Keboncinta.com-- Terdapat banyak dinasti yang berdiri di Asia dan berhasil mencapai puncak kejayaannya yang sangat gemilang. Salah satunya ialah Kerajaan Mughal di India.
Dinasti Mughal adalah salah satu kerajaan Islam terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Asia Selatan. Dalam sejarah, dinasti ini berdiri dari awal abad ke-16 hingga abad ke-19 M.
Kekaisaran ini tidak hanya dikenal karena kekuatan militernya, tetapi juga karena pencapaiannya dalam bidang arsitektur, seni, budaya, dan administrasi. Jejak kejayaan Mughal masih dapat ditemukan hingga kini di berbagai wilayah India, Pakistan, dan Bangladesh, termasuk melalui peninggalan megah seperti Taj Mahal yang terdapat di India.
Menurut catatan, Dinasti Mughal didirikan oleh Babur pada tahun 1526 M setelah kemenangannya atas Sultan Ibrahim Lodi dari Kesultanan Delhi dalam Pertempuran Panipat Pertama.
Babur adalah keturunan langsung dari Timur Lenk (Tamerlane) dari pihak ayah dan Jenghis Khan dari pihak ibu. Dengan latar belakang tersebut, Babur membawa tradisi militer dan budaya dari Asia Tengah ke wilayah anak benua India.
Pada masa selanjutnya, Mughal berhasil mencapai masa kejayaannya yang terjadi pada masa pemerintahan tiga kaisar besar: Jalaluddin Muhammad Akbar (1556–1605), Jahangir (1605–1627), dan Shah Jahan (1628–1658).
Pada masa Jalaluddin Akbar, ia dikenal sebagai penguasa yang toleran terhadap berbagai agama dan membangun sistem pemerintahan yang stabil. Ia juga memperkenalkan sistem birokrasi modern yang mencakup pemungutan pajak berbasis pertanian.
Kemudian masa pemerintahan Jahangir, putranya, memperkuat pengaruh seni dan budaya, serta membangun hubungan diplomatik dengan bangsa Eropa.
Selanjutnya, saat masa Shah Jahan yang paling dikenal karena pembangunan Taj Mahal, makam marmer putih untuk mengenang istrinya, Mumtaz Mahal. Di bawah kepemimpinan Shah Jahan inilah, arsitektur Mughal mencapai puncak keindahan.
Setelah masa ketiga raja tersebut, terutama setelah masa pemerintahan Aurangzeb (1658–1707), yang dikenal karena sikap ortodoks dan ekspansi militernya yang agresif, kekaisaran mulai melemah.
Beban keuangan akibat peperangan yang terus-menerus serta meningkatnya pemberontakan internal membuat kekaisaran semakin mengalami kelemahan.
Sampai pada abad ke-18, Dinasti Mughal mengalami kemunduran drastis, ditandai dengan banyak wilayah yang melepaskan diri. Pada akhirnya, kekuasaan nominal Mughal tetap ada hingga pertengahan abad ke-19 sebelum secara resmi dihapuskan oleh Britania Raya setelah Pemberontakan India tahun 1857.
Hingga Kaisar terakhir dari kerajaan ini, Bahadur Shah II, diasingkan ke Burma (sekarang Myanmar).
Saat ini, warisan Dinasti Mughal masih sangat terasa. Pengaruh budaya, arsitektur, dan kuliner mereka telah menjadi bagian dari identitas kawasan Asia Selatan.
Gaya arsitektur Mughal menginspirasi banyak bangunan keagamaan dan istana di India. Bahasa Urdu, yang berkembang di era Mughal, juga menjadi salah satu bahasa utama di Pakistan dan India utara.
Meski kekuasaannya telah runtuh sejak lama, peninggalan Dinasti Mughal ini tetap abadi dalam sejarah dan budaya di Asia Selatan.***