Keboncinta.com-- Marah adalah fitrah manusia. Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya bebas dari emosi ini, termasuk orang yang paling mulia akhlaknya. Namun, yang membedakan seorang hamba biasa dengan pribadi agung seperti Rasulullah ﷺ bukanlah ketiadaan amarah, melainkan cara beliau mengelolanya. Dalam Islam, kemampuan menahan marah justru dipandang sebagai bentuk kekuatan sejati.
Rasulullah ﷺ pernah marah, tetapi amarah beliau tidak pernah lahir dari hawa nafsu pribadi. Beliau hanya marah ketika batas-batas Allah dilanggar, bukan karena urusan dunia atau kepentingan diri. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat lembut, pemaaf, dan penuh kesabaran, bahkan kepada orang yang menyakitinya.
Salah satu teladan agung Rasulullah ﷺ terlihat ketika beliau menghadapi perlakuan kasar, ejekan, dan penghinaan. Alih-alih membalas dengan kemarahan, beliau memilih diam, bersabar, atau menjawab dengan kelembutan. Sikap ini sejalan dengan sabda beliau yang menyatakan bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, melainkan yang mampu menahan diri ketika marah.
Ketika amarah datang, Rasulullah ﷺ mengajarkan cara-cara praktis untuk meredakannya. Beliau menganjurkan untuk diam, mengubah posisi tubuh—dari berdiri menjadi duduk, atau berbaring—serta berwudu, karena marah berasal dari godaan setan yang diciptakan dari api, dan air dapat memadamkannya.
Menahan marah bukan berarti memendam emosi tanpa solusi, melainkan mengelolanya dengan bijak. Rasulullah ﷺ mencontohkan bahwa ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus dibingkai dengan keadilan dan kasih sayang. Tegas tanpa kasar, dan marah tanpa melukai.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, teladan Rasulullah ﷺ ini menjadi sangat relevan. Banyak konflik rumah tangga, perselisihan sosial, bahkan perpecahan umat berawal dari amarah yang tidak terkendali. Dengan meneladani cara Rasulullah ﷺ menghadapi marah, seorang Muslim belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan menguasai diri.
Akhirnya, menahan marah adalah latihan jiwa yang melahirkan kedewasaan iman. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa mengalah demi kebaikan, memaafkan demi ketenangan hati, dan bersabar demi ridha Allah adalah bentuk kekuatan paling mulia. Dari beliau, kita belajar bahwa ketenangan hati adalah kemenangan yang sesungguhnya.