Khazanah
Hilmi An Naufal

Wamendiktisaintek Ajak Mahasiswa Perluas Pengetahuan agar Adaptif di Era AI

Wamendiktisaintek Ajak Mahasiswa Perluas Pengetahuan agar Adaptif di Era AI

02 September 2026 | 06:32

KEBONCINTA.COM – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengajak mahasiswa baru membangun pengetahuan yang luas dan mengembangkan kemampuan berpikir sebagai bekal menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Esa Unggul pada Selasa, 1 September 2026.

Mahasiswa didorong memanfaatkan masa kuliah untuk mempelajari berbagai bidang, memperluas pengalaman, dan mengenali potensi diri. Pengetahuan yang diperoleh tidak semestinya terbatas pada materi untuk mendapatkan nilai akademik, tetapi perlu digunakan sebagai dasar memahami persoalan secara lebih mendalam.

Perkembangan AI telah mengubah cara masyarakat mencari informasi, menyelesaikan pekerjaan, dan menghasilkan konten. Teknologi tersebut mampu membantu pengguna merangkum dokumen, menyusun gagasan awal, menganalisis data, hingga mengotomatisasi sejumlah pekerjaan rutin.

Namun, mahasiswa tetap memerlukan kemampuan untuk menilai kebenaran informasi, memahami konteks, menyusun pertanyaan, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya. Jawaban yang dihasilkan sistem AI tidak selalu benar sehingga masih harus diperiksa menggunakan sumber yang dapat dipercaya.

Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting karena akses terhadap informasi kini jauh lebih mudah. Mahasiswa tidak cukup hanya menerima jawaban yang tersedia, tetapi perlu memahami alasan, bukti, serta dampak dari keputusan yang diambil.

Stella juga menekankan pentingnya mengatur waktu dan menentukan prioritas. Pengalaman menjalani kuliah sambil bekerja, misalnya, dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan mengelola berbagai tanggung jawab apabila dilakukan secara terukur.

Masa kuliah dapat dimanfaatkan untuk mengikuti kegiatan organisasi, penelitian, magang, pengabdian masyarakat, dan pelatihan keterampilan. Beragam pengalaman tersebut membantu mahasiswa menghubungkan teori di ruang kelas dengan persoalan yang ditemui dalam kehidupan nyata.

Mahasiswa juga perlu menggunakan AI secara etis. Penggunaan teknologi untuk membantu memahami materi berbeda dengan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin atau mengumpulkan karya yang bukan hasil sendiri.

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menyusun panduan yang jelas mengenai pemanfaatan AI. Dosen perlu menjelaskan batas penggunaannya dalam tugas, penelitian, penulisan ilmiah, dan ujian agar mahasiswa memahami praktik yang diperbolehkan maupun yang termasuk pelanggaran akademik.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, kemampuan paling penting bukan sekadar menguasai satu aplikasi. Mahasiswa perlu terus belajar, mampu menyesuaikan diri, bekerja sama, dan mengembangkan pengetahuan lintas bidang.

Dengan bekal tersebut, AI dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat proses belajar dan produktivitas. Manusia tetap memegang peran dalam menentukan tujuan, menilai kualitas hasil, serta memastikan teknologi digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna