Teknologi
Hilmi An Naufal

OpenAI Pilih Malaysia untuk Tambah Kapasitas AI, Gandeng Firmus yang Didukung Nvidia

OpenAI Pilih Malaysia untuk Tambah Kapasitas AI, Gandeng Firmus yang Didukung Nvidia

08 September 2026 | 14:47

KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Asia Tenggara semakin menjadi wilayah strategis dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan global.

OpenAI resmi menandatangani kerja sama dengan perusahaan infrastruktur AI asal Australia, Firmus, untuk mendapatkan kapasitas komputasi dari dua pusat data di Malaysia.

Kesepakatan tersebut diumumkan pada Selasa, 8 September 2026.

Kerja sama dilakukan dalam jangka waktu beberapa tahun dan menjadikan OpenAI sebagai salah satu pelanggan utama atau anchor customer untuk fasilitas Firmus di Malaysia.

Firmus merupakan perusahaan penyedia infrastruktur AI yang mendapat dukungan investasi dari Nvidia serta sejumlah perusahaan investasi besar.

Perusahaan membangun fasilitas yang disebut AI Factory, yaitu pusat data yang secara khusus dirancang untuk menjalankan komputasi kecerdasan buatan dalam skala sangat besar.

Dalam pusat data seperti ini terdapat ribuan GPU dan akselerator komputasi yang saling terhubung.

Sistem tersebut digunakan untuk melatih maupun menjalankan model kecerdasan buatan.

Kebutuhan komputasi perusahaan AI meningkat sangat cepat karena model generasi baru mempunyai jumlah parameter serta kemampuan yang semakin besar.

OpenAI misalnya membutuhkan infrastruktur untuk melatih model, menjalankan ChatGPT dan menyediakan layanan AI kepada pengguna serta perusahaan di berbagai negara.

Semakin banyak pengguna yang memakai AI, semakin besar pula kapasitas pusat data yang diperlukan.

Firmus mengatakan dua fasilitas Malaysia nantinya menyediakan kapasitas komputasi khusus bagi OpenAI.

Nilai kontrak antara kedua perusahaan tidak diumumkan.

Namun kesepakatan tersebut membuat total kapasitas yang sudah dikontrak oleh pelanggan Firmus menjadi lebih dari 900 megawatt.

Angka tersebut menggambarkan skala kebutuhan energi industri AI modern.

Sebagai perbandingan, sebuah pusat data AI skala besar dapat membutuhkan listrik yang setara dengan konsumsi puluhan bahkan ratusan ribu rumah tergantung ukuran dan tingkat pemanfaatannya.

Firmus saat ini mempunyai portofolio tujuh AI Factory yang tersebar di Australia, Singapura, Indonesia dan Malaysia.

Dua fasilitas sudah beroperasi di Australia dan Singapura.

Lima fasilitas lainnya masih dalam tahap pengembangan dan ditargetkan mulai tersedia dalam sekitar 24 bulan mendatang.

Ekspansi ke Malaysia menjadi bagian penting dari strategi perusahaan memperluas jaringan komputasi AI di kawasan Asia-Pasifik.

Malaysia sendiri berkembang sangat cepat menjadi salah satu pusat industri data center terbesar di Asia Tenggara.

Lokasinya yang dekat dengan Singapura, ketersediaan lahan serta investasi infrastruktur membuat banyak perusahaan teknologi memilih negara tersebut.

Amazon, Microsoft dan sejumlah perusahaan pusat data global sebelumnya juga telah mengumumkan investasi di Malaysia.

Namun pertumbuhan pusat data membawa tantangan baru.

Salah satunya adalah kebutuhan listrik.

Reuters melaporkan pusat data menyumbang sekitar 9,3 persen konsumsi listrik Malaysia pada Agustus 2026 ketika temperatur tinggi meningkatkan kebutuhan pendinginan.

Pendinginan merupakan salah satu komponen terbesar dalam konsumsi energi sebuah pusat data.

Ribuan GPU yang bekerja sepanjang waktu menghasilkan panas dalam jumlah sangat besar.

Apabila panas tersebut tidak dibuang secara efektif, performa perangkat dapat menurun bahkan menyebabkan kerusakan.

Karena itu pusat data AI membutuhkan sistem pendinginan dan pasokan energi dengan skala sangat besar.

Firmus mengatakan mereka mengembangkan pendekatan pusat data yang lebih efisien untuk menjalankan beban kerja AI.

Perusahaan juga berencana menggunakan generasi prosesor Nvidia berikutnya pada ekspansi infrastrukturnya di Asia-Pasifik.

Keputusan OpenAI menggunakan fasilitas di Malaysia memperlihatkan perubahan peta infrastruktur AI dunia.

Selama beberapa tahun terakhir, sebagian besar pusat komputasi terbesar terkonsentrasi di Amerika Serikat.

Namun pertumbuhan pengguna AI di Asia mendorong perusahaan menempatkan kapasitas komputasi lebih dekat dengan kawasan tersebut.

Jarak pusat data dapat memengaruhi latency atau waktu yang dibutuhkan data untuk berpindah antara pengguna dan server.

Membangun fasilitas di berbagai kawasan juga membantu perusahaan mengurangi ketergantungan pada satu wilayah.

Asia Tenggara mempunyai populasi digital sangat besar.

Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand dan Filipina mempunyai ratusan juta pengguna internet.

Penggunaan layanan AI di wilayah tersebut juga terus meningkat.

Karena itu investasi pusat data diperkirakan masih akan berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

Indonesia bahkan termasuk dalam salah satu negara tempat Firmus mengembangkan jaringan AI Factory.

Meski kesepakatan terbaru OpenAI secara khusus menggunakan dua fasilitas di Malaysia, ekspansi Firmus menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan semakin penting bagi industri AI.

Perkembangan tersebut juga membawa peluang ekonomi.

Pembangunan pusat data membutuhkan tenaga teknik, konstruksi, jaringan, kelistrikan hingga sistem pendinginan.

Namun pemerintah juga harus mempertimbangkan kebutuhan air dan energi agar pembangunan infrastruktur digital tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.

Kesepakatan OpenAI dan Firmus akhirnya memperlihatkan satu hal.

Persaingan AI tidak hanya membutuhkan model yang pintar.

Di balik chatbot yang dapat menjawab dalam hitungan detik terdapat pusat data sangat besar, ribuan chip dan listrik dalam jumlah luar biasa.

Semakin cepat teknologi AI berkembang, semakin besar pula kebutuhan infrastruktur untuk menjalankannya.

Dan Malaysia kini menjadi salah satu negara Asia Tenggara yang mendapatkan peran penting dalam perlombaan tersebut.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna