keboncinta.com-- Ketakutan akan jarum timbangan yang melonjak setelah menyantap makanan di atas jam tujuh malam telah lama menjadi hantu bagi mereka yang sedang berupaya menjaga berat badan. Ada sebuah kepercayaan kolektif bahwa metabolisme tubuh secara ajaib akan berhenti beroperasi begitu matahari terbenam, sehingga setiap suap nasi yang masuk di malam hari akan langsung diubah menjadi cadangan lemak secara instan. Namun, sains nutrisi modern memberikan perspektif yang jauh lebih logis daripada sekadar ancaman jam dinding. Tubuh manusia sebenarnya tidak memiliki sakelar otomatis yang mengubah mode pembakaran menjadi mode penyimpanan lemak hanya karena langit sudah gelap. Prinsip dasar dari perubahan berat badan tetap bertumpu pada hukum termodinamika sederhana, yaitu keseimbangan energi antara total kalori yang masuk dibandingkan dengan total kalori yang dibakar dalam kurun waktu dua puluh empat jam.
Penyebab utama mengapa makan malam sering dikambinghitamkan sebagai biang keladi kegemukan sebenarnya bukan terletak pada waktunya, melainkan pada perilaku makan yang menyertainya. Banyak orang cenderung melakukan makan tanpa sadar atau mindless eating sambil menonton televisi atau bersantai di penghujung hari sebagai cara untuk melepas stres. Pada momen inilah, godaan untuk mengonsumsi makanan padat energi namun rendah nutrisi, seperti keripik, gorengan, atau minuman manis, menjadi sangat sulit dibendung. Jika Anda sudah memenuhi kuota kalori harian dari sarapan hingga sore hari, lalu menambah porsi besar di malam hari, maka surplus kalori itulah yang menyebabkan kenaikan berat badan, bukan karena jam makannya yang salah. Seandainya Anda makan malam dengan porsi yang terkontrol dan tetap berada dalam batas kebutuhan energi harian, tubuh akan tetap mengolahnya sebagai sumber energi seperti halnya makan siang.
Meski demikian, ada alasan medis mengapa kita sebaiknya tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur, namun alasannya lebih berkaitan dengan kualitas istirahat daripada penimbunan lemak secara langsung. Tidur dengan perut yang terlalu penuh dapat memicu gangguan pencernaan seperti refluks asam lambung atau heartburn, yang pada akhirnya merusak kualitas tidur Anda. Tidur yang buruk secara tidak langsung akan mengacaukan hormon pengatur rasa lapar—ghrelin dan leptin—yang membuat Anda merasa lebih cepat lapar dan mendambakan makanan tinggi gula keesokan harinya. Jadi, alih-alih terobsesi pada jam berapa Anda harus berhenti makan secara kaku, jauh lebih bijak untuk memperhatikan kualitas nutrisi yang masuk ke dalam piring. Fokuslah pada total asupan harian dan berikan jeda sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur agar proses pencernaan tidak mengganggu waktu istirahat Anda.