Berita
Hilmi An Naufal

121 Guru dari 43 Sekolah Dilatih Jadi Fasilitator Nasional STEM, Siap Bina 1.636 Guru di Indonesia

121 Guru dari 43 Sekolah Dilatih Jadi Fasilitator Nasional STEM, Siap Bina 1.636 Guru di Indonesia

04 September 2026 | 08:32

KEBONCINTA.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat penerapan pembelajaran Science, Technology, Engineering and Mathematics atau STEM di sekolah. Sebanyak 121 guru dari 43 sekolah telah dipersiapkan menjadi fasilitator nasional yang nantinya membantu meningkatkan kompetensi ribuan guru dari berbagai jenjang pendidikan.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun pembelajaran lintas disiplin yang tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga kemampuan peserta didik dalam memecahkan persoalan melalui pendekatan sains, teknologi, rekayasa dan matematika.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani menjelaskan, pemerintah saat ini membangun jaringan fasilitator yang terdiri atas fasilitator nasional, fasilitator daerah hingga fasilitator dari Unit Pelaksana Teknis.

Pembentukan jaringan tersebut diharapkan membuat pembelajaran STEM dapat diterapkan lebih luas dan tidak hanya berlangsung di sekolah tertentu.

Sebanyak 121 guru yang dipilih menjadi fasilitator nasional telah menjalani berbagai rangkaian pelatihan sejak Januari hingga Juli 2026.

Materi yang diberikan mencakup pengembangan Learning Management System atau LMS, penyamaan persepsi mengenai implementasi STEM pada setiap jenjang pendidikan, pembekalan pengelolaan kelas hingga finalisasi sistem manajemen pembelajaran.

Pelatihan tidak berhenti setelah fasilitator nasional memperoleh pembekalan.

Mereka selanjutnya diberi tugas membantu mengembangkan kompetensi guru lainnya.

Kemendikdasmen menargetkan sebanyak 1.636 guru dari 58 sekolah mendapatkan pelatihan selama Agustus hingga September 2026.

Dengan skema tersebut, satu kelompok fasilitator dapat memberikan dampak kepada jumlah tenaga pendidik yang jauh lebih besar.

Guru yang mengikuti pelatihan dipilih dari latar belakang mata pelajaran yang beragam.

Peserta tidak hanya berasal dari guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau MIPA.

Guru non-MIPA juga dilibatkan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa STEM tidak dimaksudkan sebagai pembelajaran yang berdiri sendiri hanya untuk mata pelajaran sains.

Sebaliknya, pendekatan STEM dapat diterapkan dengan menghubungkan beberapa bidang dalam satu kegiatan pembelajaran.

Misalnya, siswa dapat mempelajari konsep matematika ketika merancang sebuah proyek sederhana, menggunakan prinsip sains untuk memahami cara kerjanya, memanfaatkan teknologi untuk mencari atau mengolah informasi, serta melakukan proses rekayasa untuk menghasilkan solusi.

Pembelajaran seperti itu memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat hubungan antara materi yang dipelajari di kelas dengan persoalan di kehidupan sehari-hari.

Kemampuan menyelesaikan masalah menjadi salah satu aspek penting dalam pendekatan STEM.

Siswa tidak hanya diminta mengetahui jawaban, tetapi juga memahami proses untuk menemukan solusi.

Guru kemudian mempunyai peranan penting dalam merancang kegiatan yang membuat siswa aktif melakukan eksplorasi.

Karena itulah peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu unsur utama dalam perluasan program.

Perangkat pembelajaran modern tidak akan memberikan dampak maksimal apabila guru tidak mendapatkan pendampingan dalam menggunakannya.

Kemendikdasmen ingin fasilitator yang telah dilatih dapat membantu guru memahami konsep sekaligus mengadaptasikannya sesuai kondisi sekolah.

Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang sama.

Sekolah di kota besar mungkin mempunyai laboratorium dan perangkat teknologi lebih lengkap, sementara sekolah di wilayah lain harus menggunakan sumber daya yang lebih sederhana.

Pembelajaran STEM tetap dapat dikembangkan dengan menyesuaikan fasilitas yang tersedia.

Hal tersebut menjadi penting agar penerapan program tidak bergantung pada alat yang mahal.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti juga mendorong pengenalan sains sejak jenjang pendidikan usia dini.

Menurut pemerintah, anak dapat mengenal konsep sains melalui aktivitas sederhana dan lingkungan yang berada di sekitarnya.

Program STEM Nasional kemudian dirancang mencakup berbagai jenjang pendidikan.

Peluncuran program secara nasional dilakukan di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis, 3 September 2026.

Lokasi tersebut sekaligus menunjukkan pembelajaran sains dan teknologi dapat diperkenalkan sejak usia dini dengan metode yang sesuai tahap perkembangan anak.

Bagi peserta didik yang lebih besar, pendekatan dapat dikembangkan menjadi proyek yang semakin kompleks.

Guru dapat mengajak siswa mengamati persoalan lingkungan, membuat rancangan, melakukan percobaan, menghitung hasil hingga mempresentasikan solusi.

Proses tersebut dapat membantu mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama.

Siswa juga belajar bahwa satu persoalan tidak selalu mempunyai satu cara penyelesaian.

Kemampuan mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki rancangan dan mencoba kembali merupakan bagian dari proses belajar.

Prinsip tersebut berbeda dengan pembelajaran yang hanya berfokus pada menghafalkan informasi.

Kemendikdasmen berharap guru mampu menghadirkan pengalaman pembelajaran yang relevan, inspiratif dan benar-benar memberikan dampak kepada siswa.

Untuk mendukung sasaran tersebut, pemerintah tidak hanya mengandalkan pelatihan fasilitator.

Kemendikdasmen juga menyiapkan pelatihan teknis, program beasiswa micro-credential serta lokakarya STEM melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Sejumlah mitra yang terlibat antara lain Monash University, SEAMEO QITEP in Science atau SEAQIS, serta Korea National University of Education.

Kolaborasi tersebut memberikan kesempatan kepada guru Indonesia memperoleh perspektif lebih luas mengenai penerapan pendidikan STEM.

Namun materi dari luar tetap perlu diterjemahkan sesuai konteks sekolah di Indonesia.

Kondisi peserta didik, fasilitas dan kebutuhan setiap wilayah dapat berbeda.

Fasilitator kemudian mempunyai peran untuk membantu proses adaptasi tersebut.

Keberadaan 121 fasilitator nasional menjadi tahap awal dari pengembangan jaringan yang lebih besar.

Setelah 1.636 guru memperoleh pelatihan pada Agustus hingga September, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Dampaknya pada akhirnya harus dirasakan peserta didik.

Program akan dinilai berhasil apabila pembelajaran di kelas membuat siswa semakin aktif berpikir, bereksperimen dan mencari solusi.

Perkembangan teknologi membuat kemampuan semacam itu semakin dibutuhkan.

Dunia kerja dan kehidupan masyarakat terus berubah seiring penggunaan kecerdasan buatan, otomatisasi dan berbagai teknologi baru.

Sekolah mempunyai tugas memberikan fondasi agar peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi.

Mereka juga perlu memahami prinsip dasar, berpikir kritis serta mampu mengembangkan gagasan sendiri.

Pembelajaran STEM menjadi salah satu pendekatan yang dipilih pemerintah untuk membantu membangun kemampuan tersebut.

Dengan 121 fasilitator nasional dan target pelatihan 1.636 guru, Kemendikdasmen berharap penyebaran pembelajaran STEM dapat berlangsung lebih cepat dan merata di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna