Berita
Hilmi An Naufal

2.389 Pelajar Madrasah Ikuti Kemah Pramuka Sulsel 2026 di Gowa, Ada Literasi Digital hingga Isu Ekoteologi

2.389 Pelajar Madrasah Ikuti Kemah Pramuka Sulsel 2026 di Gowa, Ada Literasi Digital hingga Isu Ekoteologi

03 September 2026 | 06:36

KEBONCINTA.COM – Sebanyak 2.389 pelajar madrasah dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan berkumpul di Kabupaten Gowa untuk mengikuti Kemah Pramuka Madrasah Provinsi atau KPMP Sulawesi Selatan Tahun 2026.

Kegiatan berlangsung di Bumi Perkemahan Cadika Limbung, Kabupaten Gowa, mulai 2 hingga 5 September 2026.

Ribuan peserta berasal dari kelompok Pramuka Penggalang dan Penegak yang mewakili berbagai madrasah di Sulawesi Selatan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Ali Yafid menyebut total peserta terdiri dari 1.089 Pramuka Penggalang dan 1.300 Pramuka Penegak.

Jumlah tersebut belum termasuk pembina, pendamping dan unsur lain yang terlibat selama pelaksanaan kegiatan.

Jika seluruh pendamping dan pendukung dihitung, jumlah orang yang berada di kawasan perkemahan disebut mendekati 5.000 orang.

Sekitar 300 kavling tenda digunakan untuk menampung peserta selama kegiatan berlangsung.

Kabupaten Gowa sebagai tuan rumah mengirimkan 27 regu dan disebut menjadi salah satu daerah dengan jumlah perwakilan terbanyak.

Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin mengapresiasi Kementerian Agama Sulawesi Selatan yang mempercayakan daerah tersebut sebagai lokasi pelaksanaan KPMP 2026.

Menurutnya, kegiatan kepramukaan mempunyai fungsi lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas perkemahan.

Pramuka menjadi ruang pendidikan karakter yang dapat melatih kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan serta kemampuan bekerja sama.

Nilai tersebut dinilai penting bagi peserta didik madrasah dalam menghadapi tantangan kehidupan maupun perkembangan zaman.

KPMP Sulsel 2026 juga dirancang dengan materi yang lebih luas.

Peserta tidak hanya menjalani berbagai kegiatan kepramukaan tradisional, tetapi memperoleh ruang untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.

Salah satunya adalah literasi digital.

Kemampuan memahami dan menggunakan teknologi secara tepat semakin dibutuhkan karena pelajar hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan media sosial dan berbagai platform digital.

Literasi digital diharapkan membantu peserta tidak hanya terampil menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Selain teknologi, kegiatan tahun ini membawa perhatian cukup besar terhadap persoalan lingkungan.

Salah satu tema yang diangkat adalah ekoteologi.

Pendekatan tersebut menghubungkan kepedulian terhadap alam dengan nilai dan tanggung jawab keagamaan.

Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama Farid F. Saenong menjelaskan persoalan lingkungan selama ini sering disampaikan melalui pendekatan ilmu pengetahuan.

Namun tidak seluruh lapisan masyarakat mudah memahami penjelasan ilmiah yang kompleks.

Pendekatan keagamaan kemudian dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Pesan tersebut juga diterapkan dalam kegiatan nyata.

Pada pembukaan KPMP, peserta dan sejumlah pejabat melakukan penanaman bibit pohon secara simbolis.

Penanaman pohon menjadi simbol bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Bagi peserta didik madrasah, kegiatan tersebut diharapkan membuat persoalan lingkungan tidak hanya dipahami sebagai materi pembelajaran di kelas.

Pelajar dapat melihat bahwa nilai keagamaan juga mempunyai hubungan dengan perilaku manusia terhadap alam.

Selain kepedulian lingkungan, aspek keagamaan menjadi bagian penting dalam rangkaian KPMP.

Peserta mengikuti salat berjemaah, kajian agama hingga kegiatan salat istisqa atau salat meminta hujan.

Sejumlah perlombaan bernuansa keagamaan juga diselenggarakan.

Salah satunya adalah lomba azan.

Perpaduan antara kepramukaan dan pembinaan keagamaan diharapkan menghasilkan peserta didik yang tidak hanya tangguh dan mandiri, tetapi juga mempunyai karakter dan akhlak yang kuat.

Kementerian Agama ingin nilai kebangsaan dan keagamaan berjalan secara beriringan.

Pendidikan madrasah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik dengan nilai akademik yang baik.

Integritas, tanggung jawab, toleransi, kemampuan bekerja sama serta kecintaan terhadap bangsa juga menjadi bagian yang perlu dibangun.

Kegiatan perkemahan memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan berbagai kemampuan tersebut.

Berada bersama ribuan peserta dari daerah berbeda membuat pelajar harus berkomunikasi, bekerja sama dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Peserta juga mempunyai kesempatan memperluas pertemanan dengan siswa madrasah dari kabupaten dan kota lainnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu nilai yang tidak selalu diperoleh melalui kegiatan pembelajaran rutin di sekolah.

Ali Yafid berharap peserta memanfaatkan KPMP sebagai ruang pembelajaran.

Pelajar tidak hanya mengikuti setiap agenda untuk menyelesaikan rangkaian perkemahan, tetapi membawa pengalaman yang diperoleh kembali ke lingkungan madrasah, keluarga dan masyarakat.

Peserta didorong menjadi Pramuka yang terampil sekaligus dapat memberikan teladan.

Sikap menghormati perbedaan juga menjadi salah satu nilai yang ingin diperkuat.

Hal tersebut penting karena peserta berasal dari latar daerah dan lingkungan pendidikan yang beragam.

Kemah Pramuka Madrasah juga menjadi kesempatan untuk memperkuat persahabatan antarpelajar.

Dalam jangka panjang, jejaring tersebut dapat membantu generasi muda memahami keberagaman sekaligus mempertahankan rasa kebangsaan.

Pelaksanaan KPMP di Gowa masih berlangsung hingga Sabtu, 5 September 2026.

Selama beberapa hari, ribuan peserta mengikuti rangkaian pembinaan kepramukaan, karakter, keagamaan, lingkungan dan keterampilan masa kini.

Dengan jumlah peserta mencapai 2.389 orang, KPMP Sulsel 2026 menjadi salah satu pertemuan besar pelajar madrasah tingkat provinsi.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya meninggalkan pengalaman perkemahan, tetapi juga membentuk generasi madrasah yang mandiri, disiplin, berakhlak, peduli lingkungan dan mampu menghadapi perubahan teknologi.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna