SUBANG, KEBONCINTA.COM — Tim akademisi Jurusan Teknologi Informasi dan Komputer Politeknik Negeri Subang menciptakan sistem bank sampah botol plastik berbasis Internet of Things. Teknologi tersebut memungkinkan setiap setoran tercatat secara otomatis dan dapat dipantau melalui laman web secara langsung.
Sistem ini dikembangkan untuk mengatasi pencatatan bank sampah yang masih dilakukan secara manual. Cara lama dinilai rawan menimbulkan kesalahan data, keterlambatan informasi serta rendahnya transparansi mengenai jumlah setoran dan saldo pengguna.
Tim penelitian diketuai Rian Hermawan dengan anggota Erick Febriyanto dan Anderias Eko Wijaya. Pengembangan teknologi juga melibatkan tiga mahasiswa, yakni Yanuar Faturrahman, Amaliah Sa’adah dan Shahibul Fadilah.
Perangkat bank sampah pintar menggunakan kamera dengan teknologi pemrosesan visual untuk mengenali barang yang dimasukkan. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan objek yang disetorkan benar-benar berupa botol plastik.
Setelah botol dikenali, pengguna memindai kartu Radio Frequency Identification atau RFID. Kartu itu digunakan untuk membaca identitas penyetor sehingga data transaksi tidak tertukar dengan pengguna lain.
Informasi setoran kemudian dikirim melalui jaringan Internet of Things menuju sistem berbasis web. Jumlah botol dan saldo pengguna dapat dipantau secara real-time sehingga proses transaksi menjadi lebih terbuka.
Inovasi tersebut berbeda dengan penerapan IoT pada pengelolaan sampah yang hanya memantau kapasitas tempat penampungan atau menentukan rute kendaraan pengangkut. Sistem Politeknik Negeri Subang menjangkau transaksi setiap individu dan menghubungkannya langsung dengan pencatatan digital.
Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian dan pengembangan dengan pendekatan riset terapan. Pengembangan didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Keberadaan sistem otomatis berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank sampah. Pengguna dapat mengetahui bahwa setoran telah tercatat dan mempunyai nilai ekonomi yang dapat dipantau.
Meskipun demikian, penerapan secara luas tetap membutuhkan pengujian ketepatan kamera, ketahanan perangkat, kestabilan jaringan dan perlindungan data pengguna. Sistem juga harus mampu menghadapi kondisi botol yang kotor, rusak atau memiliki bentuk berbeda.
Pengelola perlu menyiapkan mekanisme pemeriksaan apabila sistem gagal mengenali botol atau terjadi ketidaksesuaian saldo. Perawatan perangkat dan edukasi pengguna menjadi bagian penting agar teknologi dapat digunakan secara berkelanjutan.
Bank sampah pintar tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi vokasi dapat menghadirkan solusi teknologi untuk persoalan lingkungan. Apabila berhasil diterapkan dengan baik, sistem ini dapat meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus mengurangi sampah botol plastik yang berakhir di tempat pembuangan.