KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Kecerdasan buatan ternyata tidak hanya digunakan untuk membuat gambar, menulis teks atau menjalankan chatbot.
Google bersama maskapai Cathay Pacific kini memanfaatkan AI untuk membantu mengurangi dampak pemanasan global dari jejak putih pesawat atau contrail.
Cathay Pacific dan Google mengumumkan perluasan uji coba teknologi AI untuk membantu pilot menghindari wilayah udara yang mempunyai kemungkinan tinggi membentuk contrail.
Contrail adalah garis putih yang sering terlihat di belakang pesawat ketika terbang di ketinggian tertentu.
Jejak tersebut terbentuk ketika uap air dari mesin pesawat bertemu udara yang sangat dingin dan lembap.
Sebagian contrail dapat menghilang dengan cepat.
Namun contrail tertentu dapat bertahan lebih lama dan berkembang menyerupai awan tipis.
Jenis inilah yang dapat menahan panas di atmosfer dan berkontribusi terhadap pemanasan.
Google menyebut contrail diperkirakan menyumbang sekitar sepertiga dari total dampak iklim industri penerbangan.
Karena itu mengurangi pembentukan contrail dapat menjadi salah satu cara relatif cepat untuk menurunkan dampak pemanasan penerbangan.
Menariknya, solusi yang diuji Google dan Cathay Pacific tidak membutuhkan perubahan besar terhadap pesawat.
Pesawat tidak harus mengganti mesin atau menggunakan teknologi baru yang mahal.
AI membantu memprediksi wilayah udara tempat contrail kemungkinan terbentuk.
Pilot kemudian dapat melakukan sedikit perubahan ketinggian untuk menghindari wilayah tersebut.
Konsepnya mirip ketika pesawat mengubah ketinggian untuk menghindari turbulensi.
Sistem Google menggabungkan prediksi kecerdasan buatan, citra satelit dan informasi cuaca.
Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi area udara yang mempunyai kondisi dingin dan lembap sehingga berpotensi menghasilkan contrail yang bertahan lama.
Informasi kemudian diberikan kepada tim penerbangan sebelum pesawat lepas landas.
Cathay Pacific juga dapat mengirim pembaruan langsung menuju kokpit melalui koneksi Wi-Fi pesawat dan sistem Electronic Flight Folder milik perusahaan.
Dengan demikian pilot dapat melihat informasi mengenai wilayah yang sebaiknya dihindari bersama dengan data operasional penerbangan lainnya.
Google mengatakan uji coba awal menargetkan lebih dari 100 penerbangan.
Lebih dari 80 penerbangan kemudian benar-benar mengikuti jalur penghindaran contrail.
Berdasarkan analisis citra satelit Google, penerbangan yang mengikuti rekomendasi tersebut menghasilkan penurunan sekitar 40 persen dalam estimasi dampak pemanasan akibat contrail.
Salah satu rute yang digunakan adalah Hong Kong menuju Singapura.
Google mengatakan kondisi atmosfer pada jalur tersebut cukup sering mendukung terbentuknya contrail persisten.
Intervensi pada rute Hong Kong-Singapura bahkan menyumbang lebih dari separuh total pengurangan emisi yang dihitung selama uji coba awal.
Keberhasilan awal tersebut membuat Google dan Cathay Pacific melanjutkan proyek ke tahap kedua.
Uji coba sekarang akan diperluas pada penerbangan di Asia serta rute transpasifik.
Organisasi nonprofit Contrails.org juga bergabung dalam penelitian.
Data yang dikumpulkan nantinya diharapkan membantu peneliti memahami pola pembentukan contrail pada lebih banyak wilayah.
Asia-Pasifik menjadi wilayah penting karena penelitian mengenai penghindaran contrail sebelumnya lebih banyak dilakukan di Amerika Utara dan kawasan Atlantik.
Cathay Pacific juga menjadi maskapai komersial pertama Google di Asia yang menguji teknologi tersebut.
Selain itu, Cathay menjadi maskapai pertama yang menguji metode penghindaran contrail pada penerbangan ultra-long-haul.
Penerbangan ultra-long-haul biasanya berlangsung lebih dari 16 jam dan dapat menempuh jarak sekitar 13.000 kilometer atau lebih.
Rute seperti itu menjadi tantangan menarik karena perubahan kondisi atmosfer terjadi sepanjang perjalanan.
AI harus memberikan informasi yang cukup akurat tanpa mengganggu keselamatan maupun efisiensi operasi.
Google menekankan bahwa keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas.
Perubahan ketinggian hanya dilakukan apabila sesuai dengan aturan dan kondisi operasional penerbangan.
Pilot tetap mempunyai keputusan akhir.
Teknologi AI hanya memberikan informasi mengenai kemungkinan terbentuknya contrail.
Pengujian tersebut menjadi menarik karena sektor penerbangan termasuk salah satu industri yang sulit melakukan dekarbonisasi.
Mobil dapat beralih menuju baterai listrik.
Namun pesawat jarak jauh membutuhkan energi sangat besar sehingga mengganti bahan bakar fosil sepenuhnya jauh lebih sulit.
Sustainable Aviation Fuel atau SAF menjadi salah satu solusi yang sedang dikembangkan.
Pesawat listrik dan hidrogen juga terus diteliti.
Namun penerapannya dalam skala global membutuhkan waktu panjang.
Penghindaran contrail mempunyai keuntungan berbeda.
Teknologi tersebut dapat digunakan menggunakan pesawat dan bahan bakar yang tersedia sekarang.
Jika prediksi AI cukup akurat, maskapai hanya membutuhkan perubahan kecil pada rute atau ketinggian.
Namun metode tersebut juga mempunyai tantangan.
Mengubah ketinggian dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar apabila rute alternatif kurang efisien.
Karena itu sistem harus mempertimbangkan apakah manfaat menghindari contrail lebih besar dibandingkan tambahan emisi yang mungkin muncul dari perubahan penerbangan.
Data dari uji coba berskala besar akan membantu menjawab pertanyaan tersebut.
Google berharap penelitian bersama Cathay Pacific dapat memberikan bukti bahwa teknologi penghindaran contrail layak digunakan dalam operasi penerbangan komersial.
Apabila hasilnya konsisten, sistem serupa suatu hari dapat diadopsi lebih banyak maskapai.
Penggunaan AI pada proyek tersebut juga menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan mulai diterapkan pada persoalan di luar komputer dan smartphone.
AI dapat digunakan untuk membaca pola atmosfer, memprediksi kondisi beberapa jam ke depan dan memberikan rekomendasi kepada pilot.
Dampaknya bahkan dapat terlihat pada sesuatu yang selama ini dianggap sederhana seperti jejak putih di belakang pesawat.
Jika teknologi ini dapat diterapkan secara luas, sedikit perubahan ketinggian pada ribuan penerbangan berpotensi memberikan dampak iklim yang cukup besar tanpa harus menunggu hadirnya generasi pesawat baru.