Keboncinta.com-- Kalimat “buku adalah jendela dunia” mungkin sudah terlalu sering kita dengar. Ia terpampang di dinding sekolah, di perpustakaan, bahkan di caption media sosial. Saking seringnya diulang, banyak orang tak lagi benar-benar memikirkan maknanya. Padahal, jika direnungi lebih dalam, ungkapan ini bukan sekadar slogan motivasi. Ia menyimpan filosofi yang sangat kuat tentang bagaimana manusia belajar, tumbuh, dan memahami realitas.
Coba bayangkan sebuah jendela. Ia tidak memindahkan kita ke tempat lain, tetapi melalui jendela kita bisa melihat dunia luar tanpa harus melangkah keluar. Kita bisa menyaksikan hujan turun, orang berlalu-lalang, matahari terbit, atau langit yang perlahan menggelap. Jendela memberi akses pada sesuatu yang lebih luas dari ruang tempat kita berdiri.
Melalui buku, seseorang yang tidak pernah keluar dari desanya bisa mengenal gurun di Timur Tengah, hutan Amazon, atau musim dingin di Eropa. Seorang anak yang belum pernah naik pesawat bisa memahami sejarah peradaban dunia, teori sains modern, hingga kisah para tokoh besar yang mengubah arah zaman. Buku tidak memindahkan tubuh, tetapi ia memindahkan kesadaran.
Dalam sejarah peradaban, buku memang selalu menjadi alat transformasi. Lihat saja bagaimana karya-karya seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hirata membuka mata banyak orang tentang realitas pendidikan di daerah terpencil. Atau bagaimana novel Bumi Manusia dari Pramoedya Ananta Toer membuat pembaca memahami pergulatan identitas dan kolonialisme dari sudut pandang yang berbeda. Buku tidak sekadar memberi informasi; ia mengajak kita merasakan, memikirkan ulang, bahkan mempertanyakan apa yang selama ini kita anggap biasa.
Ungkapan “jendela dunia” juga berkaitan dengan literasi. Data dari berbagai survei internasional seperti PISA yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan bahwa tingkat literasi sangat memengaruhi kualitas sumber daya manusia suatu negara. Masyarakat yang terbiasa membaca cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis, empati yang lebih luas, dan daya analisis yang lebih tajam. Artinya, buku bukan hanya membuka wawasan, tetapi juga membentuk karakter.
Namun, di era digital seperti sekarang, sebagian orang merasa buku mulai tergeser. Informasi bisa diperoleh dalam hitungan detik lewat gawai. Video singkat, ringkasan instan, dan konten cepat saji terasa lebih praktis. Lalu, apakah buku masih relevan sebagai “jendela dunia”?
Justru di sinilah letak keunikannya. Buku mengajarkan kedalaman.