Psikologi Kebahagiaan: Mengapa Mengejar Kebahagiaan Justru Membuat Kita Tidak Bahagia?

Psikologi Kebahagiaan: Mengapa Mengejar Kebahagiaan Justru Membuat Kita Tidak Bahagia?

20 Januari 2026 | 15:13

keboncinta.com--  Pernahkah kamu merasa bahwa semakin keras kamu berusaha untuk "menjadi bahagia", semakin kamu merasa ada yang kurang dalam hidupmu? Kamu membeli buku self-help , mengikuti seminar motivasi, dan memenuhi media sosial dengan kutipan positif, namun perasaan hampa itu tetap datang.

Dalam psikologi, fenomena paradoks ini sangat nyata. Ternyata, obsesi kita terhadap kebahagiaan sering kali menjadi penghalang terbesar untuk merasakannya. Berikut adalah penjelasannya mengapa hal itu terjadi.

Paradoks Kebahagiaan (Paradoks Kebahagiaan)

Penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa orang yang terlalu fokus pada tujuan untuk "menjadi bahagia" cenderung merasa lebih setara dan kecewa. Mengapa? Karena ketika kita menjadikan kebahagiaan sebagai sasaran, kita menjadi sangat sensitif terhadap setiap emosi negatif yang muncul. Saat kita merasa sedikit sedih saja, kita langsung merasa "gagal" untuk bahagia. Hal ini justru menciptakan tekanan mental yang baru.

Treadmill Hedonik (Treadmill Hedonik)

Kita sering terjebak dalam pemikiran: "Aku akan bahagia kalau sudah punya mobil baru" atau "Aku akan bahagia kalau sudah menikah." Secara psikologis, manusia memiliki mekanisme bernama Hedonic Adaptation . Begitu kita mencapai sesuatu, tingkat kebahagiaan kita akan melonjak sebentar, lalu kembali ke level stabil (baseline). Kita pun mulai mengejar target berikutnya tanpa henti. Mengejar kebahagiaan lewat pencapaian eksternal ibarat berlari di atas treadmill; terus bergerak tapi tidak sampai ke mana-mana.

Toxic Positivity dan Penolakan Emosi

Mengejar kebahagiaan sering kali memaksa kita melakukan toxic positivity —menolak emosi negatif seperti sedih, marah, atau kecewa. Padahal, emosi negatif adalah bagian alami dari pengalaman manusia. Menekannya hanya akan membuat emosi tersebut menumpuk dan meledak di kemudian hari. Kebahagiaan yang sejati justru muncul saat kita mampu menerima seluruh spektrum emosi kita tanpa menghakimi.

Fokus pada "Hasil" Bukan "Prosa"

Kebahagiaan bukan merupakan destinasi atau titik akhir, melainkan efek samping (produk sampingan) dari aktivitas yang bermakna. Saat kamu terlalu fokus pada "apakah aku sudah bahagia sekarang?", kamu kehilangan momen saat ini (mindfulness). Kebahagiaan biasanya muncul justru saat kita sedang asyik melakukan hobi, membantu orang lain, atau tenggelam dalam pekerjaan yang kita cintai—kondisi yang disebut Flow .

Solusi: Berhenti Mengejar, Mulailah Menghayati

Alih-alih mengejar kebahagiaan, cobalah untuk mengejar kebermaknaan (makna) . Fokuslah pada hubungan yang mendalam dengan orang lain, pertumbuhan diri, dan kontribusi bagi sekitar. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kamu "kejar" sampai dapat, melainkan sesuatu yang "hadir" saat kamu berhenti mencarinya dan mulai mensyukuri apa yang ada di depan mata.

Kesimpulan

Kebahagiaan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan kelelahan mental. Izinkan dirimu untuk merasa tidak baik-baik saja, mengecewakan ekspektasi tentang standar hidup yang sempurna, dan membiarkan kebahagiaan datang dengan sendirinya sebagai tamu yang tidak diundang, namun selalu disambut hangat.

Tags:
Kesehatan Mental Pengembangan Diri Mindfulness Psikologi

Komentar Pengguna