Teknologi
Hilmi An Naufal

Hacker Mulai Pakai Tim Agen AI untuk Serangan Siber, Ribuan Password Bisa Dicuri dalam Hitungan Jam

Hacker Mulai Pakai Tim Agen AI untuk Serangan Siber, Ribuan Password Bisa Dicuri dalam Hitungan Jam

08 September 2026 | 23:16

KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan mulai membawa perubahan besar dalam dunia kejahatan siber. Hacker kini tidak lagi hanya menggunakan chatbot AI untuk membantu menulis kode atau membuat email phishing.

Google menemukan pelaku ancaman mulai membangun sistem multi-agent AI yang mampu mengerjakan berbagai tahapan serangan secara otomatis.

Temuan tersebut diungkap Google Threat Intelligence Group atau GTIG berdasarkan data dari penanganan insiden, pemantauan kelompok ancaman dan sistem pertahanan Google.

Dalam beberapa bulan terakhir, peneliti melihat pola baru.

Pelaku tidak lagi hanya memberikan satu pertanyaan kepada model AI kemudian menggunakan jawabannya secara manual.

AI mulai disusun menjadi sejumlah agen yang mempunyai pekerjaan berbeda.

Satu agen dapat melakukan pemindaian.

Agen lainnya mengelola data yang ditemukan.

Sistem lain dapat mencoba mengatasi kegagalan ketika proses tidak berjalan sesuai rencana.

Semua komponen kemudian bekerja sebagai sebuah alur otomatis.

Google menyebut perubahan tersebut membuat serangan dapat berlangsung dengan keterlibatan manusia yang jauh lebih sedikit.

Dalam salah satu kasus, penyerang yang mempunyai motivasi finansial berhasil mengakses infrastruktur cloud sebuah organisasi.

Setelah itu mereka memasang framework multi-agent yang digunakan untuk menjalankan kampanye pencurian kredensial dalam skala besar.

Menurut Google, kurang dari enam jam dibutuhkan untuk merencanakan, membangun dan menjalankan kampanye tersebut.

AI membantu mengatur berbagai bagian pekerjaan secara bersamaan.

Sistem dapat mengelola pemindaian kerentanan, mengumpulkan kredensial pihak ketiga yang ditemukan dan menyesuaikan proses ketika terjadi masalah.

AI juga digunakan untuk membantu memindahkan sumber koneksi dan mengatur lalu lintas melalui lingkungan cloud yang telah disusupi.

Penggunaan sistem semacam ini membuat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan operator manusia melakukan banyak tahapan manual dapat berjalan jauh lebih cepat.

Google juga menemukan framework lain bernama Recon pada sebuah server command-and-control yang terekspos.

Framework tersebut mempunyai file instruksi bagi agen AI, knowledge files dan komponen otomatisasi lainnya.

Sistem dilaporkan digunakan untuk mengelola lebih dari 23.800 data rahasia yang telah dikumpulkan.

Data tersebut termasuk API key dan berbagai bentuk kredensial digital.

API key merupakan informasi yang digunakan aplikasi atau layanan untuk mendapatkan akses terhadap sebuah sistem.

Jika jatuh ke tangan pihak lain, key tertentu dapat digunakan untuk mengakses layanan tanpa harus mengetahui password pengguna secara langsung.

Itulah sebabnya perusahaan harus memperlakukan API key seperti password dan tidak menyimpannya secara sembarangan di source code maupun repository publik.

Perkembangan tersebut menunjukkan perbedaan besar antara AI agent dan chatbot biasa.

Chatbot tradisional umumnya menunggu pengguna memberikan instruksi.

Setelah menjawab, manusia harus menentukan langkah berikutnya.

AI agent dapat mempunyai tujuan kemudian melakukan berbagai tindakan untuk mencoba menyelesaikannya.

Sistem dapat mengevaluasi hasil suatu langkah lalu menentukan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Kemampuan tersebut memberikan manfaat besar untuk pekerjaan produktivitas.

AI agent dapat membantu programmer menguji aplikasi, mencari informasi atau mengotomatisasi pekerjaan administratif.

Namun teknologi yang sama juga dapat disalahgunakan.

Penjahat dapat mencoba membuat agen yang menjalankan pekerjaan berulang dengan kecepatan jauh lebih tinggi dibandingkan manusia.

Google juga melihat kelompok spionase yang berkaitan dengan China bereksperimen menggunakan AI untuk membantu pengembangan pipeline eksploitasi dan aktivitas setelah berhasil memperoleh akses.

Sementara kelompok lainnya menggunakan model AI untuk mengotomatisasi pemantauan sumber informasi tertentu.

Kelompok yang dikaitkan dengan Rusia misalnya diketahui menggunakan otomatisasi AI untuk memantau kanal Telegram dan mencari informasi yang dianggap relevan.

Namun Google menekankan satu hal penting.

Serangan siber yang sepenuhnya dijalankan AI tanpa keterlibatan manusia belum menjadi sesuatu yang umum.

Peneliti juga belum melihat pelaku secara luas menggunakan pipeline AI sepenuhnya otomatis untuk menemukan zero-day baru kemudian mengeksploitasinya terhadap target dunia nyata.

Artinya manusia masih mempunyai peran besar dalam sebagian besar serangan.

Tetapi jumlah pekerjaan yang dapat dialihkan kepada AI terus meningkat.

Hal tersebut dapat menjadi tantangan baru bagi tim keamanan.

Pada serangan tradisional, terdapat jeda waktu ketika pelaku harus memeriksa hasil pemindaian, memperbaiki script atau menentukan target berikutnya.

Proses tersebut memberikan waktu tambahan bagi tim keamanan untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Jika agen AI dapat mengambil keputusan tersebut dalam hitungan detik, jendela waktu untuk merespons menjadi lebih pendek.

Kecepatan akhirnya menjadi bagian penting dalam pertahanan siber.

Perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan manual terhadap log.

Sistem deteksi juga harus semakin otomatis agar mampu menghadapi serangan otomatis.

AI kemudian dapat digunakan di kedua sisi.

Penjahat menggunakannya untuk mempercepat serangan.

Perusahaan keamanan menggunakan teknologi serupa untuk mendeteksi pola tidak normal dan menghentikan aktivitas berbahaya.

Google mengatakan Gemini sendiri mendeteksi sejumlah penyalahgunaan tersebut dan menjalankan mekanisme keamanan yang tersedia.

Perusahaan kemudian dapat melakukan tindakan tambahan, termasuk menghentikan kampanye serta memblokir akun terkait.

Perlindungan kredensial menjadi semakin penting dalam kondisi seperti ini.

Banyak serangan besar sebenarnya tidak membutuhkan eksploitasi teknologi sangat rumit apabila pelaku sudah mempunyai password atau token yang sah.

Saat penyerang berhasil menggunakan kredensial asli, aktivitas mereka dapat terlihat seperti pengguna normal.

Perusahaan karena itu mulai mendorong penggunaan autentikasi multifaktor serta teknologi seperti passkey.

Sistem juga perlu menerapkan prinsip least privilege.

Artinya sebuah akun hanya mendapatkan akses yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaannya.

Jika satu akun berhasil diambil alih, penyerang tidak langsung mempunyai akses menuju seluruh sistem.

API key dan token lama juga perlu diperiksa.

Kredensial yang sudah tidak digunakan sebaiknya dicabut daripada dibiarkan tetap aktif selama bertahun-tahun.

Pengembang juga perlu berhati-hati ketika mengunggah source code menuju repository publik.

Password database, token cloud dan API key tidak boleh dimasukkan langsung ke dalam kode.

Perkembangan multi-agent hacking memperlihatkan bahwa kecerdasan buatan tidak otomatis menciptakan jenis kejahatan siber yang benar-benar baru.

Banyak tujuan penyerang tetap sama seperti sebelumnya, yaitu mencuri password, mengakses sistem dan mendapatkan data.

Yang berubah adalah skala dan kecepatannya.

Sebuah kelompok kecil berpotensi menjalankan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan lebih banyak operator.

Hal tersebut membuat biaya melakukan serangan semakin rendah.

Bagi pengguna biasa, prinsip keamanan dasar tetap sangat relevan.

Gunakan password berbeda untuk setiap akun penting, aktifkan autentikasi tambahan dan jangan memasukkan password pada halaman yang berasal dari tautan mencurigakan.

Sementara perusahaan perlu mempersiapkan diri menghadapi era ketika serangan otomatis tidak lagi hanya berupa script sederhana.

Agen AI mulai mampu menganalisis hasil, memperbaiki kesalahan dan menentukan langkah berikutnya.

Perlombaan keamanan siber pada akhirnya semakin menjadi pertarungan antara otomatisasi penyerang dan otomatisasi pertahanan.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna