Sering Lelah Setelah Baca Berita Sedih? Bisa Jadi Ini Empati Melelahkan, Simak Penjelasannya

Sering Lelah Setelah Baca Berita Sedih? Bisa Jadi Ini Empati Melelahkan, Simak Penjelasannya

23 Desember 2025 | 17:30

Keboncinta.com-- Pernahkah kalian merasa sangat lelah secara emosional setelah mendengarkan curahan hati teman, mengikuti kabar bencana, atau terus membaca berita tentang penderitaan orang lain? Jika iya, kondisi tersebut bisa jadi bukan sekadar rasa capek biasa, melainkan tanda empati melelahkan atau compassion fatigue.

Empati melelahkan adalah keadaan ketika kepedulian yang berlebihan terhadap emosi dan kesulitan orang lain justru berbalik menjadi beban psikologis bagi diri sendiri.

Alih-alih membuat lebih kuat, empati yang tidak terkelola dapat menguras energi mental secara perlahan namun konsisten.

Kondisi ini banyak dialami oleh profesi yang sehari-hari bersentuhan dengan penderitaan manusia, seperti tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan kemanusiaan, hingga konselor.

Namun, di era digital, empati melelahkan juga semakin sering dialami oleh masyarakat umum, terutama pengguna media sosial yang intens mengonsumsi berita tentang tragedi, konflik, atau krisis global.

Baca Juga: Kabar Lega di Ujung 2025: THR TPG 100 Persen dan Gaji ke-13 Guru ASN Dipastikan Cair

Secara psikologis, empati melelahkan muncul ketika otak terus-menerus memproses emosi negatif tanpa waktu pemulihan.

Beberapa gejala yang kerap dirasakan antara lain kelelahan emosional berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, rasa cemas berlebihan, gangguan tidur, hingga munculnya perasaan hampa dan putus asa.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menurunkan produktivitas dan memengaruhi kualitas hubungan sosial.

Salah satu pemicu utama empati melelahkan adalah doomscrolling, kebiasaan menggulir berita buruk secara terus-menerus tanpa batas.

Tanpa disadari, otak dipaksa menerima arus informasi negatif secara intens, sehingga batas antara empati yang sehat dan empati yang melelahkan menjadi kabur.

Baca Juga: PPG Guru 2026 Dibuka Lebih Besar: Kuota Tambahan Ratusan Ribu, Ini Peluang Emas bagi Guru

Akibatnya, tubuh tetap berada dalam kondisi siaga stres, meski ancaman tersebut tidak dialami secara langsung.

Kabar baiknya, empati melelahkan bukan kondisi permanen dan bisa dikelola. Langkah awal yang penting adalah menetapkan batas emosional, menyadari bahwa kita tidak harus menyerap semua penderitaan orang lain.

Membatasi waktu konsumsi berita dan media sosial juga sangat membantu, terutama dengan memberi jeda pada konten yang bersifat tragis atau memicu kecemasan.

Selain itu, praktik self-care seperti meditasi, olahraga ringan, berjalan santai, atau sekadar beristirahat tanpa distraksi digital dapat membantu memulihkan energi mental.

Berbagi cerita dengan teman tepercaya atau berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental juga menjadi cara sehat untuk meringankan beban emosional.

Baca Juga: Jejak Sejarah Soekarno di Uni Soviet: Dari Diplomasi Dunia hingga Terungkapnya Makam Imam Bukhari

Empati yang sehat bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan orang lain, melainkan mampu peduli tanpa mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.

Dengan menjaga keseimbangan ini, kita dapat tetap hadir dan membantu orang lain secara berkelanjutan tanpa harus merasa lelah secara emosional dan mental.***

Tags:
Kesehatan Mental Mental Health Empati

Komentar Pengguna