Teknologi
Hilmi An Naufal

Hacker Curi Bitcoin Senilai Rp5,5 Triliun, Mayoritas Dikembalikan Setelah Celah Diperbaiki

Hacker Curi Bitcoin Senilai Rp5,5 Triliun, Mayoritas Dikembalikan Setelah Celah Diperbaiki

08 September 2026 | 22:04

KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Dunia cryptocurrency kembali diguncang salah satu peretasan terbesar tahun ini setelah ribuan Bitcoin dengan nilai sekitar US$340 juta atau sekitar Rp5,5 triliun berhasil diambil dari Liquid Network.

Namun kasus tersebut mempunyai akhir yang tidak biasa.

Sebagian besar dana yang dicuri justru dikembalikan oleh hacker setelah pihak pengelola memperbaiki celah keamanan yang diduga digunakan dalam serangan.

Liquid Network merupakan jaringan settlement Bitcoin yang diluncurkan pada 2018 oleh perusahaan teknologi cryptocurrency Blockstream.

Jaringan tersebut digunakan oleh sejumlah exchange dan perusahaan crypto untuk memindahkan aset secara lebih cepat.

Insiden keamanan membuat operasi Liquid Network dihentikan sementara.

Blockstream mengatakan pihak yang mengambil dana tersebut merupakan white hat hacker.

Istilah white hat biasanya digunakan untuk peneliti keamanan yang menemukan dan mengeksploitasi sebuah kelemahan dengan tujuan menunjukkan masalah agar dapat diperbaiki.

Namun dalam kasus ini, jumlah dana yang dipindahkan sangat besar sehingga insiden tetap menjadi perhatian serius.

Sekitar 4.000 Bitcoin disebut berhasil diambil dari wallet jaringan.

Dengan nilai Bitcoin saat kejadian, aset tersebut bernilai sekitar US$340 juta.

Laporan menyebut hacker diduga memanfaatkan sebuah bug untuk menarik dana.

Identitas hacker belum diketahui secara publik.

Pihak yang melakukan aksi tersebut disebut memberikan syarat bahwa dana akan dikembalikan apabila Blockstream memperbaiki celah yang ditemukan.

Setelah perbaikan dilakukan, sekitar 3.400 dari kurang lebih 4.000 Bitcoin yang dicuri akhirnya dikembalikan.

Meski sebagian besar aset sudah kembali, sekitar 600 Bitcoin masih berada di bawah kendali hacker.

Nilainya diperkirakan sekitar US$47 juta.

Jumlah itu tetap sangat besar.

Karena itu operasi Liquid Network belum langsung kembali berjalan normal.

Mantan eksekutif Blockstream Samson Mow mengatakan jaringan akan tetap dihentikan sementara sampai perbaikan dan peningkatan keamanan tambahan selesai dilakukan.

Kasus tersebut menjadi salah satu pencurian aset digital terbesar yang tercatat pada 2026.

Insiden juga kembali memperlihatkan salah satu tantangan terbesar industri cryptocurrency.

Teknologi blockchain sering dianggap sangat aman karena transaksi dicatat dalam jaringan terdistribusi.

Namun ekosistem crypto jauh lebih luas daripada blockchain itu sendiri.

Wallet, bridge, smart contract, exchange dan berbagai software pendukung tetap mempunyai kode yang dapat mengandung bug.

Satu kesalahan kecil dalam implementasi dapat memberikan akses terhadap aset dalam jumlah sangat besar.

Tidak seperti sistem perbankan konvensional, transaksi blockchain juga biasanya tidak dapat dibatalkan begitu saja.

Jika aset dikirim ke alamat hacker, tidak ada tombol sederhana yang dapat digunakan operator untuk membatalkan transaksi.

Itulah sebabnya pemulihan dana dalam kasus crypto hack sangat bergantung pada kondisi masing-masing kasus.

Dalam beberapa insiden, hacker menghilang bersama aset dan dana tidak pernah kembali.

Dalam kasus lain, perusahaan menawarkan bug bounty agar pelaku mau mengembalikan sebagian besar dana.

Ada pula kasus seperti Liquid Network, di mana hacker mengklaim melakukan aksi untuk menunjukkan adanya celah.

Meski dana dikembalikan, insiden semacam itu tetap mempunyai risiko besar.

Jika harga Bitcoin berubah selama proses pengembalian, nilai aset dapat berubah drastis.

Selain itu, jaringan harus menghentikan operasi untuk memastikan tidak ada serangan lanjutan.

Exchange dan perusahaan yang mengandalkan jaringan tersebut juga dapat mengalami gangguan transaksi.

Kepercayaan pengguna ikut dipertaruhkan.

Dalam industri keuangan, keamanan bukan hanya persoalan apakah dana akhirnya kembali.

Pengguna perlu yakin aset mereka tidak dapat dipindahkan tanpa otorisasi sejak awal.

Kasus ini juga menunjukkan pentingnya audit keamanan secara terus-menerus.

Software blockchain berkembang cepat.

Developer menambah fitur, memperbaiki performa dan mengubah berbagai bagian kode.

Setiap perubahan dapat memperkenalkan bug baru.

Audit manusia masih sangat penting, tetapi industri juga mulai menggunakan alat otomatis dan AI untuk mencari kelemahan.

Tujuannya sama dengan yang sekarang dilakukan perusahaan software besar seperti Microsoft.

Celah sebaiknya ditemukan oleh pihak yang mempertahankan sistem sebelum ditemukan penjahat.

Perbedaan di dunia cryptocurrency adalah nilai ekonomi yang langsung dapat dicuri sangat besar.

Jika hacker menemukan bug pada aplikasi biasa, ia mungkin mendapatkan akses terhadap data.

Jika bug ditemukan pada wallet atau sistem settlement crypto, pelaku dapat langsung memindahkan aset senilai ratusan juta dolar.

Hal tersebut membuat proyek crypto menjadi target sangat menarik bagi kelompok kriminal.

Pengguna individual juga perlu memahami bahwa keamanan aset digital tidak hanya bergantung pada harga cryptocurrency.

Risiko teknis juga harus dipertimbangkan.

Menyimpan dana pada platform atau layanan tertentu berarti pengguna mempercayai keamanan sistem tersebut.

Salah satu pendekatan untuk mengurangi risiko adalah tidak menempatkan seluruh aset pada satu layanan.

Pengguna juga sebaiknya menggunakan autentikasi dua faktor pada exchange, menjaga seed phrase secara offline dan tidak membuka tautan mencurigakan.

Namun langkah-langkah tersebut tidak dapat melindungi pengguna apabila kelemahan berada di tingkat infrastruktur layanan.

Untuk masalah seperti itu, tanggung jawab utama berada pada operator dan developer.

Liquid Network sendiri masih menahan operasinya sampai perbaikan tambahan selesai.

Keputusan tersebut diambil untuk memastikan celah benar-benar tertutup sebelum aktivitas transaksi kembali dibuka.

Kasus ini mempunyai sisi positif karena sebagian besar Bitcoin berhasil dikembalikan.

Namun nilai sekitar US$47 juta yang masih berada di tangan hacker menunjukkan insiden belum sepenuhnya selesai.

Bagi industri crypto, peretasan tersebut menjadi pengingat bahwa semakin besar nilai aset yang bergerak melalui sebuah jaringan, semakin besar pula insentif bagi pihak lain untuk mencari kelemahannya.

Teknologi blockchain mungkin sulit dimanipulasi pada lapisan dasarnya.

Namun software yang dibangun di atasnya tetap harus diperlakukan seperti software lainnya: dapat mempunyai bug dan harus terus diuji.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna