Sejarah
Rahman Abdullah

Jejak Raden Patah, Pangeran Majapahit yang Membawa Demak Menjadi Kekuatan Islam

Jejak Raden Patah, Pangeran Majapahit yang Membawa Demak Menjadi Kekuatan Islam

03 September 2026 | 16:57

Keboncinta.com-- Raden Patah merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Kesultanan Demak. Ia dikenal sebagai pangeran keturunan Kerajaan Majapahit yang kemudian menjadi pemimpin kerajaan Islam yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Jawa.

Raden Patah disebut lahir pada 1455 M di Palembang. Latar belakang keluarganya sangat beragam dan diwarnai kisah yang cukup dramatis. Ia merupakan putra dari Siu Ban Ci, seorang perempuan keturunan Tionghoa, dengan Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V, raja terakhir Majapahit.

Siu Ban Ci disebut sebagai putri seorang ulama Tionghoa yang turut berperan dalam fase awal perkembangan jaringan dakwah yang kemudian dikenal dengan Wali Songo.

Dalam kisah yang berkembang, Siu Ban Ci diceraikan Brawijaya V dan kemudian dibawa ke Palembang. Di wilayah tersebutlah ia melahirkan Raden Patah.

Darah Tionghoa dan Jawa yang mengalir dalam dirinya kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup Raden Patah sebelum akhirnya ia berkiprah di Jawa dan mendirikan pemerintahan Demak.

Baca Juga: Kesultanan Demak, Kerajaan Islam Pertama di Jawa dan Jejak Sejarah Masjid Agung Demak

Jin Bun, Nama Lain Raden Patah

Raden Patah dikenal memiliki sejumlah nama. Nama lahirnya disebut Jin Bun, sedangkan dalam berbagai sumber ia juga dikenal sebagai Senapati Jimbun, Panembahan Jimbun, dan Raden Hassan.

Ketika beranjak dewasa, Raden Patah bersama saudaranya, Raden Kusen atau Adipati Terung, meninggalkan Palembang menuju Jawa.

Perjalanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan upaya mencari tempat untuk berkiprah, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan spiritual keduanya dalam memperdalam ajaran Islam.

Di Jawa, Raden Patah dan Raden Kusen belajar kepada sejumlah tokoh yang kemudian dikenal sebagai Wali Songo. Di antara guru yang disebut dalam kisah tersebut adalah Sunan Gunung Jati di Cirebon, Sunan Giri di Gresik, dan Sunan Ampel di Surabaya.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi Raden Patah sebelum kemudian membangun kekuatan politik dan keagamaan di Demak.

Kisah Raden Patah dan Demak Bintara

Cerita mengenai awal berdirinya Demak memiliki beberapa versi. Salah satu kisah menyebutkan bahwa Raden Patah sempat kembali ke Majapahit untuk menemui ayahnya, Brawijaya V.

Dalam pertemuan tersebut, Raden Patah disebut meminta wilayah otonom di Demak Bintara. Permintaan itu kemudian dikisahkan mendapat persetujuan dari sang ayah.

Namun, terdapat pula versi berbeda mengenai asal-usul kekuasaan Raden Patah di Demak.

Salah satu cerita menyebutkan bahwa Raden Patah kembali ke Majapahit setelah kedua saudaranya memiliki keyakinan bahwa Brawijaya V akan bersedia memeluk Islam.

Baca Juga: Wakaf Uang Kini Berizin Satu Pintu Lewat Kemenag, Ini Syarat LKS-PWU dan Nazir

Raden Patah kemudian dikisahkan mengambil sikap tegas. Apabila ayahnya tetap mempertahankan keyakinan Hindu, ia memilih untuk tidak kembali ke Majapahit.

Sementara versi lainnya menyebutkan bahwa Demak Bintara bukan merupakan wilayah pemberian Brawijaya V. Kawasan tersebut justru dibuka oleh Raden Patah atas petunjuk Sunan Ampel.

Perbedaan versi tersebut menunjukkan bahwa kisah awal Kesultanan Demak memiliki beragam tradisi historiografis. Namun, berbagai cerita tersebut sama-sama menempatkan Raden Patah sebagai tokoh sentral dalam munculnya Demak sebagai kekuatan baru di Jawa.

Kesultanan Demak dan Melemahnya Majapahit

Dalam narasi sejarah yang berkembang, Kesultanan Demak berdiri pada 1478 dengan Raden Patah sebagai penguasa bergelar Sultan Syah Alam Akbar al-Fatah.

Pada periode yang sama, Majapahit tengah menghadapi persoalan internal. Konflik politik semakin rumit setelah muncul pemberontakan yang dikaitkan dengan Girindrawardhana, menantu Brawijaya V, yang kemudian dikenal sebagai Brawijaya VI.

Kondisi internal Majapahit yang melemah turut membuka ruang bagi berkembangnya kekuatan baru di Jawa.

Demak kemudian semakin memperluas pengaruhnya. Pada 1517, serangan yang dipimpin Pati Unus, adik Raden Patah, disebut memberikan pukulan terhadap kekuatan ekonomi Majapahit.

Sekitar satu dekade kemudian, pada 1527, Majapahit kembali menghadapi serangan dari Demak yang ketika itu berada di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana, adik Pati Unus.

Baca Juga: BeZakat 2026 Kembali Dibuka, Kemenag Siapkan Beasiswa untuk Keluarga Kurang Mampu

Dalam kisah tersebut, serangan Demak kemudian mengakhiri sisa kekuasaan Majapahit dan membuat Demak semakin kuat sebagai salah satu kekuatan utama di Jawa.

Raden Patah dan Perkembangan Islam di Jawa

Perjalanan Raden Patah dari seorang pangeran yang memiliki hubungan dengan Majapahit hingga menjadi pendiri Kesultanan Demak merupakan bagian penting dalam sejarah perubahan politik dan keagamaan di Jawa.

Dengan dukungan para tokoh Wali Songo, Demak berkembang bukan hanya sebagai kekuatan politik, tetapi juga sebagai pusat perkembangan Islam.

Raden Patah kemudian dikenang sebagai sosok yang memiliki peranan besar dalam membuka babak baru sejarah Jawa. Kemunculan Demak menandai semakin kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan politik dan sosial masyarakat Jawa.

Warisan sejarah Raden Patah juga tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang hubungan antara Majapahit, Demak, perdagangan, dakwah, serta jaringan ulama di Nusantara.

Baca Juga: Kemenag Buka Bantuan Pesantren 2026 hingga Rp100 Juta, Pengajuan Hanya 4 Hari

Kisahnya memperlihatkan bagaimana perubahan sebuah kerajaan tidak hanya dipengaruhi oleh peperangan dan perebutan kekuasaan, tetapi juga oleh dinamika agama, hubungan keluarga, serta peran para tokoh yang membentuk perkembangan masyarakat pada masanya.***

Tags:
Sejarah Sejarah Islam Sejarah Indonesia

Komentar Pengguna