Emotional Validation: Cara Menanggapi Tangisan Anak Tanpa Harus Bilang "Udah, Jangan Nangis"

Emotional Validation: Cara Menanggapi Tangisan Anak Tanpa Harus Bilang "Udah, Jangan Nangis"

20 Februari 2026 | 00:18

keboncinta.com--  Kalimat “udah, jangan nangis” mungkin menjadi respons paling spontan yang keluar dari mulut orang tua ketika anak mulai menangis. Niatnya baik, ingin anak segera tenang dan suasana kembali kondusif. Namun tanpa disadari, kalimat tersebut bisa membuat anak merasa emosinya tidak diterima. Di sinilah konsep emotional validation atau validasi emosi menjadi penting dalam pola asuh modern. Validasi emosi bukan berarti membenarkan semua perilaku anak, tetapi mengakui dan menerima perasaan yang sedang mereka alami.

Bagi orang dewasa, penyebab tangisan anak mungkin terlihat sepele, seperti mainan yang rusak atau kalah dalam permainan. Namun bagi anak, peristiwa itu bisa terasa sangat besar karena kemampuan mereka dalam mengelola emosi masih berkembang. Ketika orang tua langsung menyuruh berhenti menangis tanpa mendengarkan, anak bisa belajar bahwa kesedihan, kekecewaan, atau kemarahannya tidak penting. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko membuat anak memendam emosi atau kesulitan mengenali perasaannya sendiri.

Emotional validation dimulai dari sikap tenang orang tua. Alih-alih memotong tangisan, cobalah mendekat dan beri ruang bagi anak untuk merasa. Kalimat sederhana seperti “Kamu sedih ya karena mainannya rusak?” atau “Kamu kecewa ya tadi kalah?” membantu anak memahami apa yang sedang ia rasakan. Dengan menamai emosi, orang tua sebenarnya sedang mengajarkan literasi emosi yang sangat berharga untuk masa depan anak. Validasi juga berarti menunjukkan empati tanpa harus selalu menyelesaikan masalahnya. Tidak semua tangisan harus langsung diberi solusi. Terkadang anak hanya butuh ditemani dan dipahami. Ketika anak merasa didengar, sistem sarafnya perlahan menjadi lebih tenang. Setelah emosinya stabil, barulah orang tua bisa mengajak berdiskusi tentang solusi atau perilaku yang lebih tepat.

Penting dipahami bahwa menerima emosi berbeda dengan membiarkan perilaku yang tidak pantas. Anak boleh marah karena mainannya direbut, tetapi tetap tidak boleh memukul. Orang tua bisa mengatakan, “Mama tahu kamu marah, tapi kita tidak boleh memukul.” Dengan cara ini, anak belajar bahwa semua emosi itu valid, namun tidak semua tindakan bisa dibenarkan. Anak yang terbiasa divalidasi emosinya cenderung tumbuh dengan rasa aman secara psikologis. Mereka lebih mampu mengelola stres, berani mengekspresikan perasaan, dan memiliki hubungan sosial yang lebih sehat.

Tags:
Pola Asuh Kesehatan Mental Anak Tips Parenting Kecerdasan Emosional

Komentar Pengguna