Berita
Hilmi An Naufal

Untad Ungkap Penyebab Alumni Kerap Gagal Seleksi Kerja: Bukan Cuma Nilai, Etika dan Komunikasi Jadi Sorotan

Untad Ungkap Penyebab Alumni Kerap Gagal Seleksi Kerja: Bukan Cuma Nilai, Etika dan Komunikasi Jadi Sorotan

04 September 2026 | 10:21

KEBONCINTA.COM – Gelar sarjana dan kemampuan akademik saja dinilai belum cukup untuk menghadapi persaingan dunia kerja. Universitas Tadulako atau Untad mengungkap sejumlah kelemahan yang masih sering ditemukan pada alumni ketika mengikuti proses rekrutmen.

Pengetahuan umum, kemampuan berkomunikasi, etika hingga cara menunjukkan motivasi ketika wawancara menjadi sejumlah aspek yang dinilai masih perlu diperkuat.

Temuan tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Untad Dr. Ir. Sagaf dalam kegiatan Untad Digital Career Ready.

Pelatihan berlangsung di Gedung Media Center Lantai 2 Universitas Tadulako, Palu, pada 1 hingga 2 September 2026.

Ratusan mahasiswa calon alumni mengikuti kegiatan yang berfokus pada teknologi informasi, artificial intelligence atau AI serta keterampilan digital untuk kesiapan memasuki dunia kerja.

Sagaf mengingatkan mahasiswa agar tidak terlalu berfokus pada kompetensi akademik sesuai jurusan hingga melupakan kemampuan nonakademik.

Menurut evaluasi Untad terhadap sejumlah proses rekrutmen yang bekerja sama dengan universitas, beberapa alumni mengalami kegagalan bukan karena tidak memahami bidang ilmu mereka.

Masalah justru ditemukan pada pengetahuan umum, penggunaan Bahasa Indonesia, etika serta motivasi ketika menjalani wawancara.

Dalam proses rekrutmen, perusahaan tidak hanya ingin mengetahui apa yang dikuasai pelamar.

Cara seseorang bersikap, menyampaikan gagasan dan menunjukkan tanggung jawab juga dapat menjadi bagian dari penilaian.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting ketika proses penerimaan pegawai beralih ke sistem digital.

Banyak perusahaan telah menggunakan pendaftaran daring, penyaringan berkas elektronik, wawancara virtual hingga berbagai bentuk tes berbasis teknologi.

Calon lulusan perlu memahami perubahan tersebut agar tidak tertinggal.

Universitas kemudian mempunyai tanggung jawab membantu mahasiswa beradaptasi sebelum mereka benar-benar meninggalkan kampus.

Itulah alasan Untad menyelenggarakan pelatihan keterampilan digital dan kesiapan karier.

Kegiatan menghadirkan pemateri dari berbagai instansi dan mitra.

Di antaranya Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kota Palu, BPD HIPMI Sulawesi Tengah, Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Tengah, PT Telkom Palu serta Bank Mandiri KC Palu Samratulangi.

Keterlibatan berbagai pihak memberikan kesempatan kepada mahasiswa mendengar kebutuhan dunia kerja dari sudut pandang yang lebih luas.

Sektor pemerintahan, perbankan, BUMN maupun dunia usaha dapat mempunyai proses seleksi berbeda.

Namun kemampuan komunikasi, profesionalisme dan adaptasi menjadi kualitas yang banyak dibutuhkan.

AI juga menjadi salah satu materi yang mendapat perhatian.

Teknologi kecerdasan buatan semakin mudah digunakan untuk membantu mencari informasi, membuat dokumen, menganalisis data maupun mendukung pekerjaan.

Namun Untad mengingatkan mahasiswa agar tidak membiarkan AI menggantikan kemampuan berpikir.

Sagaf menilai AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung.

Manusia tetap mempunyai kepekaan terhadap konteks, waktu, tempat dan kondisi sosial yang tidak dapat begitu saja digantikan sistem.

Pesan tersebut penting bagi mahasiswa yang memasuki dunia kerja pada saat perusahaan semakin banyak mengadopsi teknologi.

Kemampuan menggunakan AI dapat menjadi nilai tambah.

Namun perusahaan juga membutuhkan pekerja yang mampu menilai apakah hasil yang diberikan teknologi benar dan sesuai kebutuhan.

Karyawan harus mampu mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain serta bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.

Karena itu, keterampilan digital perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis.

Mahasiswa juga perlu memahami bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat memberikan kesan buruk ketika hasil pekerjaan tidak menunjukkan pemahaman pribadi.

Dalam pembuatan CV dan surat lamaran misalnya, AI dapat membantu merapikan bahasa.

Namun calon pelamar tetap harus memastikan informasi yang ditulis benar-benar sesuai pengalaman dan kemampuan.

Ketika memasuki tahap wawancara, pelamar harus mampu menjelaskan kompetensinya secara langsung.

Tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kemampuan seseorang menjelaskan pengalaman dengan percaya diri dan jujur.

Inilah sebabnya komunikasi menjadi keterampilan penting.

Kemampuan berkomunikasi tidak selalu berarti seseorang harus menjadi pembicara yang sangat aktif.

Hal yang lebih penting adalah mampu menyampaikan informasi secara jelas dan sesuai konteks.

Etika juga menjadi perhatian.

Sikap saat berkomunikasi, ketepatan waktu, cara merespons pertanyaan hingga tanggung jawab terhadap tugas dapat memengaruhi penilaian perusahaan.

Mahasiswa sering kali mempunyai nilai akademik tinggi, tetapi pengalaman berinteraksi dalam lingkungan profesional masih terbatas.

Kampus kemudian dapat menjadi tempat untuk membangun keterampilan tersebut melalui organisasi, magang, proyek kelompok maupun pelatihan.

Untad menyatakan peningkatan daya serap alumni di dunia kerja menjadi salah satu tanggung jawab universitas.

Perguruan tinggi tidak hanya bertugas membawa mahasiswa sampai memperoleh ijazah.

Kampus juga perlu mengevaluasi apakah lulusan mempunyai kompetensi yang sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Masukan dari proses rekrutmen dapat menjadi bahan untuk mengevaluasi pembelajaran.

Jika perusahaan berulang kali menemukan kelemahan pada bidang tertentu, kampus dapat memberikan program tambahan agar mahasiswa berikutnya lebih siap.

Pendekatan tersebut juga dapat membantu perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan zaman.

Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat.

Bidang pekerjaan yang tersedia saat mahasiswa baru masuk kuliah dapat berubah ketika mereka lulus beberapa tahun kemudian.

Karena itu, kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi semakin penting.

Mahasiswa tidak dapat hanya mengandalkan satu keterampilan yang diperoleh di kelas.

Mereka perlu terus memperbarui pengetahuan, memahami teknologi baru dan membangun jaringan profesional.

Pelatihan Untad Digital Career Ready menjadi salah satu upaya untuk memberikan fondasi tersebut kepada calon lulusan.

Kegiatan tidak hanya membicarakan cara mendapatkan pekerjaan.

Mahasiswa juga diajak memahami bagaimana bersikap ketika memasuki lingkungan profesional.

Bagi calon lulusan, pesan dari Untad cukup jelas.

IPK dan gelar tetap penting, tetapi keduanya bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan dalam seleksi kerja.

Pengetahuan umum, etika, komunikasi, kemampuan menghadapi wawancara dan keterampilan digital juga perlu dipersiapkan.

Di tengah rekrutmen yang semakin berbasis teknologi dan penggunaan AI yang semakin luas, mahasiswa dituntut menjadi lulusan yang tidak hanya pintar secara akademik.

Mereka perlu mampu bekerja bersama orang lain, memahami situasi dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Dengan kombinasi tersebut, peluang lulusan untuk beradaptasi dan bersaing di dunia kerja diharapkan semakin besar.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna