Sejarah
Rahman Abdullah

Sejarah Kesultanan Demak, Kerajaan Islam Pertama di Jawa dan Masjid Agung Demak

Sejarah Kesultanan Demak, Kerajaan Islam Pertama di Jawa dan Masjid Agung Demak

03 September 2026 | 16:49

Keboncinta.com-- Kesultanan Demak menjadi salah satu kerajaan penting dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa. Kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa ini meninggalkan berbagai warisan sejarah, salah satunya Masjid Agung Demak yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari jejak sejarah Islam di Nusantara.

Masjid yang berada di kawasan Bintoro tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan dakwah dan perkembangan Islam pada masa Kesultanan Demak.

Dari Wilayah Majapahit Menjadi Kesultanan Islam

Sebelum berkembang sebagai kerajaan Islam yang berpengaruh, Demak pada awalnya merupakan wilayah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Seiring melemahnya pengaruh Majapahit, Demak berkembang menjadi kekuatan politik yang semakin mandiri. Dalam perkembangannya, Demak bahkan memainkan peranan dalam keruntuhan Majapahit melalui konflik dan serangan yang semakin memperkuat pengaruh Islam di wilayah Jawa.

Baca Juga: Wakaf Uang Kini Berizin Satu Pintu Lewat Kemenag, Ini Syarat LKS-PWU dan Nazir

Tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kesultanan Demak adalah Raden Patah, seorang bangsawan keturunan Majapahit yang memeluk Islam.

Raden Patah memiliki sejumlah nama yang dikenal dalam berbagai sumber, di antaranya Raden Bagus Kasan, Raden Hasan, dan Jin Bun. Ia juga dikenal dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar al-Fatah.

Menurut kisah dalam Babad Tanah Jawi, Raden Patah merupakan putra Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, dari seorang selir keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam.

Berawal dari Glagahwangi

Sejarah awal Demak tidak dapat dipisahkan dari kawasan yang disebut Glagahwangi. Wilayah tersebut kemudian berkembang setelah Raden Patah mendapat kedudukan sebagai adipati dari Raja Majapahit.

Dalam perkembangannya, Glagahwangi dikenal dengan nama Demak. Pusat pemerintahan kemudian berada di Bintoro, kawasan yang hingga sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Letak Demak yang berada di kawasan yang dekat dengan pesisir utara Jawa turut menjadi faktor penting dalam perkembangan wilayah tersebut.

Sejak sekitar abad ke-14 M, kawasan pesisir utara Jawa ramai didatangi pedagang dari berbagai wilayah. Di antara para pedagang tersebut terdapat komunitas Muslim yang kemudian turut berperan dalam proses penyebaran Islam.

Hubungan perdagangan tidak hanya menghasilkan aktivitas ekonomi, tetapi juga membuka ruang pertemuan budaya dan agama. Para pedagang Muslim memiliki kesempatan untuk memperkenalkan dan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat di wilayah Jawa.

Dalam riset berjudul “Keraton Demak Bintoro Membangun Tradisi Islam Maritim di Nusantara”, Heru Arif Pianto menyebut aktivitas perdagangan sebagai salah satu faktor yang berperan dalam penyebaran Islam di Jawa.

Baca Juga: BeZakat 2026 Kembali Dibuka, Kemenag Siapkan Beasiswa untuk Keluarga Kurang Mampu

Peran Wali Songo dalam Perkembangan Demak

Ketika pengaruh Majapahit semakin melemah, Raden Patah mengembangkan Demak menjadi kekuatan yang lebih mandiri dengan dukungan para Wali Songo.

Perkembangan tersebut kemudian membawa Demak menjadi kesultanan yang memiliki pengaruh besar dalam proses Islamisasi di Jawa.

Salah satu simbol penting dari perkembangan tersebut adalah Masjid Agung Demak. Masjid ini menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus salah satu peninggalan utama yang menggambarkan perjalanan Islam di wilayah Demak.

Masjid Agung Demak diyakini dibangun pada masa pemerintahan Raden Patah dengan keterlibatan para Wali Songo. Keberadaannya mencerminkan perpaduan antara peran dakwah, kehidupan keagamaan, serta perkembangan kebudayaan pada masa awal Kesultanan Demak.

Arsitektur Masjid Agung Demak Penuh Akulturasi Budaya

Keunikan Masjid Agung Demak juga terlihat dari bentuk arsitekturnya. Bangunan tersebut memperlihatkan perpaduan sejumlah unsur budaya yang berkembang di Nusantara.

Arsitekturnya mencerminkan akulturasi antara budaya Jawa, pengaruh Hindu-Buddha dari India, dan unsur Islam dari Arab. Perpaduan tersebut terlihat antara lain pada bentuk atap bertingkat yang menyerupai punden berundak.

Atap tumpang dengan jumlah tingkat ganjil juga memperlihatkan karakter arsitektur yang memiliki kemiripan dengan bangunan tradisional Hindu. Di sisi lain, unsur dan ornamen Islam hadir menyatu dalam keseluruhan bangunan.

Perpaduan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Jawa berlangsung melalui proses interaksi dengan budaya lokal yang telah berkembang sebelumnya.

Baca Juga: Kemenag Buka Bantuan Pesantren 2026 hingga Rp100 Juta, Pengajuan Hanya 4 Hari

Masjid Agung Demak sebagai Pusat Dakwah

Pada masa Kesultanan Demak, Masjid Agung Demak tidak sekadar menjadi tempat melaksanakan ibadah. Masjid ini juga berfungsi sebagai salah satu pusat aktivitas keagamaan dan dakwah.

Sejumlah bagian bangunan bahkan memiliki simbolisme keagamaan. Masjid tersebut dikenal memiliki lima pintu yang dikaitkan dengan Rukun Islam dan enam jendela yang dimaknai sebagai simbol Rukun Iman.

Keberadaan Masjid Agung Demak memperlihatkan bagaimana tempat ibadah dapat memainkan peran yang lebih luas dalam perkembangan kehidupan masyarakat. Masjid menjadi ruang untuk menjalankan kegiatan keagamaan sekaligus mendukung proses penyebaran Islam.

Warisan Kesultanan Demak bagi Sejarah Islam Jawa

Kesultanan Demak memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Islam di Jawa. Kemunculannya menunjukkan perubahan besar dalam peta politik dan keagamaan Jawa ketika pengaruh kerajaan-kerajaan sebelumnya mulai mengalami perubahan.

Sementara itu, Masjid Agung Demak menjadi salah satu peninggalan yang hingga kini mengingatkan masyarakat pada masa awal perkembangan kerajaan Islam di Jawa.

Baca Juga: Dana BOS Bisa Dukung Persiapan TKA 2026, Sekolah Wajib Siapkan Perangkat dan Data Siswa

Kisah Demak, Raden Patah, Wali Songo, serta Masjid Agung Demak memperlihatkan bahwa perjalanan Islamisasi Jawa tidak hanya berkaitan dengan perubahan keagamaan, tetapi juga melibatkan perdagangan, politik, dakwah, dan akulturasi budaya.

Warisan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah panjang Nusantara yang memperlihatkan pertemuan berbagai tradisi dan kebudayaan dalam proses terbentuknya masyarakat Jawa yang lebih beragam.***

Tags:
Sejarah Khazanah Islam Sejarah Islam

Komentar Pengguna