KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Teknologi kendaraan otonom tidak hanya berkembang pada mobil dan robot. Industri penerbangan kini juga mulai mengejar konsep pesawat yang dapat mengangkut barang tanpa pilot berada di dalam kokpit.
Startup asal Amerika Serikat, Poseidon Aerospace, mengumumkan telah memperoleh pendanaan Seri A sebesar US$60 juta menjelang uji terbang pertama pesawat kargo tanpa awak berukuran penuh miliknya.
Pesawat tersebut diberi nama Egret.
Poseidon menargetkan penerbangan uji pertamanya dapat dilakukan sebelum akhir 2026.
Putaran pendanaan dipimpin oleh TQ Ventures.
Investor baru seperti Hanwha Asset Management, G Squared dan JAWS juga ikut bergabung.
Sementara investor sebelumnya seperti Starship Ventures, Draper Associates dan Drover Ventures kembali menanamkan modal.
Sebelumnya perusahaan telah mendapatkan pendanaan awal sekitar US$11 juta.
Berbeda dengan banyak startup penerbangan masa depan yang mengembangkan pesawat listrik dengan kemampuan lepas landas vertikal atau eVTOL, Poseidon mengambil pendekatan lebih sederhana.
Egret tetap menggunakan bentuk pesawat fixed-wing seperti pesawat biasa.
Pesawat juga menggunakan mesin pembakaran konvensional.
Namun satu komponen besar dihilangkan: pilot di dalam pesawat.
Poseidon memanfaatkan teknologi penerbangan otonom dan remote piloting.
Pendiri sekaligus CEO Poseidon Aerospace David Zagaynov mengatakan fokus perusahaan adalah menurunkan biaya pengiriman barang melalui udara.
Menurut perusahaan, menghilangkan pilot memungkinkan desain pesawat dioptimalkan sepenuhnya untuk kargo.
Kokpit dan berbagai sistem pendukung kehidupan untuk manusia tidak lagi diperlukan.
Pengurangan komponen tersebut dapat mengurangi bobot kosong pesawat.
Ketika bobot turun, mesin yang diperlukan juga dapat dibuat lebih ringan dan efisien.
Ruang yang sebelumnya digunakan pilot dan sistem kokpit dapat dialihkan untuk membawa barang.
Konsep tersebut terdengar sederhana tetapi dapat mempunyai dampak ekonomi cukup besar.
Pilot merupakan bagian penting dalam biaya operasional penerbangan.
Selain gaji, operator harus mempertimbangkan batas maksimum jam terbang dan jadwal istirahat.
Pada penerbangan tertentu, maskapai juga membutuhkan pilot tambahan atau harus menanggung biaya akomodasi ketika kru menginap.
Pesawat tanpa pilot tidak mempunyai keterbatasan jam kerja manusia yang sama.
Secara teori, pesawat dapat digunakan lebih sering apabila sistem dan regulasi mengizinkan.
Poseidon melihat peluang untuk meningkatkan tingkat utilisasi armada.
Sebuah pesawat merupakan aset yang sangat mahal.
Semakin lama pesawat berada di darat tanpa menghasilkan pendapatan, semakin rendah efisiensi bisnis operator.
Dengan penerbangan otonom, perusahaan berharap pesawat dapat lebih mudah dipindahkan menuju daerah yang sedang mempunyai permintaan tinggi tanpa harus memikirkan lokasi kru.
Hal tersebut juga berpotensi mengubah sistem logistik udara.
Saat ini industri pengiriman banyak menggunakan model hub-and-spoke.
Barang dari berbagai daerah dikirim menuju hub besar terlebih dahulu sebelum diteruskan menuju tujuan berikutnya.
Poseidon membayangkan pesawatnya dapat lebih sering melakukan perjalanan point-to-point.
Barang dapat dikirim langsung antara dua lokasi tanpa selalu melewati hub utama.
Perusahaan pada awalnya menargetkan dua pasar.
Pertama adalah sektor pertahanan.
Pesawat tanpa awak dapat digunakan untuk mengirimkan logistik menuju daerah dengan infrastruktur terbatas atau lingkungan yang berisiko bagi pilot manusia.
Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika militer di berbagai negara meningkatkan penggunaan drone.
Pasar kedua adalah pengiriman kargo regional komersial.
Poseidon mempunyai strategi bisnis yang cukup menarik.
Perusahaan tidak berencana sekadar menjual pesawat kepada pelanggan.
Poseidon ingin mengoperasikan layanan pengiriman barangnya sendiri.
Artinya perusahaan berpotensi bersaing mendapatkan kontrak pengiriman dari perusahaan seperti UPS, FedEx maupun pelanggan logistik lainnya.
Egret bukan satu-satunya pesawat yang sedang dikembangkan.
Poseidon juga mempunyai varian bernama Heron untuk kebutuhan logistik lepas pantai.
Heron dirancang untuk membawa barang antara daratan, kapal maupun platform yang berada di laut.
Teknologi tanpa pilot dinilai menarik untuk operasi seperti itu karena penerbangan dapat berlangsung menuju daerah terpencil.
Namun jalan menuju layanan komersial masih panjang.
Industri penerbangan mempunyai standar keselamatan dan regulasi yang sangat ketat.
Mengizinkan sebuah pesawat kargo terbang tanpa pilot di dalamnya membutuhkan pembuktian bahwa sistem otonom maupun kendali jarak jauh dapat beroperasi secara aman.
Perusahaan juga harus mempertimbangkan apa yang terjadi apabila koneksi komunikasi terputus, sensor bermasalah atau terdapat gangguan teknis ketika pesawat berada di udara.
Regulator penerbangan seperti Federal Aviation Administration atau FAA mempunyai peran besar sebelum teknologi tersebut dapat digunakan secara komersial.
Poseidon menilai lingkungan regulasi Amerika Serikat sekarang lebih terbuka terhadap teknologi penerbangan baru dibandingkan beberapa tahun lalu.
Perusahaan sudah melakukan pengujian menggunakan pesawat skala seperempat bernama Seagull pada tahun lalu.
Kini perusahaan sedang membangun versi Egret berukuran penuh.
Pesawat tersebut mempunyai bentang sayap sekitar 50 kaki atau lebih dari 15 meter.
Poseidon juga memperluas fasilitasnya menggunakan bekas hanggar Angkatan Laut di Alameda, California.
Pendanaan baru akan membantu perusahaan mempercepat pembangunan pesawat sekaligus menambah tenaga kerja menjelang penerbangan perdana.
Konsep pesawat kargo tanpa pilot dapat menjadi salah satu perubahan besar dalam industri logistik apabila berhasil diterapkan.
Keuntungan utamanya bukan karena pesawat harus mempunyai bentuk futuristik.
Justru Poseidon berusaha mempertahankan banyak teknologi penerbangan yang sudah dikenal kemudian menghilangkan bagian yang menurut perusahaan paling membatasi utilisasi, yaitu kebutuhan membawa kru.
Strategi tersebut berbeda dari banyak startup penerbangan yang mencoba mengubah hampir seluruh aspek pesawat sekaligus.
Penggunaan mesin konvensional juga berarti Egret tidak harus menunggu perkembangan baterai atau infrastruktur hidrogen.
Namun pada akhirnya keberhasilan teknologi tetap bergantung pada keselamatan, biaya dan penerimaan regulator.
Uji terbang pertama yang ditargetkan sebelum akhir 2026 karena itu akan menjadi tahap penting.
Apabila Egret berhasil menunjukkan bahwa pesawat kargo berukuran besar dapat dioperasikan dengan aman tanpa pilot di dalamnya, konsep tersebut dapat membuka model baru dalam industri pengiriman udara.
Pesawat kargo masa depan mungkin tidak selalu mempunyai kokpit.
Sebagian di antaranya dapat berupa ruang kargo penuh dengan sistem komputer yang menjalankan penerbangan dari lepas landas hingga mendarat.