keboncinta.com-- Memiliki anak yang penurut, tidak pernah membantah, selalu menuruti perintah, dan jarang membuat masalah tentu menjadi kebanggaan banyak orang tua. Anak seperti ini sering diberi label “anak baik” dan dijadikan contoh bagi saudara atau teman sebayanya. Namun di balik kepatuhan yang terlihat sempurna, ada potensi bahaya tersembunyi yang jarang disadari. Anak yang terlalu penurut dan tidak pernah berontak bisa saja sedang memendam tekanan emosional yang tidak terlihat dari luar.
Pada dasarnya, setiap anak memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan pendapat, keinginan, bahkan ketidaksetujuan. Fase membantah atau menunjukkan sikap berbeda dari orang tua adalah bagian normal dari perkembangan psikologis. Ketika anak sama sekali tidak pernah menolak, bisa jadi ia belajar bahwa pendapatnya tidak penting atau takut kehilangan kasih sayang jika bersikap berbeda. Kepatuhan yang berlebihan sering kali lahir dari rasa takut, bukan dari pemahaman.
Anak dengan “sindrom anak baik” cenderung tumbuh menjadi pribadi yang people pleaser, yaitu selalu ingin menyenangkan orang lain meski harus mengorbankan diri sendiri. Mereka sulit mengatakan tidak, merasa bersalah saat mengecewakan orang lain, dan sering memendam emosi negatif. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu stres, kecemasan, bahkan krisis identitas karena anak tidak terbiasa mengenali dan menyuarakan kebutuhannya sendiri.
Selain itu, anak yang terlalu penurut bisa kesulitan mengambil keputusan secara mandiri. Karena terbiasa diarahkan dan mengikuti aturan tanpa ruang diskusi, mereka tidak terlatih mempertimbangkan pilihan atau menghadapi konsekuensi. Saat dewasa, mereka mungkin terlihat baik dan sopan, tetapi rentan dimanfaatkan atau bingung menentukan arah hidupnya sendiri.
Orang tua perlu memahami bahwa anak yang sehat secara emosional bukanlah anak yang selalu setuju, melainkan anak yang mampu menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat. Ketika anak berani mengatakan “aku tidak suka” atau “aku punya pendapat lain”, itu bukan tanda pembangkangan, melainkan tanda bahwa ia sedang belajar menjadi individu yang mandiri. Tugas orang tua bukan mematikan suara itu, melainkan mengarahkannya agar tetap sopan dan bertanggung jawab. Menciptakan ruang aman untuk berdiskusi sangat penting. Dengarkan alasan anak, validasi perasaannya, dan ajarkan cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa sikap agresif. Dengan begitu, anak belajar bahwa ia dicintai bukan karena selalu patuh, tetapi karena dirinya berharga apa adanya. Ia juga belajar bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut.
Menjadi anak baik tentu bukan hal yang salah. Namun ketika kebaikan itu lahir dari tekanan untuk selalu menyenangkan orang lain, di situlah masalah mulai muncul. Orang tua perlu peka melihat apakah kepatuhan anak berasal dari kesadaran atau dari ketakutan. Karena pada akhirnya, tujuan parenting bukan mencetak anak yang sekadar patuh, melainkan anak yang berkarakter, berani, dan mampu berdiri tegak dengan suaranya sendiri.