Berita
Hilmi An Naufal

17 Sekolah Nasional Terintegrasi Mulai Beroperasi, Gunakan Sekolah Transit

17 Sekolah Nasional Terintegrasi Mulai Beroperasi, Gunakan Sekolah Transit

02 September 2026 | 06:59

KEBONCINTA.COM – Sebanyak 17 Sekolah Nasional Terintegrasi mulai menjalankan kegiatan pembelajaran pada tahun pertama pelaksanaannya. Sekolah tersebut dibuka di sejumlah provinsi dan kabupaten untuk melayani siswa yang memiliki kemampuan serta bakat istimewa.

Program SNT diarahkan kepada pelajar dengan keunggulan dalam bidang akademik, olahraga, seni, dan bidang lainnya. Pemerintah berharap sekolah tersebut dapat menjadi pusat pengembangan talenta sekaligus rujukan peningkatan mutu bagi sekolah di wilayah sekitarnya.

Karena gedung permanen masih dalam tahap persiapan, kegiatan belajar untuk sementara dilakukan di sekolah transit. Kampus SNT direncanakan dibangun di atas lahan seluas sekitar 10 hingga 20 hektare.

Pembangunan fasilitas permanen ditargetkan mulai pada akhir 2026. Selama menggunakan lokasi transit, pemerintah dan pengelola sekolah perlu memastikan siswa tetap mendapatkan ruang belajar, fasilitas pendukung, tempat tinggal apabila menggunakan sistem asrama, serta layanan perlindungan yang memadai.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa SNT disiapkan untuk mengisi kebutuhan layanan bagi siswa dengan kemampuan tinggi yang belum selalu dapat berkembang secara maksimal dalam pembelajaran reguler.

Sekolah umum tetap menjalankan pendidikan inklusif untuk siswa dari beragam latar belakang dan kemampuan. SNT diposisikan sebagai layanan tambahan yang memiliki fokus khusus terhadap pembinaan talenta.

Meski demikian, proses seleksi peserta harus dilaksanakan secara transparan dan memberikan kesempatan kepada siswa dari berbagai kondisi ekonomi. Identifikasi bakat juga sebaiknya tidak hanya bergantung pada satu jenis tes, tetapi mempertimbangkan rekam prestasi, potensi, kreativitas, dan hasil pendampingan.

Selain membangun SNT, Kemendikdasmen memperkuat layanan pendidikan fleksibel untuk menjangkau anak yang putus sekolah atau mengalami kendala mengikuti pendidikan formal.

Model yang dikembangkan meliputi Pendidikan Jarak Jauh, program kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, Sekolah Satu Atap, Sekolah Terbuka, serta Community Learning Center.

Pendidikan fleksibel dibutuhkan karena alasan anak berhenti sekolah berbeda-beda. Sebagian terkendala jarak, kondisi ekonomi, pekerjaan keluarga, disabilitas, bencana, atau keterbatasan ketersediaan sekolah di wilayah tempat tinggal.

Program fleksibel tidak boleh dipandang sebagai layanan pendidikan kelas kedua. Kurikulum, kualitas pengajar, pendampingan siswa, penilaian, serta pengakuan hasil belajar tetap harus dijaga agar peserta memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Kemendikdasmen juga menempatkan revitalisasi sarana, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, pendidikan karakter, serta penyederhanaan regulasi sebagai bagian dari penguatan pendidikan dasar.

Kehadiran SNT dan berbagai model pendidikan fleksibel menunjukkan bahwa kebutuhan peserta didik tidak selalu dapat dilayani melalui satu bentuk sekolah. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap program memiliki standar mutu, pengawasan, pembiayaan berkelanjutan, dan akses yang adil bagi seluruh siswa.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna