Berita
Hilmi An Naufal

Pelatihan Guru di DIY Masukkan Pemanfaatan AI untuk Media Pembelajaran

Pelatihan Guru di DIY Masukkan Pemanfaatan AI untuk Media Pembelajaran

25 Agustus 2026 | 10:23

Keboncinta.com – Yogyakarta. Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan kembali menjadi perhatian. Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (BBGTK DIY) memasukkan pengenalan pemanfaatan AI untuk pembuatan media pembelajaran dalam agenda Program PADHET Guru MAJU edisi Agustus 2026.

Program tersebut diumumkan melalui surat resmi BBGTK DIY pada 20 Agustus 2026. Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi guru agar menjadi pendidik yang mandiri, adaptif, memiliki jejaring, dan unggul.

Dalam agenda kegiatan pada 24 Agustus 2026, peserta memperoleh beberapa materi pembelajaran. Selain pengenalan AI untuk membuat media belajar, terdapat pula pembahasan aktivitas Concrete-Pictorial-Abstract atau CPA untuk pembelajaran pecahan yang lebih bermakna serta materi geometri SD berdasarkan teori belajar Van Hiele.

AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Guru

Masuknya materi AI dalam pelatihan guru menunjukkan bahwa teknologi tersebut semakin dipandang sebagai alat bantu dalam menyiapkan pembelajaran.

Guru dapat memanfaatkan AI untuk membantu menyusun ide media ajar, membuat variasi latihan, merancang ilustrasi konsep, hingga menyiapkan kerangka awal bahan presentasi. Namun, hasil yang dihasilkan AI tidak dapat langsung digunakan begitu saja.

Guru tetap perlu memeriksa ketepatan materi, menyesuaikan bahasa dengan usia peserta didik, dan memastikan contoh yang diberikan sesuai dengan konteks pembelajaran di kelas.

Pemanfaatan AI juga perlu disertai pemahaman mengenai etika digital. Data pribadi murid, nilai, identitas keluarga, maupun dokumen sekolah tidak seharusnya dimasukkan ke layanan AI secara sembarangan tanpa perlindungan yang jelas.

Pembelajaran Matematika Turut Diperkuat

Pelatihan tidak hanya berfokus pada teknologi. Materi CPA untuk pembelajaran pecahan mengajak guru mengajarkan konsep matematika secara bertahap, mulai dari benda konkret, gambar atau representasi visual, hingga simbol abstrak.

Pendekatan tersebut membantu murid memahami bahwa pecahan bukan sekadar angka dan rumus. Misalnya, guru dapat mengenalkan pecahan melalui potongan kertas, benda di kelas, atau pembagian makanan sebelum beralih ke bentuk angka seperti satu per dua dan tiga per empat.

Sementara itu, teori Van Hiele dalam pembelajaran geometri menekankan proses pemahaman bentuk dan ruang melalui tahapan berpikir murid. Dengan metode yang tepat, pembelajaran geometri dapat dibuat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti mengenali bentuk bangunan, benda di rumah, maupun pola di lingkungan sekitar.

Kompetensi Guru Harus Terus Berkembang

Perubahan teknologi yang cepat membuat guru perlu terus memperbarui keterampilan. Namun, peningkatan kompetensi tidak hanya berarti menguasai aplikasi baru.

Guru juga perlu memiliki kemampuan memilih teknologi yang benar-benar berguna, memahami kebutuhan murid, dan membangun pembelajaran yang tetap humanis. Teknologi dapat mempercepat persiapan materi, tetapi interaksi, keteladanan, dan perhatian guru tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Program seperti PADHET Guru MAJU menjadi ruang bagi guru untuk berbagi praktik baik, belajar bersama, serta memperluas wawasan tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pelatihan ini juga menjadi pengingat bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari perangkat yang mahal. Penggunaan teknologi dapat dimulai dari langkah sederhana, selama dirancang sesuai tujuan pembelajaran dan kebutuhan murid.

Dengan penguatan kompetensi yang berkelanjutan, guru diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengarahkan teknologi agar memberikan manfaat nyata bagi proses belajar anak-anak Indonesia.

Tags:
Berita guru

Komentar Pengguna