Keboncinta.com-- Membuat yogurt sendiri di rumah memang terdengar sederhana. Susu dipanaskan, dicampur starter, lalu didiamkan. Beberapa jam kemudian, jadilah yogurt kental yang segar. Namun praktiknya tidak selalu semulus teori. Ada yang hasilnya terlalu cair, terlalu asam, bahkan berbau aneh. Padahal, bahan yang dipakai sama. Lalu di mana letak kesalahannya?
Sering kali masalahnya bukan pada resep, melainkan pada detail kecil yang dianggap sepele.
Kesalahan paling umum adalah suhu susu yang tidak tepat saat mencampurkan starter. Banyak orang terburu-buru memasukkan yogurt starter ketika susu masih terlalu panas. Akibatnya, bakteri baik justru mati sebelum sempat bekerja. Fermentasi pun gagal total. Sebaliknya, jika susu sudah terlalu dingin, bakteri tidak cukup aktif untuk berkembang. Yogurt mungkin tetap terbentuk, tetapi teksturnya cenderung encer dan kurang stabil.
Ada juga yang kurang memperhatikan kualitas starter. Tidak semua yogurt di pasaran mengandung kultur hidup aktif dalam jumlah cukup. Beberapa produk sudah melalui proses tambahan yang membuat bakteri probiotiknya berkurang. Jika starter yang dipakai minim bakteri hidup, hasil fermentasinya tentu tidak maksimal. Yogurt bisa saja terbentuk, tetapi tidak sekental dan seoptimal yang diharapkan.
Hal lain yang sering terlewat adalah kebersihan alat. Proses fermentasi melibatkan mikroorganisme, sehingga kebersihan wadah sangat penting. Jika sendok atau toples tidak benar-benar bersih, bakteri liar bisa ikut berkembang. Hasilnya bukan yogurt, melainkan cairan yang berbau tajam atau berlendir. Banyak orang mengira ini sekadar “gagal tekstur”, padahal sebenarnya sudah terkontaminasi.
Waktu fermentasi juga kerap menjadi penyebab hasil yang tidak konsisten.