Puisi Hanya Milik Indonesia? Menelusuri Jejak Sastra yang Mendunia

Puisi Hanya Milik Indonesia? Menelusuri Jejak Sastra yang Mendunia

26 Februari 2026 | 18:42

Keboncinta.com-- Sebagian orang mungkin pernah bertanya, apakah puisi itu khas Indonesia? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi menarik. Apalagi jika kita tumbuh dengan pantun, syair, gurindam, atau membaca karya-karya penyair besar di bangku sekolah. Rasanya puisi begitu lekat dengan identitas budaya kita.

Namun jika menoleh lebih jauh, puisi bukanlah milik satu bangsa. Ia adalah salah satu bentuk ekspresi manusia yang paling tua dan paling universal.

Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah menuliskan atau melisankan puisi untuk menyampaikan perasaan, doa, kisah kepahlawanan, hingga kritik sosial. Di Yunani Kuno, misalnya, epos seperti Iliad dan Odyssey karya Homer menjadi fondasi sastra Barat. Di Persia, dunia mengenal Jalaluddin Rumi dengan bait-bait mistiknya yang hingga kini dikutip di berbagai belahan dunia. Di Inggris, nama William Shakespeare tidak hanya dikenal lewat drama, tetapi juga soneta-sonetanya yang abadi.

Di Asia Timur, Tiongkok memiliki tradisi puisi klasik sejak Dinasti Tang. Jepang mengenal haiku puisi pendek yang padat makna. India punya wiracarita dan syair-syair religius yang diwariskan lintas generasi. Artinya, hampir setiap peradaban besar memiliki bentuk puisinya sendiri.

Indonesia pun tidak kalah kaya. Tradisi lisan seperti pantun Melayu, syair, dan gurindam sudah hidup jauh sebelum konsep sastra modern diperkenalkan. Puisi dalam bentuk mantra dan tembang juga menjadi bagian dari budaya Nusantara. Ketika memasuki era modern, muncul nama-nama seperti Chairil Anwar yang membawa gaya baru dalam perpuisian Indonesia. Puisinya tidak lagi terikat rima klasik, melainkan lebih bebas, personal, dan penuh gejolak zaman.

Yang menarik, meskipun bentuknya berbeda-beda, fungsi puisi di berbagai belahan dunia hampir serupa. Ia menjadi ruang untuk merangkum emosi dalam bahasa yang padat. Ia memadatkan pengalaman manusia ke dalam kata-kata yang kadang lebih kuat daripada paragraf panjang. Puisi bisa menjadi suara cinta, protes, doa, bahkan perlawanan.

Mengapa hampir semua budaya memiliki puisi? Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang mencari makna. Saat prosa terasa terlalu biasa, puisi hadir untuk memberi irama, simbol, dan kedalaman.

Tags:
Pendidikan Sastra Berita Pendidikan Pecinta Sastra Dunia Sastra

Komentar Pengguna