Keboncinta.com- Salat lima waktu yang kini menjadi fondasi kehidupan umat Islam ternyata bukan kewajiban pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Fakta ini kerap luput dari perhatian, padahal secara historis, salat baru diwajibkan sekitar 12 tahun setelah turunnya wahyu pertama.
Dalam rentang waktu lebih dari satu dekade itu, umat Islam tetap hidup, beriman, dan berkomunikasi dengan Allah meski tanpa kewajiban salat lima waktu sebagaimana dikenal sekarang. Lalu, bagaimana cara umat Islam kala itu mendekatkan diri dan menyampaikan hajat mereka kepada Tuhan?
Sejarah Islam mencatat bahwa kewajiban pertama yang ditekankan kepada umat adalah pemahaman dan penghayatan syahadat. Keimanan menjadi fondasi utama sebelum ritual apa pun diwajibkan. Hal ini konsisten dengan pesan Rasulullah SAW ketika mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ: إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَإِذَا هُمْ أَطَاعُوا لِذٰلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Ketika Nabi ﷺ mengutus Mu‘adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaati hal itu (beriman), maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam
“Serulah mereka untuk beriman kepada Allah. Jika mereka telah beriman, ajarkan kepada mereka untuk menegakkan salat,” inti dari pesan Nabi saat itu.
Artinya, salat bukanlah pintu masuk iman, melainkan buah dari iman. Seseorang diyakini perlu percaya dan mencintai terlebih dahulu, sebelum menjalankan ritual sebagai ekspresi hubungan tersebut.
Sebelum kewajiban salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW mengajarkan salat malam (tahajud) sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Tahajud menjadi ruang sunyi tempat Rasul berdoa, mengadu, dan memohon pertolongan, terutama di masa-masa awal dakwah yang penuh tekanan.
Pada masa itu, komunikasi umat dengan Allah bersifat tidak langsung. Umat sering kali menyampaikan kebutuhan dan keluh kesah mereka melalui Rasulullah sebagai perantara.
Pola ini juga terlihat pada umat-umat sebelumnya, seperti Bani Israil, yang meminta para nabi mereka untuk memohonkan pertolongan kepada Tuhan.
Perubahan besar terjadi dalam peristiwa Isra Mikraj. Di tengah kondisi umat Islam yang tertekan akibat pemboikotan Quraisy kelaparan, keterasingan, dan penderitaan sosial Allah memanggil Rasulullah ke Sidratul Muntaha.
Di sanalah salat diwajibkan.
Awalnya sebanyak 50 kali sehari, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu. Namun, makna terdalam dari peristiwa itu bukanlah pengurangan jumlah, melainkan dibukanya akses langsung antara setiap hamba dengan Allah.
Salat menjadi jalur baru komunikasi, umat Islam tidak lagi harus selalu melalui perantara. Lima kali sehari, setiap Muslim diberi kesempatan untuk berbicara langsung kepada Tuhannya.
Dalam perspektif ini, salat bukan semata beban hukum, melainkan privilege spiritual. Sebuah keistimewaan yang diberikan kepada umat Islam, terutama dalam situasi sulit, agar mereka memiliki ruang aman untuk mengadu dan berharap.
Ibarat seorang rakyat yang biasanya harus melalui banyak protokol untuk bertemu pemimpin, lalu tiba-tiba diberi akses langsung secara rutin—itulah posisi salat dalam kehidupan seorang Muslim.
Namun, seiring berjalannya waktu, salat kerap dipahami sebatas kewajiban formal. Fokus bergeser pada aspek hukum: sah atau tidak, panjang atau pendek, banyak atau sedikit. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah menilai kualitas amal, bukan kuantitasnya.
“Dia menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amalnya,” demikian salah satu pesan kunci Al-Qur’an.
Menariknya, komunikasi dalam salat selalu dimulai dengan rasa syukur. Surah Al-Fatihah diawali dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” sebuah pengakuan atas nikmat sebelum permintaan diajukan.
Dalam konteks psikologi modern, rasa syukur bahkan dikenal sebagai salah satu metode penyembuhan emosional. Islam telah menempatkan konsep ini di jantung ritual salat sejak awal.
Setelah syukur, barulah permohonan disampaikan. Doa, zikir, dan pengakuan kelemahan menjadi bagian tak terpisahkan dari dialog spiritual tersebut.
Seperti hubungan apa pun, komunikasi dengan Allah juga membutuhkan pemeliharaan rasa.