keboncinta.com --- Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu tradisi yang dilestarikan umat Islam dari masa ke masa. Setiap tahun, momen ini diisi dengan dzikir, doa bersama, majelis ilmu, hingga kegiatan sosial yang bertujuan meningkatkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.
Tahun ini, Maulid Nabi jatuh pada Jumat, 5 September 2025, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 H. Namun, tahukah kamu siapa sosok pertama yang memprakarsai perayaan Maulid Nabi? Apakah Rasulullah SAW atau para sahabat melakukannya? Berikut ulasan lengkapnya.
Perlu diketahui, pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, perayaan Maulid Nabi belum dikenal. Tidak ada riwayat yang menunjukkan mereka mengadakan acara khusus untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW.
Namun, memperingati Maulid Nabi dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat, seperti memperbanyak shalawat, sedekah, atau pengajian, termasuk perbuatan baik karena mengandung nilai syukur kepada Allah SWT atas lahirnya Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman:
وَذَكِّرْهُم بِأَيَّامِ اللَّهِ
"Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (QS. Ibrahim: 5)
Hari-hari Allah yang dimaksud adalah peristiwa agung, termasuk kelahiran Rasulullah SAW yang membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
Menurut kitab Tanya Jawab Islam terbitan Daarul Hijrah Technology dan keterangan Imam Suyuti, Raja Mudhaffar Abu Sa’id Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, penguasa Irbil yang berakidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah orang pertama yang menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi secara besar-besaran.
Imam Suyuti menulis:
وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ اِرْبِل الَملِكُ الْمُظَفَّر أَبُوْ سَعِيْد كُوْكْبَرِي بِنْ زَيِنِ الدِّيْنِ عَلِي اِبْنِ بَكْتَكينْ أَحَدُ الْمُلُوْكِ الْأَمْجَادِ وَالكُبَرَاءِ الْأَجْوَادِ وَكَانَ لَهُ آثَارٌ حَسَنَةٌ، وَهُوَ الَّذِي عَمَّرَ الجَامِعَ الْمُظَفَّرِي بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ
Artinya:
"Orang yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid Nabi adalah penguasa Irbil, Raja Mudhaffar Abu Sa’id Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Ia memiliki banyak amal baik. Dialah yang membangun Masjid al-Mudhaffari di kaki Gunung Qasiyun."
Dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Raja Mudhaffar merayakan Maulid Nabi dengan penuh kemeriahan dan mendatangkan para ulama, qari’, dan ahli tasawuf. Ia dikenal sebagai pemimpin yang alim, adil, dan pemberani.
Bahkan, Syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah menulis kitab At-Tanwir fii Maulidil Basyir an-Nadzir, dan sebagai penghormatan, Raja Mudhaffar memberinya hadiah 1.000 dinar.
Sebagian ulama menyebut, Dinasti Fatimiyah di Mesir adalah pihak pertama yang merayakan Maulid Nabi. Hal ini sebagaimana keterangan Syekh Hasan as-Sandubi:
لَقَدْ دَلَّنِي البَحْثُ عَلَى أَنَّ الْفَاطِمِيِّيْنَ هُمْ أَوَّلُ مَنْ اِبْتَدَعَ فِكْرَةَ الْاِحْتِفَالِ بِذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِي
Artinya:
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinasti Fatimiyah adalah pihak pertama yang menginisiasi ide perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW."
Meski demikian, perayaan Maulid oleh Dinasti Fatimiyah berbeda dengan yang dilakukan Raja Mudhaffar. Perayaan yang dipopulerkan Raja Mudhaffar lebih bersifat syiar Islam yang kemudian diikuti oleh banyak umat.
Para ulama sepakat bahwa tidak ada larangan memperingati Maulid Nabi selama dilakukan dengan amalan yang baik, seperti memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW sendiri bersabda:
"Barang siapa yang memulai suatu amalan yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim)
Artinya, perayaan Maulid dengan cara yang baik bisa menjadi sarana untuk menebarkan kebaikan dan mengingat jasa Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.
✅ Kesimpulan: Sosok pertama yang merayakan Maulid Nabi secara besar dan terstruktur adalah Raja Mudhaffar Abu Sa’id Kuukuburi. Namun, ada versi lain yang menyebut Dinasti Fatimiyah. Terlepas dari perbedaan sejarah, yang terpenting adalah menjadikan Maulid sebagai momentum memperbanyak amal saleh dan meningkatkan cinta kepada Rasulullah SAW.