Keboncinta.com-- Dalam kajian fikih Islam, mazhab Maliki merupakan salah satu mazhab yang paling dikenal dan banyak dianut oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia.
Mazhab ini berakar pada pemikiran dan ijtihad seorang ulama besar, Imam Malik bin Anas, yang kontribusinya sangat berpengaruh dalam perkembangan hukum Islam.
Mazhab Maliki merujuk pada pemahaman fikih yang bersumber dari pandangan, fatwa, dan metodologi Imam Malik bin Anas.
Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat menjaga keotentikan dalil, terutama dalam penggunaan hadits sebagai landasan hukum.
Imam Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 711 M atau 93 Hijriah. Ia berasal dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan dan ketaatan agama yang kuat.
Baca Juga: Gawat!!! Harga Laptop Terancam Naik di 2026, Krisis RAM Global Jadi Biang Keladi
Ayahnya, Anas bin Malik, merupakan sosok yang dihormati dalam lingkungan keilmuan Islam. Lingkungan Madinah yang sarat dengan aktivitas ilmiah turut membentuk karakter keilmuan Imam Malik sejak usia dini.
Sebagai kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan setelah Makkah, Madinah menghadirkan banyak ulama besar pada masa itu.
Imam Malik pun tumbuh dalam atmosfer akademik yang kondusif, sehingga kecintaannya terhadap ilmu agama berkembang pesat.
Pendidikan agama Imam Malik dimulai langsung di Madinah. Ia belajar kepada banyak guru terkemuka, salah satunya adalah Nafi’ bin Abu Nu’aim, seorang ahli hadits yang masyhur.
Selain itu, ia juga menimba ilmu dari tokoh-tokoh besar seperti Muhammad bin Ibrahim Al-Taimi dan Rabiah bin Abi Abdurrahman, yang dikenal luas dalam bidang fikih dan hadits.
Ketekunan Imam Malik dalam mendalami hadits membuatnya sangat selektif dalam meriwayatkan dan menerima suatu riwayat.
Baca Juga: Laptop Windows 7 Minta Password Terus? Ini Cara Menghapusnya dengan Aman dan Praktis
Prinsip kehati-hatian beliau tercermin dalam ungkapannya yang terkenal bahwa ia tidak menyampaikan hadits kecuali yang benar-benar sahih. Sikap ini menjadikan mazhab Maliki dikenal kuat dalam validitas sumber hukumnya.
Setelah mencapai kedalaman ilmu yang mumpuni, Imam Malik mulai mengajar di Masjid Nabawi.
Majelis ilmunya menarik banyak penuntut ilmu dari berbagai wilayah dunia Islam. Dalam pengajarannya, beliau selalu merujuk pada Al-Qur’an, hadits Nabi Muhammad SAW, serta praktik para sahabat.
Salah satu warisan terbesar Imam Malik adalah kitab Al-Muwatta’, yang berarti “jalan yang lurus”. Kitab ini berisi kumpulan hadits dan pendapat fikih yang disusun secara sistematis. Al-Muwatta’ menjadi salah satu kitab hadits tertua dan paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Baca Juga: Pemerintah Fokus Menata ASN Nasional Sebelum Membuka Seleksi CPNS 2026 bagi Lulusan Baru
Keunikan kitab ini terletak pada penekanannya terhadap Amal Ahli Madinah, yaitu praktik masyarakat Madinah yang dianggap paling dekat dengan ajaran Rasulullah SAW.***