Bahaya "Gentle Parenting" yang Salah Kaprah: Ketika Anak Hilang Rasa Hormat Karena Orang Tua Terlalu Takut Menegur

Bahaya "Gentle Parenting" yang Salah Kaprah: Ketika Anak Hilang Rasa Hormat Karena Orang Tua Terlalu Takut Menegur

26 Februari 2026 | 20:14

keboncinta.com--  Belakangan ini, istilah gentle parenting menjadi primadona di kalangan orang tua muda yang ingin memutus rantai pola asuh otoriter masa lalu. Namun, di balik niat mulia untuk memanusiakan anak, terselip sebuah jebakan berbahaya yang sering kali tidak disadari, yaitu ketika kelembutan berubah menjadi pembiaran atau pola asuh permisif yang kebablasan. Banyak orang tua yang salah kaprah mengartikan empati sebagai keharusan untuk selalu membuat anak merasa senang dan menghindari konflik sama sekali. Akibatnya, orang tua menjadi terlalu takut untuk memberikan teguran tegas atau menetapkan batasan yang jelas karena khawatir akan melukai perasaan anak atau merusak ikatan emosional yang telah dibangun. Ketakutan inilah yang justru menjadi awal dari hilangnya wibawa orang tua di mata anak, karena anak tidak melihat sosok pemimpin yang tangguh dan bisa diandalkan di dalam rumah.

Ketika batasan atau boundaries ditiadakan demi menjaga label "gentle," anak-anak akan mulai merasa bahwa mereka memegang kendali penuh atas situasi. Secara psikologis, seorang anak yang dibiarkan memimpin tanpa arahan yang tegas justru akan merasa tidak aman karena mereka sebenarnya belum memiliki kematangan emosional untuk membuat keputusan besar. Mereka akan terus mendorong batasan tersebut untuk mencari di mana garis akhirnya, dan jika orang tua terus mengalah atau terus-menerus bernegosiasi untuk hal-hal yang bersifat prinsip, rasa hormat anak terhadap otoritas orang tua akan luntur secara perlahan. Anak tidak lagi melihat instruksi orang tua sebagai sesuatu yang penting untuk dipatuhi, melainkan sebagai saran opsional yang bisa diabaikan atau ditawar sesuai keinginan hati mereka.

Penting untuk dipahami bahwa menjadi orang tua yang lembut tidak berarti menjadi orang tua yang lemah atau penakut. Esensi dari gentle parenting yang sebenarnya adalah tetap menghargai perasaan anak namun tetap teguh pada aturan yang telah ditetapkan. Validasi emosi, seperti mengakui bahwa anak sedang marah atau kecewa, harus tetap dibarengi dengan konsekuensi logis jika ada perilaku yang melanggar batas. Menegur dengan tegas saat anak melakukan kesalahan bukan berarti Anda sedang menindasnya, melainkan sedang memberikan navigasi moral yang sangat mereka butuhkan untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Tanpa ketegasan, anak akan tumbuh dengan mentalitas "serba boleh" yang nantinya akan membuat mereka sulit beradaptasi dengan realitas dunia luar yang penuh dengan aturan dan batasan sosial.

Anak-anak tidak membutuhkan teman sebaya dalam sosok orang tua; mereka membutuhkan nahkoda yang mampu mengarahkan kapal saat badai emosi melanda. Cinta yang tulus tidak hanya berarti memberikan pelukan dan kata-kata manis, tetapi juga keberanian untuk mengatakan "tidak" demi kebaikan jangka panjang sang anak. Jangan biarkan konsep pengasuhan yang modern membuat Anda kehilangan insting kepemimpinan sebagai orang tua. Keseimbangan antara empati yang tinggi dan otoritas yang sehat adalah kunci agar anak tumbuh dengan rasa aman sekaligus memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap orang tuanya. Dengan cara ini, Anda tidak hanya membesarkan anak yang bahagia, tetapi juga anak yang memiliki integritas dan menghargai nilai-nilai disiplin dalam kehidupan.

Tags:
Disiplin Pola Asuh Psikologi Anak Tips Parenting Gentle Parenting

Komentar Pengguna