudian menggunakan pola yang dipelajarinya untuk menghasilkan teks baru dalam hitungan detik.

Sekarang pengadilan harus menentukan bagaimana prinsip lama diterapkan terhadap teknologi yang benar-benar baru.

Keputusan dalam kasus OpenAI, Microsoft, The New York Times dan kelompok penulis karena itu dapat menjadi salah satu preseden paling penting dalam perkembangan AI.

Jika hakim menetapkan batas yang jelas mengenai fair use, perusahaan AI, media dan pencipta konten akan mempunyai gambaran lebih pasti mengenai aturan permainan pada masa depan.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna