Keboncinta.com-- Kemampuan berkonsentrasi pada anak kerap dianggap sebagai bakat yang sudah dimiliki sejak lahir. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Konsentrasi merupakan kemampuan yang dapat dilatih dan dikembangkan secara bertahap sejak usia dini.
Layaknya otot yang menjadi lebih kuat ketika dilatih secara rutin, kemampuan fokus juga membutuhkan stimulasi dan pembiasaan. Otak manusia memiliki kemampuan untuk memusatkan perhatian pada suatu aktivitas dalam waktu tertentu, tetapi kemampuan tersebut perlu terus dioptimalkan melalui latihan yang sesuai.
Anak yang mudah kehilangan fokus belum tentu tidak memiliki kemampuan berkonsentrasi. Ada beberapa keterampilan yang berkaitan erat dengan kemampuan tersebut.
Pertama adalah mengarahkan perhatian, yakni kemampuan anak untuk memusatkan fokus pada aktivitas atau hal yang sedang dikerjakan.
Kedua, menyaring gangguan atau distraksi. Kemampuan ini membuat anak dapat mengabaikan berbagai hal yang mengganggu sehingga tetap menjalankan tugasnya.
Baca Juga: Anak Sedang Tantrum? Ini 6 Cara Bijak Menenangkan Anak Tanpa Kekerasan
Ketiga, mempertahankan perhatian sampai aktivitas selesai. Anak perlu belajar menjaga fokus meskipun kegiatan yang dilakukan membutuhkan waktu dan usaha.
Apabila salah satu kemampuan tersebut belum berkembang dengan baik, anak dapat terlihat mudah terdistraksi, cepat bosan, atau kesulitan menyelesaikan kegiatan yang membutuhkan perhatian.
Kemampuan fokus tidak berkembang secara instan. Anak membutuhkan pengalaman dan latihan yang dilakukan secara konsisten agar semakin terbiasa berkonsentrasi.
Orang tua dapat membantu dengan menciptakan rutinitas yang mendukung sekaligus memberikan aktivitas yang sesuai dengan usia anak. Latihan juga sebaiknya dilakukan secara bertahap agar anak tidak merasa terbebani.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk membantu meningkatkan konsentrasi anak.
Lingkungan memiliki pengaruh terhadap kemampuan anak dalam mempertahankan perhatian. Saat belajar, sebaiknya anak berada di tempat yang tenang dan nyaman.
Televisi, penggunaan gadget yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar, serta suara bising sebaiknya dikurangi. Semakin sedikit gangguan di sekitar anak, semakin mudah pula baginya untuk mengarahkan perhatian pada tugas yang sedang dikerjakan.
Baca Juga: Perundungan Online Makin Mengkhawatirkan, Ini Dampak dan Cara Mencegah Cyberbullying
Melatih konsentrasi tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan belajar formal. Orang tua dapat menggunakan permainan yang sesuai dengan usia anak, seperti puzzle, menyusun balok, menggambar, atau aktivitas lain yang membutuhkan perhatian.
Mulailah dengan kegiatan sederhana dalam waktu singkat. Setelah anak mulai terbiasa, durasi maupun tingkat kesulitannya dapat ditingkatkan secara perlahan.
Cara ini membuat latihan konsentrasi terasa lebih menyenangkan sehingga anak tidak menganggap aktivitas tersebut sebagai tekanan.
Teknik Pomodoro dapat digunakan untuk membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi. Salah satu pola yang dapat diterapkan adalah 25 menit untuk mengerjakan tugas, kemudian dilanjutkan dengan istirahat selama 5 menit.
Penggunaan timer dapat membantu anak memahami batas waktu dan membangun kebiasaan menyelesaikan tugas secara teratur. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Untuk anak yang lebih kecil, durasi fokus dapat dibuat lebih pendek.