Pendidikan
Hilmi An Naufal

Youth Summit 2026: Sebanyak 29 Persen Pelajar Merasa Beban Akademik Sangat Berat

Youth Summit 2026: Sebanyak 29 Persen Pelajar Merasa Beban Akademik Sangat Berat

27 Agustus 2026 | 06:42

Keboncinta – Forum nasional Youth Summit 2026 menyoroti kesehatan mental, kesiapan digital, dan pembenahan kurikulum sebagai tiga persoalan penting dalam pendidikan menengah Indonesia.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Alumni SMA Negeri 1 Semarang atau ALJIRO SMANSA bersama SDGs Center Universitas Diponegoro di Semarang pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Forum diikuti sekitar 250 pelajar dan guru pendamping dari sejumlah wilayah, mulai Sumatera hingga Papua. Kegiatan tersebut menghasilkan dokumen kebijakan berjudul “Pendidikan Menengah sebagai Fase Transisi Strategis”.

Dokumen tersebut kemudian diserahkan kepada perwakilan pemerintah sebagai bahan rekomendasi dalam pembenahan pendidikan menengah.

Rekomendasi disusun berdasarkan riset yang melibatkan lebih dari 700 siswa SMA di Indonesia. Hasilnya menunjukkan sekitar 29 persen responden menilai beban akademik yang mereka hadapi sangat berat.

Sebagai salah satu alternatif penanganan, SDGs Center Undip mendorong pengembangan program Konselor Sebaya. Program yang telah diuji coba di SMAN 1 Semarang tersebut memberikan pembekalan kepada siswa untuk membantu memberikan dukungan psikologis awal kepada teman.

Konselor sebaya tidak dimaksudkan menggantikan psikolog, guru bimbingan dan konseling, maupun tenaga kesehatan. Siswa yang menghadapi persoalan serius tetap perlu diarahkan kepada tenaga profesional.

Forum juga menemukan bahwa kepemilikan gawai dan akses internet di kalangan pelajar telah berada di atas 80 persen. Namun, pemanfaatannya masih banyak terbatas pada pembuatan dan konsumsi konten visual sederhana.

Pendampingan literasi digital diperlukan agar pelajar dapat memanfaatkan teknologi secara lebih produktif, termasuk menggunakan kecerdasan buatan secara tepat, kritis, aman, dan bertanggung jawab.

Dalam bidang kurikulum, forum membahas fenomena siswa menjalani sekolah tanpa memperoleh pemahaman materi secara bermakna. Kondisi ini dapat muncul ketika pembelajaran lebih berorientasi pada penyelesaian target administratif daripada kebutuhan belajar.

Kemendikdasmen menyampaikan sejumlah intervensi yang tengah dikembangkan, antara lain Gerakan Numerasi Nasional, pendekatan pembelajaran mendalam, evaluasi buku berbasis STEM, dan asesmen adaptif bertingkat.

Hasil Youth Summit menunjukkan bahwa suara pelajar perlu dilibatkan secara nyata dalam penyusunan kebijakan. Mereka bukan sekadar penerima program pendidikan, tetapi pihak yang mengalami langsung dampak kurikulum, tekanan akademik, dan perubahan teknologi.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna