Keboncinta.com-- Pertanyaan “kapan nikah?” sering dianggap biasa, bahkan lucu, terutama dalam pertemuan keluarga atau acara kumpul-kumpul. Padahal, bagi sebagian orang, pertanyaan ini bukan candaan ringan—melainkan tekanan emosional yang bisa menyakitkan. Normalisasi pertanyaan semacam ini justru memperlihatkan kurangnya empati dalam budaya kita.
Setiap orang punya perjalanan hidup berbeda. Tidak semua orang ingin menikah cepat, dan tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bertemu pasangan. Ada yang sedang fokus membangun karier, ada yang baru melalui hubungan sulit, ada yang belum siap secara mental atau finansial. Mengasumsikan bahwa semua orang wajib menikah hanya menyederhanakan realitas yang kompleks.
Pertanyaan itu bisa menyentuh luka yang tidak terlihat. Bagi sebagian orang, pertanyaan “kapan nikah?” bisa mengingatkan pada tekanan keluarga, hubungan yang gagal, atau kondisi pribadi yang belum siap dibagikan. Bahkan, bagi mereka yang sedang berjuang dalam hubungan atau menghadapi masalah kesehatan reproduksi, pertanyaan ini bisa terasa seperti menaburkan garam pada luka.
Tidak semua hal pantas dijadikan bahan candaan. Banyak orang bertanya tanpa niat buruk, tetapi dampaknya tetap bisa menyakitkan. Humor yang menyentuh ranah personal—status hubungan, finansial, atau tubuh—sering kali menciptakan rasa tidak nyaman. Candaan seharusnya membuat orang tertawa bersama, bukan membuat seseorang merasa terpojok.
Lebih baik belajar bertanya dengan empati. Daripada menanyakan sesuatu yang personal, cobalah topik percakapan yang aman dan menyenangkan: hobi baru, pekerjaan, rencana liburan, atau pengalaman menarik. Percakapan tetap hangat tanpa membuat orang lain merasa dihakimi.
Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi pertanyaan “kapan nikah?”. Tidak lucu, tidak perlu, dan bisa melukai. Menghargai privasi dan perjalanan orang lain adalah bentuk empati sederhana yang membuat interaksi sosial lebih sehat dan manusiawi.