Teknologi
Hilmi An Naufal

93 Persen Perusahaan Besar Bahas Kedaulatan Digital, Ketergantungan Cloud dan AI Mulai Dianggap Risiko Serius

93 Persen Perusahaan Besar Bahas Kedaulatan Digital, Ketergantungan Cloud dan AI Mulai Dianggap Risiko Serius

08 September 2026 | 14:51

KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Ketergantungan perusahaan terhadap layanan cloud, kecerdasan buatan dan penyedia teknologi tertentu mulai dianggap sebagai risiko bisnis yang sama pentingnya dengan ketergantungan terhadap energi maupun rantai pasokan fisik.

Laporan terbaru Capgemini Research Institute menunjukkan isu kedaulatan digital kini sudah masuk ke ruang rapat pimpinan perusahaan di berbagai negara.

Survei dilakukan terhadap 1.300 eksekutif bisnis dan teknologi dari organisasi besar.

Hasilnya, sebanyak 93 persen organisasi mengatakan isu digital sovereignty atau kedaulatan digital sudah pernah dibahas pada tingkat dewan direksi.

Angka tersebut menunjukkan persoalan teknologi tidak lagi hanya menjadi urusan departemen IT.

Pimpinan perusahaan mulai memandang infrastruktur digital sebagai bagian strategis dari keberlangsungan bisnis.

Kedaulatan digital pada dasarnya berkaitan dengan kemampuan organisasi mempertahankan kontrol terhadap teknologi, data dan sistem penting yang mereka gunakan.

Sebuah perusahaan modern dapat bergantung pada banyak layanan pihak ketiga.

Email dijalankan pada cloud.

Database berada di pusat data perusahaan lain.

Sistem analitik menggunakan platform pihak ketiga.

Kecerdasan buatan menggunakan model yang dikembangkan perusahaan lain.

Ketika semuanya berjalan normal, model tersebut memberikan banyak keuntungan.

Perusahaan tidak harus membangun seluruh infrastrukturnya sendiri.

Namun ketergantungan dapat menjadi masalah apabila layanan tiba-tiba tidak tersedia.

Penyebabnya bisa bermacam-macam.

Gangguan pusat data dapat menghentikan aplikasi.

Serangan siber dapat menonaktifkan sistem.

Perubahan regulasi dapat membatasi penggunaan teknologi tertentu.

Konflik geopolitik dan kontrol ekspor juga dapat membuat sebuah perusahaan kehilangan akses terhadap hardware maupun software yang sebelumnya digunakan.

Kondisi inilah yang membuat organisasi mulai meninjau kembali ketergantungan teknologinya.

Capgemini menemukan mayoritas perusahaan tidak menganggap kedaulatan digital berarti harus membuat seluruh teknologi sendiri.

Sebanyak 59 persen organisasi justru menilai kedaulatan digital total bukan tujuan yang realistis.

Alasannya cukup sederhana.

Dunia teknologi terlalu kompleks untuk memungkinkan sebuah perusahaan menguasai seluruh lapisan infrastrukturnya secara mandiri.

Sebuah perusahaan mungkin dapat membangun software sendiri.

Namun server menggunakan prosesor perusahaan lain.

Jaringan menggunakan perangkat perusahaan berbeda.

Pusat data dapat menggunakan penyedia cloud global.

Model AI juga dikembangkan oleh perusahaan lain.

Karena itu banyak organisasi memilih pendekatan yang disebut resilient interdependence.

Artinya, perusahaan tetap menggunakan layanan pihak ketiga tetapi mempertahankan kontrol terhadap bagian yang dianggap sangat kritis.

Dua pertiga organisasi dalam survei Capgemini menggambarkan kedaulatan digital menggunakan pendekatan seperti ini.

Contohnya adalah data penting.

Perusahaan mungkin menggunakan layanan cloud tetapi memastikan mereka mempunyai mekanisme untuk memindahkan data apabila suatu saat ingin mengganti penyedia.

Model AI juga mulai menjadi perhatian.

Perusahaan yang melatih sistem kecerdasan buatan menggunakan data internal dapat mempunyai aset model yang sangat bernilai.

Apabila model tersebut hanya dapat dijalankan pada satu platform tertentu, perusahaan dapat mengalami ketergantungan besar terhadap penyedia platform.

Hal yang sama berlaku terhadap software bisnis.

Sistem ERP, database, keamanan dan produktivitas dapat menjadi sangat sulit diganti apabila sudah digunakan selama bertahun-tahun.

Reuters melaporkan hampir setengah organisasi yang disurvei memperkirakan perpindahan dari penyedia teknologi kritis membutuhkan waktu antara tiga bulan hingga satu tahun.

Lebih dari sepertiga bahkan memperkirakan prosesnya akan membutuhkan waktu lebih lama.

Angka tersebut menunjukkan vendor lock-in dapat menjadi persoalan serius.

Vendor lock-in terjadi ketika pelanggan begitu bergantung terhadap teknologi sebuah penyedia sehingga berpindah menuju layanan lain menjadi mahal, sulit atau memakan waktu.

Misalnya sebuah perusahaan menggunakan database dengan teknologi tertentu selama bertahun-tahun.

Ribuan aplikasi mungkin sudah dibangun untuk terhubung dengan database tersebut.

Memindahkannya bukan hanya masalah memindahkan data.

Software, integrasi dan proses kerja juga harus disesuaikan.

Masalah serupa dapat semakin besar pada era AI.

Perusahaan mulai membuat agen AI yang terhubung dengan sistem internal.

Jika seluruh agen tersebut hanya dapat bekerja menggunakan satu model atau satu platform cloud, mengganti penyedia pada masa depan dapat menjadi sangat rumit.

Ancaman keamanan siber juga mendorong perubahan cara berpikir perusahaan.

Serangan terhadap penyedia teknologi dapat memberikan dampak kepada banyak pelanggan sekaligus.

Kasus gangguan layanan cloud maupun serangan ransomware dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bagaimana satu insiden dapat menyebar ke berbagai organisasi.

Konflik geopolitik juga membuat risiko meningkat.

Teknologi semikonduktor misalnya mempunyai rantai pasokan yang sangat terkonsentrasi.

Chip dapat dirancang di satu negara, diproduksi di negara lain dan dikemas di lokasi berbeda.

Peralatan pabrik chip juga berasal dari beberapa perusahaan khusus.

Jika salah satu bagian rantai pasokan terganggu, dampaknya dapat terasa secara global.

Perusahaan mulai menggunakan konsep kedaulatan digital untuk memetakan teknologi mana yang benar-benar tidak dapat kehilangan akses.

Tidak semua sistem harus dimiliki sendiri.

Namun perusahaan perlu mengetahui alternatif apabila pemasok utama berhenti tersedia.

Strategi dapat berupa menggunakan lebih dari satu cloud, menyimpan cadangan data di lingkungan berbeda atau menggunakan teknologi yang mempunyai standar terbuka.

Perusahaan juga dapat memastikan data paling penting dapat diekspor menggunakan format yang tidak terikat pada satu vendor.

Pada sistem AI, perusahaan dapat mempertimbangkan penggunaan lebih dari satu model.

Misalnya sebuah pekerjaan tertentu menggunakan model dari penyedia A, sementara pekerjaan lain menggunakan penyedia B.

Model open-weight juga dapat menjadi pilihan untuk beberapa skenario karena dapat dijalankan pada infrastruktur yang dikendalikan perusahaan sendiri.

Namun meningkatkan kedaulatan digital mempunyai biaya.

Menggunakan beberapa sistem sekaligus dapat membuat operasional lebih kompleks.

Perusahaan harus mempunyai staf yang memahami teknologi berbeda.

Biaya infrastruktur juga dapat meningkat.

Karena itu organisasi harus mencari keseimbangan antara ketahanan, biaya dan kemudahan penggunaan.

Lebih dari separuh responden Capgemini tetap percaya kedaulatan digital dapat diperkuat tanpa harus mengorbankan kemampuan perusahaan bersaing.

Strateginya bukan menutup diri dari teknologi global.

Perusahaan tetap dapat bekerja sama dengan penyedia cloud, perusahaan AI maupun vendor hardware.

Namun mereka harus memahami bagian mana yang benar-benar kritis dan memastikan terdapat rencana apabila layanan tersebut terganggu.

Perkembangan ini penting karena perusahaan semakin bergantung pada teknologi.

Beberapa dekade lalu gangguan komputer mungkin hanya memperlambat pekerjaan kantor.

Sekarang gangguan digital dapat menghentikan pabrik, transaksi bank, layanan kesehatan, logistik hingga transportasi.

AI membuat ketergantungan tersebut semakin dalam.

Ketika kecerdasan buatan mulai menjalankan proses bisnis dan mengambil keputusan otomatis, akses terhadap model dan data menjadi aset strategis.

Karena itu pembicaraan mengenai kedaulatan digital diperkirakan akan semakin sering terdengar.

Bagi perusahaan, pertanyaan yang harus dijawab bukan lagi sekadar apakah menggunakan cloud atau AI.

Pertanyaannya mulai berubah menjadi: apa yang akan terjadi apabila teknologi yang paling dibutuhkan tiba-tiba tidak dapat digunakan?

Kemampuan menjawab pertanyaan tersebut dapat menentukan seberapa tangguh sebuah organisasi menghadapi gangguan digital di masa depan.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna