Keboncinta.com-- Di dunia kerja dan kehidupan sosial, jabatan sering dianggap simbol keberhasilan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula rasa hormat yang diterimanya. Padahal sejatinya, martabat tidak lahir dari posisi, tapi dari cara seseorang memperlakukan orang lain.
1. Jabatan Bisa Hilang, Integritas Tidak
Jabatan adalah amanah yang bisa datang dan pergi. Hari ini bisa dipuji, besok bisa tergeser. Namun integritas—kejujuran, tanggung jawab, dan etika—itulah yang akan tetap dikenang. Orang yang bermartabat tidak butuh pangkat tinggi untuk dihormati; sikapnya sendiri sudah cukup menjadi bukti.
2. Martabat Tumbuh dari Cara Kita Memimpin Diri Sendiri
Pemimpin sejati tidak selalu duduk di kursi direktur. Martabat bukan soal seberapa banyak orang mematuhi perintahmu, tapi seberapa besar dampak kebaikan yang kamu tularkan.
3. Rendah Hati di Tengah Kekuasaan
Rasulullah ļ·ŗ, pemimpin tertinggi umat, tetap duduk di lantai, makan bersama sahabat, dan menjahit pakaiannya sendiri. Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari no. 6029). Akhlak, bukan jabatan, yang mengangkat derajat seseorang di sisi Tuhan maupun manusia.
4. Hormat yang Tulus Tidak Bisa Dibeli
Hormat karena jabatan akan hilang begitu tanda tangan tak lagi berharga. Tapi hormat karena kebaikan akan bertahan lama. Martabat sejati adalah tentang menjadi manusia yang beretika, bukan yang berkuasa.
Pangkat Bisa Naik, Martabat Harus Dijaga
Jabatan hanyalah peran sementara. Namun martabat—yang lahir dari kejujuran, tanggung jawab, dan empati—adalah nilai abadi yang menentukan siapa kita sebenarnya.
Contributor: Tegar Bagus Pribadi