Khazanah
Hilmi An Naufal

Transformasi Pembelajaran Digital Menuntut Guru Lebih Adaptif

Transformasi Pembelajaran Digital Menuntut Guru Lebih Adaptif

03 Agustus 2026 | 05:59

keboncinta— Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan terus berkembang dan mulai mengubah cara guru menyampaikan materi, berkomunikasi dengan siswa, serta melakukan penilaian. Namun, perubahan menuju pembelajaran digital belum dapat berlangsung secara merata di seluruh sekolah Indonesia.

Keterbatasan jaringan internet, kurangnya materi digital yang terstruktur, kemampuan guru dalam menggunakan teknologi, hingga keamanan data menjadi sejumlah tantangan yang masih perlu diselesaikan.

Artikel Pendidikan.id menyoroti dua persoalan utama yang sering dihadapi sekolah, yaitu koneksi internet yang lambat dan mahal serta belum tersedianya bahan pembelajaran digital yang lengkap dan dapat digunakan tanpa internet.

Pembelajaran digital bukan sekadar menggunakan perangkat

Transformasi digital dalam pendidikan tidak hanya berarti mengganti papan tulis dengan layar interaktif atau membagikan laptop kepada sekolah.

Teknologi perlu digunakan untuk membantu siswa memahami materi, berdiskusi, berkreasi, menyelesaikan masalah, dan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menarik.

Apabila perangkat hanya digunakan untuk menampilkan presentasi atau memutar video tanpa kegiatan lanjutan, manfaatnya bagi proses belajar dapat menjadi terbatas.

Guru tetap berperan menentukan tujuan pembelajaran, memilih materi, memberikan penjelasan, mendampingi siswa, serta mengevaluasi pemahaman mereka.

Karena itu, keberhasilan digitalisasi lebih banyak ditentukan oleh cara teknologi digunakan daripada sekadar jumlah perangkat yang tersedia.

Akses internet belum merata

Koneksi internet menjadi salah satu unsur penting dalam pembelajaran digital. Guru membutuhkannya untuk mengunduh materi, membuka platform pembelajaran, mengadakan kelas daring, dan mencari sumber tambahan.

Namun, kondisi jaringan di setiap daerah berbeda. Sekolah di perkotaan mungkin telah memiliki internet yang stabil, sedangkan sekolah di wilayah terpencil masih menghadapi sinyal lemah dan biaya koneksi yang relatif tinggi.

Ketika internet tidak dapat diandalkan, guru akan kesulitan menggunakan video, aplikasi, atau bahan ajar daring secara rutin.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengunduh materi ketika koneksi tersedia. Setelah itu, buku digital, video, soal latihan, dan bahan presentasi disimpan agar dapat digunakan kembali secara luring.

Sekolah juga dapat membangun perpustakaan digital lokal yang dapat diakses menggunakan jaringan internal tanpa mengandalkan internet publik.

Materi digital perlu disusun secara terarah

Tantangan berikutnya adalah ketersediaan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Internet menyediakan banyak video, gambar, dan dokumen. Namun, guru masih harus memeriksa kesesuaian materi dengan usia siswa, kurikulum, konteks daerah, dan tingkat kemampuan kelas.

Bahan yang ditemukan juga belum tentu bebas dari iklan, informasi keliru, bahasa yang tidak sesuai, atau tautan menuju konten lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran.

Guru membutuhkan koleksi materi yang telah disusun berdasarkan jenjang dan mata pelajaran. Dengan demikian, waktu persiapan tidak habis hanya untuk mencari bahan dari berbagai situs.

Artikel Pendidikan.id menyarankan guru berbagi sumber belajar dengan sesama pendidik dan membuat materi digital sendiri apabila belum menemukan bahan yang sesuai.

Materi sederhana dapat dibuat dalam bentuk presentasi, lembar kerja digital, kuis, rekaman penjelasan, infografik, maupun video singkat.

Kemampuan digital guru menjadi faktor penting

Tidak semua guru memiliki tingkat pengalaman teknologi yang sama. Sebagian telah terbiasa menggunakan platform pembelajaran, sedangkan lainnya masih membutuhkan pendampingan untuk mengoperasikan perangkat dan aplikasi.

Pelatihan sebaiknya tidak hanya membahas cara menyalakan alat atau membuka aplikasi. Guru juga perlu mempelajari cara merancang pembelajaran, memilih media, mengelola kelas, membuat asesmen, serta melindungi data pengguna.

Kemendikdasmen menyatakan bahwa program digitalisasi pembelajaran tidak hanya terdiri atas perangkat keras. Program tersebut juga mencakup konten interaktif dan bimbingan teknis agar guru dapat merancang pembelajaran secara kreatif dan inovatif.

Pada 2025, Kemendikdasmen juga menyelenggarakan bimbingan teknis digitalisasi pembelajaran bagi guru dan pemangku kepentingan pendidikan. Pemerintah menekankan bahwa digitalisasi membutuhkan perubahan cara berpikir dan cara mengajar, bukan sekadar penyediaan perangkat.

Pelatihan idealnya berlangsung secara berkelanjutan. Setelah mendapatkan materi dasar, guru perlu diberi kesempatan mencoba, berdiskusi, memperoleh umpan balik, dan membagikan praktik baik.

Pemerintah memperluas digitalisasi sekolah

Pemerintah menjalankan program digitalisasi pembelajaran sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu dan pemerataan pendidikan.

Pada 2025, program tersebut menargetkan 288.865 sekolah. Dukungan yang diberikan mencakup Papan Interaktif Digital, laptop, materi pembelajaran, dan pelatihan bagi guru.

Perangkat diharapkan membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih visual, interaktif, dan kontekstual.

Namun, distribusi perangkat tetap harus diikuti dengan kesiapan listrik, koneksi, keamanan ruang penyimpanan, pemeliharaan, dan dukungan teknis.

Sekolah juga membutuhkan anggaran untuk memperbaiki perangkat apabila mengalami kerusakan. Tanpa perencanaan pemeliharaan, teknologi berpotensi tidak dapat digunakan dalam jangka panjang.

Konten tanpa internet bisa menjadi alternatif

Sekolah yang memiliki jaringan terbatas dapat menggunakan sistem pembelajaran luring.

Buku, video, latihan soal, dan materi lain dapat disimpan dalam komputer, server lokal, penyimpanan eksternal, atau perangkat yang tersedia di sekolah.

Model tersebut memungkinkan guru dan siswa membuka bahan ajar melalui jaringan lokal meskipun tidak tersambung ke internet.

Materi luring juga dapat mengurangi ketergantungan pada koneksi dan membantu sekolah mengendalikan konten yang dapat diakses siswa.

Pendidikan.id memperkenalkan Kipin MAX dan Kipin Classroom sebagai pilihan sistem pembelajaran yang menyediakan konten untuk digunakan dengan atau tanpa internet. Layanan tersebut diakses melalui aplikasi Kipin School dan menawarkan fitur mengunduh materi untuk digunakan kembali.

Kipin merupakan produk komersial dari Pendidikan.id. Sekolah tetap perlu membandingkan pilihan yang tersedia serta memeriksa biaya, fitur, kualitas materi, dukungan teknis, keamanan data, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan siswa.

Sekolah juga dapat menggunakan sumber belajar resmi pemerintah, materi terbuka, serta konten yang dikembangkan oleh guru.

Kolaborasi membantu memperkaya bahan ajar

Guru tidak harus membuat seluruh materi digital seorang diri.

Kolaborasi dapat dilakukan melalui kelompok kerja guru, musyawarah guru mata pelajaran, komunitas belajar, maupun kerja sama antarsekolah.

Setiap guru dapat menyumbangkan materi sesuai keahliannya. Ada yang membuat video penjelasan, menyusun soal, menyiapkan presentasi, atau memeriksa kesesuaian isi.

Materi yang telah dibuat kemudian dapat digunakan bersama dan diperbaiki berdasarkan pengalaman di kelas.

Pendekatan ini dapat mengurangi beban kerja sekaligus memperluas variasi sumber belajar yang tersedia.

Sekolah juga dapat melibatkan perpustakaan, perguruan tinggi, komunitas pendidikan, pemerintah daerah, dan penyedia teknologi untuk mendukung pengembangan bahan ajar.

Keamanan dan privasi perlu diperhatikan

Penggunaan teknologi membawa risiko terhadap keamanan akun dan data pribadi.

Sekolah perlu melindungi nama, alamat, nomor identitas, foto, nilai, serta informasi lain milik siswa dan guru.

Akun sebaiknya menggunakan kata sandi yang kuat dan tidak dibagikan kepada orang lain. Aplikasi juga perlu diperiksa sebelum digunakan, terutama mengenai jenis data yang dikumpulkan dan pihak yang dapat mengaksesnya.

Guru perlu mengajarkan etika digital kepada siswa. Materinya dapat mencakup cara berkomunikasi dengan sopan, mengenali informasi palsu, mencegah perundungan siber, dan tidak membagikan data pribadi secara sembarangan.

Sekolah juga perlu menyiapkan prosedur pelaporan apabila terjadi penyalahgunaan akun, kebocoran data, penipuan, atau gangguan keamanan lainnya.

Orang tua tetap perlu dilibatkan

Pembelajaran digital sering berlanjut di luar lingkungan sekolah. Siswa dapat mengakses tugas, video, dan aplikasi dari rumah.

Karena itu, orang tua perlu mengetahui platform yang digunakan, tujuan kegiatan, serta durasi pemakaian perangkat.

Sekolah dapat memberikan panduan sederhana mengenai cara masuk ke aplikasi, mengirim tugas, menjaga keamanan akun, dan menghubungi guru apabila terjadi kendala.

Keterlibatan orang tua bukan berarti mereka harus mengerjakan tugas anak.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna