KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Samsung semakin serius membawa kecerdasan buatan dari dunia perangkat lunak menuju dunia fisik.
Samsung SDS resmi mengumumkan ekspansi ke bisnis Robotics Transformation atau RX dengan rencana menghadirkan platform yang dapat mengendalikan berbagai jenis robot dan peralatan produksi secara terintegrasi.
Strategi tersebut diumumkan dalam acara REAL Summit 2026 yang berlangsung di COEX Convention Center, Seoul, Korea Selatan, Selasa, 8 September 2026.
Samsung SDS selama ini dikenal sebagai perusahaan teknologi informasi dan layanan cloud di bawah Samsung Group.
Namun perkembangan kecerdasan buatan membuat perusahaan mulai memperluas fokus dari sekadar AI yang bekerja di komputer menuju physical AI yang dapat menggerakkan mesin dan robot di dunia nyata.
CEO Samsung SDS Lee June-hee mengatakan perusahaan ingin memperluas transformasi berbasis AI dari lingkungan digital menuju lingkungan fisik.
Salah satu langkah utamanya adalah pengembangan robot orchestration platform yang ditargetkan tersedia mulai 2027.
Platform tersebut pada dasarnya berfungsi sebagai pusat kendali bagi berbagai jenis robot dalam sebuah fasilitas produksi.
Sebuah pabrik modern dapat mempunyai robot untuk mengangkut barang, merakit komponen, melakukan pengepakan hingga memindahkan material.
Masalahnya, robot-robot tersebut dapat berasal dari produsen berbeda dan mempunyai sistem pengendalian masing-masing.
Samsung SDS ingin menyatukannya dalam satu platform.
Sistem nantinya dapat membantu menentukan jalur pergerakan robot sekaligus mengatur pekerjaan agar beberapa robot tidak saling mengganggu maupun bertabrakan.
Pendekatan tersebut menjadi penting ketika jumlah robot di pabrik semakin banyak.
Jika hanya terdapat satu atau dua robot, sistem relatif mudah dikendalikan.
Namun ketika sebuah fasilitas mempunyai puluhan bahkan ratusan robot yang bergerak secara bersamaan, pengaturan lalu lintas menjadi jauh lebih kompleks.
Kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menganalisis kondisi pabrik dan menentukan bagaimana pekerjaan sebaiknya dibagi kepada masing-masing robot.
Samsung SDS mempunyai pengalaman panjang dalam otomasi manufaktur.
Perusahaan mengatakan telah mengembangkan sistem eksekusi manufaktur, otomasi fasilitas dan teknologi logistik untuk lebih dari 430 pelanggan manufaktur selama sekitar 25 tahun.
Bidang yang ditangani mencakup industri semikonduktor, baterai sekunder hingga bioteknologi.
Pengalaman tersebut kini ingin digabungkan dengan perkembangan physical AI.
Samsung SDS juga membentuk ekosistem bersama perusahaan robot lain.
Sejumlah perusahaan robotika termasuk Rainbow Robotics ikut menjadi bagian dari pengembangan teknologi yang dipersiapkan perusahaan.
Rainbow Robotics sendiri dikenal sebagai perusahaan robotika Korea Selatan yang kini mempunyai hubungan erat dengan Samsung Electronics.
Selain itu, Samsung SDS mempunyai kemitraan strategis dengan perusahaan humanoid robotics Walden Robotics.
Samsung SDS sebelumnya juga melakukan investasi strategis terhadap perusahaan tersebut.
Robot humanoid menjadi salah satu bidang yang berkembang sangat cepat dalam industri teknologi.
Berbeda dengan robot industri konvensional yang biasanya dirancang hanya melakukan satu jenis pekerjaan, robot humanoid mempunyai bentuk yang menyerupai manusia dan diharapkan dapat melakukan tugas lebih beragam.
Tujuannya adalah memungkinkan robot bekerja pada lingkungan yang sebenarnya dibuat untuk manusia tanpa harus mengubah seluruh fasilitas.
Misalnya, robot dapat mengambil barang dari rak, membawa komponen atau melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan pekerja manusia.
Namun membuat sebuah robot humanoid bekerja secara mandiri masih menjadi tantangan besar.
Robot harus mampu memahami lingkungan, menjaga keseimbangan, mengenali benda dan mengambil keputusan secara cepat.
Di sinilah perkembangan AI menjadi sangat penting.
Model kecerdasan buatan dapat membantu robot memahami perintah manusia sekaligus kondisi lingkungan di sekitarnya.
Samsung SDS juga memperluas kerja sama dengan perusahaan AI global.
Dalam REAL Summit 2026, perusahaan mengumumkan penguatan kolaborasi dengan OpenAI dan Anthropic.
Samsung SDS menjadi perusahaan Korea Selatan pertama yang mengikuti OpenAI Daybreak Partner Program sebagai pilot partner.
Program tersebut berfokus pada pemanfaatan model AI tingkat lanjut dalam alur kerja keamanan perangkat lunak.
Selain OpenAI, Samsung SDS juga telah membangun kemitraan strategis dengan Anthropic.
Kolaborasi tersebut menunjukkan perusahaan ingin menggunakan berbagai model AI dan tidak hanya bergantung pada satu penyedia.
Samsung SDS menyebut strategi tersebut sebagai bagian dari pendekatan AI full-stack.
Perusahaan menyediakan layanan mulai dari infrastruktur cloud, data, keamanan hingga penerapan model AI untuk kebutuhan bisnis.
Menurut Samsung SDS, tantangan perusahaan saat ini bukan hanya mengadopsi AI.
AI harus benar-benar menghasilkan perubahan nyata terhadap produktivitas dan bisnis.
Data yang disampaikan dalam REAL Summit menunjukkan banyak perusahaan dunia sudah mencoba menggunakan AI, tetapi persentase perusahaan yang benar-benar merasakan kontribusi signifikan terhadap keuntungan masih jauh lebih kecil.
Karena itu perusahaan mulai beralih dari sekadar memasang chatbot menuju AI yang terhubung langsung dengan proses kerja.
Robot menjadi salah satu contoh paling nyata.
Jika AI dapat mengendalikan perangkat fisik, dampaknya tidak hanya berupa dokumen atau jawaban yang dibuat lebih cepat.
AI dapat memindahkan barang, mengatur produksi dan menjalankan proses manufaktur.
Samsung SDS menargetkan penggunaan awal platform robot orchestration pada sektor manufaktur.
Fasilitas produksi perusahaan-perusahaan yang berada dalam Samsung Group berpotensi menjadi salah satu tempat penerapan awal.
Setelah teknologi dan performanya terbukti, perusahaan juga mempertimbangkan ekspansi ke pasar global.
Perkembangan ini menunjukkan persaingan kecerdasan buatan memasuki fase baru.
Setelah beberapa tahun industri berfokus pada chatbot dan AI generatif, perhatian mulai beralih menuju physical AI dan robotika.
Jika rencana Samsung SDS berjalan sesuai jadwal, 2027 dapat menjadi awal ketika berbagai robot dari produsen berbeda mulai dioperasikan sebagai sebuah sistem yang terkoordinasi menggunakan satu platform.
Bagi industri manufaktur, perubahan tersebut berpotensi meningkatkan otomatisasi sekaligus mengubah cara pabrik beroperasi pada masa mendatang.