Parenting
Rahman Abdullah

Anak Sering Cemas dan Mudah Menangis? Kenali 3 Penyebab Stres yang Perlu Diwaspadai

Anak Sering Cemas dan Mudah Menangis? Kenali 3 Penyebab Stres yang Perlu Diwaspadai

03 September 2026 | 18:31

Keboncinta.com– Menjadi orang tua bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga memahami perubahan perilaku dan emosi yang mereka tunjukkan. Orang tua dan wali perlu menjadi pengamat yang peka sekaligus tempat bagi anak untuk merasa aman dalam menyampaikan perasaannya.

Meski anak terlihat kuat dan ceria, bukan berarti mereka selalu terbebas dari tekanan. Berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pemicu stres, sehingga orang tua perlu mengenali tanda-tanda yang mungkin muncul secara samar.

Penelitian yang dilansir The Minds Journal menyebutkan bahwa anak dapat memberikan respons berbeda terhadap kondisi lingkungan dibandingkan orang dewasa. Faktor budaya juga turut memengaruhi bagaimana seorang anak mengekspresikan tekanan, rasa kewalahan, maupun stres yang dialaminya.

Karena itu, memahami penyebab dan tanda stres pada anak menjadi langkah penting. Dengan mengetahui apa yang mereka hadapi, orang tua dapat memberikan dukungan yang lebih tepat.

Baca Juga: Ingin Lolos SNBP 2027, Siswa SMA Perlu Serius Hadapi TKA karena Nilainya Ikut Dipertimbangkan PTN

Stres pada Anak Tidak Selalu Berdampak Buruk

Stres pada dasarnya merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi perubahan atau harus menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Hal yang sama juga terjadi pada anak.

Dalam kadar tertentu, stres justru dapat menjadi bagian dari proses perkembangan karena membantu anak belajar menghadapi perubahan dan tantangan. Namun, persoalan dapat muncul ketika tekanan tersebut berlangsung terlalu berat atau dalam waktu yang panjang.

Stres yang berlebihan dan tidak mendapatkan dukungan yang memadai berpotensi memengaruhi kondisi mental anak. Karena itu, orang tua dan pengasuh perlu memperhatikan perubahan perilaku yang mungkin menjadi sinyal bahwa anak sedang mengalami tekanan.

Berikut beberapa faktor yang dapat memicu stres pada anak.

1. Kecemasan Saat Berpisah dari Orang Tua

Kecemasan akibat perpisahan atau separation anxiety merupakan salah satu pengalaman yang dapat dialami anak, terutama ketika mereka masih bayi hingga usia balita.

Perasaan tersebut dapat muncul ketika anak harus berpisah dengan orang tua atau pengasuh yang selama ini membuatnya merasa aman. Situasi baru, seperti kehadiran pengasuh baru atau berada di lingkungan yang belum familiar, juga dapat memicu reaksi tersebut.

Dalam kondisi tertentu, kecemasan menghadapi perpisahan merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Mereka secara bertahap belajar memahami lingkungan sekaligus mengembangkan kemampuan untuk menghadapi situasi tanpa selalu berada di dekat orang tua.

Baca Juga: Pendaftaran Bantuan Pesantren 2026 Dibuka, Kemenag Ingatkan Waspada Penipuan

Namun, ketika tekanan yang dialami anak semakin besar, kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan lain juga dapat ikut terpengaruh.

Tanda yang muncul bisa berupa anak menjadi lebih sulit berpisah, semakin melekat kepada orang tua, menangis ketika ditinggalkan, atau menunjukkan rasa gugup saat berada jauh dari pengasuh yang dipercaya.

2. Perubahan dalam Kehidupan Keluarga

Kondisi keluarga juga memiliki pengaruh besar terhadap perasaan anak. Perubahan seperti perceraian, kehilangan anggota keluarga, perubahan pekerjaan orang tua, atau pindah rumah dapat menjadi sumber tekanan bagi anak dari berbagai kelompok usia.

Bahkan perubahan yang sebenarnya membawa kebahagiaan, seperti kehadiran adik baru, tetap dapat membuat anak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Bagi anak, perubahan berarti adanya perbedaan dari rutinitas atau kondisi yang selama ini mereka kenal. Pergeseran tersebut dapat memunculkan respons stres karena mereka harus kembali beradaptasi dengan keadaan baru.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menganggap remeh perubahan yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Anak membutuhkan penjelasan, perhatian, serta rasa aman agar dapat memahami dan menerima perubahan tersebut secara bertahap.

Baca Juga: Karier Guru PPPK Menuju 2027 Mulai Ditata, Kesempatan Naik Status dan Ikut Seleksi PNS Terbuka

3. Tekanan Akademik yang Semakin Besar

Sekolah merupakan lingkungan penting bagi anak untuk belajar, berkembang, bersosialisasi, dan menemukan berbagai pengalaman baru. Namun, lingkungan pendidikan juga dapat menjadi salah satu sumber stres.

Tuntutan untuk memperoleh prestasi akademik yang baik terkadang membuat anak merasa terbebani. Pekerjaan rumah, ujian, tugas sekolah, hingga keinginan mendapatkan nilai tinggi dapat memenuhi pikiran mereka.

Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari kegiatan belajar. Kehidupan sosial di sekolah juga menjadi bagian yang harus dihadapi anak dan remaja.

Membangun pertemanan, menghadapi situasi sosial, mengikuti dinamika kelompok, serta berhadapan dengan pendapat atau penilaian teman sebaya dapat menambah beban yang mereka rasakan.

Jika berbagai tekanan tersebut muncul secara bersamaan, anak mungkin membutuhkan dukungan lebih besar dari orang tua agar mampu mengelolanya.

Orang Tua Perlu Menjadi Tempat Aman bagi Anak

Mengenali stres pada anak bukan berarti menganggap setiap perubahan perilaku sebagai masalah serius. Sebaliknya, orang tua perlu mengamati perubahan secara menyeluruh dan memahami konteks yang sedang dihadapi anak.

Komunikasi terbuka dapat membantu anak merasa lebih nyaman untuk menceritakan kekhawatiran maupun kesulitan yang mereka alami.

Tags:
Parenting Stres Kesehatan Mental Anak

Komentar Pengguna