KEBONCINTA.COM – Persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik atau TKA 2026 tidak hanya dilakukan melalui latihan soal di sekolah. SMAN 1 Sabang, Aceh, memilih melibatkan orang tua agar siswa memperoleh pendampingan yang berkelanjutan ketika berada di sekolah maupun di rumah.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri dari sisi akademik sekaligus menjaga kondisi mental menjelang pelaksanaan TKA.
Kepala SMAN 1 Sabang Helmi mengatakan sekolah telah menggelar pertemuan bersama orang tua siswa untuk membangun komitmen dalam mendampingi anak menghadapi tes.
Menurut sekolah, persiapan TKA tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada peserta didik.
Sekolah mempunyai tanggung jawab memberikan pembelajaran dan pendampingan akademik, sementara keluarga mempunyai peranan penting ketika siswa menjalani proses belajar di rumah.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuat pola pendampingan berjalan secara konsisten.
Pertemuan antara sekolah dan orang tua juga digunakan untuk menyamakan pemahaman mengenai cara mendukung siswa.
Dengan persepsi yang sama, peserta didik diharapkan tidak menerima tuntutan yang berbeda antara lingkungan sekolah dan keluarga.
Persiapan akademik tetap menjadi bagian penting.
Siswa perlu memahami materi yang menjadi bagian dari TKA serta membiasakan diri menghadapi bentuk asesmen yang akan digunakan.
Namun sekolah juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik.
Tekanan berlebihan menjelang asesmen berpotensi membuat siswa merasa terbebani.
Karena itu, dukungan dari orang tua diharapkan membuat peserta didik tetap mempunyai motivasi dan rasa percaya diri.
Pendampingan dapat dilakukan dengan menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah, membantu siswa mengatur waktu dan memastikan mereka memperoleh kesempatan beristirahat.
Orang tua juga dapat membantu anak membangun rutinitas belajar tanpa menciptakan tekanan yang berlebihan.
Sementara sekolah mempunyai peranan memastikan materi pembelajaran dan latihan yang diberikan benar-benar relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Kerja sama tersebut semakin penting karena pendaftaran TKA jenjang SMA, MA, SMK dan sederajat masih berlangsung.
Kemendikdasmen menetapkan pendaftaran TKA 2026 mulai 27 Juli hingga 27 September 2026.
Setelah pendaftaran, tahapan berikutnya adalah simulasi yang dijadwalkan berlangsung 21 sampai 27 September.
Gladi bersih kemudian dilakukan pada 5 hingga 18 Oktober 2026.
Pelaksanaan utama TKA berlangsung secara bertahap pada akhir Oktober hingga awal November.
Berdasarkan jadwal Kemendikdasmen, pelaksanaan TKA utama secara keseluruhan berada pada rentang 26 Oktober hingga 8 November 2026.
Dalam informasi terbaru penyelenggaraan, gelombang pertama dijadwalkan berlangsung pada 26 sampai 29 Oktober.
Gelombang kedua kemudian berlangsung pada 2 sampai 5 November.
TKA diselenggarakan sebagai asesmen akademik terstandar.
Tujuannya antara lain memberikan informasi mengenai capaian akademik individu peserta didik yang dapat diperbandingkan secara lebih objektif.
Kemendikdasmen menegaskan TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa dari sekolah.
Keikutsertaan dalam TKA juga tidak dipungut biaya.
Namun hasilnya dapat mempunyai manfaat bagi siswa yang berencana melanjutkan pendidikan.
Salah satunya digunakan sebagai validator nilai rapor dalam proses Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP.
Hal tersebut membuat banyak siswa kelas akhir memberikan perhatian cukup besar terhadap pelaksanaan TKA.
Namun sekolah tetap perlu memastikan siswa tidak melihat asesmen tersebut sebagai sumber tekanan berlebihan.
Persiapan yang terencana dinilai lebih penting dibandingkan belajar secara berlebihan menjelang hari pelaksanaan.
Selain siswa, satuan pendidikan juga mempunyai sejumlah pekerjaan administratif.
Data peserta harus dipastikan benar agar tidak menimbulkan masalah ketika pelaksanaan maupun penerbitan hasil.
Kemendikdasmen sebelumnya meminta sekolah memanfaatkan masa pendaftaran untuk melakukan verifikasi dan validasi data peserta.
Dengan demikian, persiapan TKA melibatkan banyak pihak.
Operator sekolah menangani data, guru membantu penguatan kemampuan akademik, siswa menjalani proses belajar dan keluarga memberikan dukungan dari rumah.
SMAN 1 Sabang mencoba memperkuat bagian terakhir tersebut melalui pertemuan bersama orang tua.
Sekolah ingin keluarga memahami bahwa dukungan terhadap siswa bukan hanya berupa dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi.
Kondisi mental dan kepercayaan diri juga harus diperhatikan.
Peserta didik membutuhkan lingkungan yang membuat mereka tetap nyaman belajar.
Komunikasi antara sekolah dengan orang tua juga memungkinkan masalah yang dihadapi siswa dapat diketahui lebih cepat.
Apabila seorang siswa mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tertentu, guru dan orang tua dapat bekerja sama menentukan bentuk pendampingan.
Sebaliknya, apabila masalahnya berkaitan dengan rasa khawatir atau tekanan menjelang tes, dukungan dapat diarahkan kepada penguatan motivasi.
Pendekatan semacam ini membuat persiapan TKA menjadi lebih menyeluruh.
Sekolah tidak hanya mengejar kesiapan siswa menjawab soal, tetapi juga memastikan peserta didik berada dalam kondisi yang mendukung ketika mengikuti asesmen.
Bagi siswa, waktu menuju pelaksanaan utama masih dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri secara bertahap.
Latihan yang konsisten, memahami materi dan mengetahui format tes dapat menjadi bagian dari persiapan.
Siswa juga tidak perlu membandingkan dirinya secara berlebihan dengan teman.
Setiap peserta mempunyai kemampuan dan bidang yang perlu diperkuat masing-masing.
Peranan guru adalah membantu mengidentifikasi kebutuhan tersebut.
Sedangkan orang tua dapat menjadi pihak yang memberikan dukungan ketika siswa berada di rumah.
SMAN 1 Sabang berharap kolaborasi tersebut dapat terus berjalan sampai pelaksanaan TKA selesai.
Dengan pembagian peran yang jelas, siswa diharapkan dapat menghadapi TKA dengan kondisi akademik dan mental yang lebih baik.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa persiapan asesmen tidak harus hanya berpusat pada peserta didik.
Ketika sekolah dan keluarga mempunyai pemahaman yang sama, siswa dapat memperoleh lingkungan belajar yang lebih konsisten dan suportif menjelang TKA 2026.