Keboncinta.com – Jakarta. Asisten digital bernama Instinct AI menarik perhatian karena menawarkan kemampuan mengoperasikan aplikasi, membaca layar, mengirim pesan, melakukan panggilan, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan atas nama pengguna.
Kemampuan tersebut menjadikan Instinct berbeda dari chatbot yang hanya memberikan jawaban berbentuk teks. Namun, akses yang sangat luas terhadap perangkat dan akun pengguna turut memunculkan pertanyaan serius mengenai privasi, keamanan, dan batas tanggung jawab ketika AI melakukan tindakan yang tidak diharapkan.
Instinct menjelaskan bahwa asistennya dapat dihubungkan dengan surat elektronik, aplikasi perpesanan, layar perangkat, audio, lokasi, serta sejumlah layanan lain. Pengguna dapat menghubungi asisten tersebut melalui pesan maupun panggilan dan melatihnya menggunakan telepon atau komputer seperti manusia.
Perusahaan menampilkan contoh tugas seperti menindaklanjuti percakapan, melakukan panggilan secara proaktif, memesan kendaraan, dan mengatur kedatangan penyedia jasa. Layanan tersebut masih tersedia melalui akses terbatas dan belum diluncurkan secara luas kepada publik.
Ketentuan layanan Instinct yang direvisi pada 20 Agustus 2026 menjelaskan bahwa pengguna dapat memberikan dokumen, perintah, serta data penggunaan perangkat. Data tersebut dapat mencakup tangkapan layar, gerakan kursor, dan masukan papan ketik.
Ketika pengguna menghubungkan layanan pihak ketiga, asisten dapat memperoleh serta bertukar informasi dan mengambil tindakan melalui layanan tersebut.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah pemberian wewenang kepada Instinct untuk bertindak sebagai agen pengguna. Ketentuannya mencakup kemungkinan asisten membuat kesepakatan, komitmen, atau transaksi yang dapat mengikat pengguna seperti tindakan yang dilakukan secara langsung.
Instinct juga memperingatkan bahwa sistem dapat melakukan kesalahan dan sebagian tindakan mungkin tidak bisa dibatalkan. Karena itu, perusahaan meminta pengguna menerapkan peninjauan manusia secara bermakna dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang dijalankan melalui layanan.
Ketentuan untuk layanan beta menyatakan sistem disediakan dalam kondisi pengembangan dan mungkin mengandung kesalahan yang menyebabkan kehilangan atau kerusakan data.
Pemberitahuan privasi Instinct mengatakan asisten dapat beroperasi secara terus-menerus ketika diaktifkan. Sistem bisa mengakses tampilan layar, aplikasi, dokumen, surat elektronik pribadi, dan pesan pengguna.
Bergantung pada izin yang diberikan, data yang dikumpulkan juga dapat mencakup suara, informasi pembayaran, nama pengguna, kata sandi, lokasi presisi, hingga informasi yang berkaitan dengan kesehatan.
Perusahaan menyebut sebagian informasi dapat dipakai untuk mengembangkan, menyempurnakan, atau melatih model AI. Ketentuan layanan turut memberikan lisensi yang luas untuk mengakses, menyimpan, mereproduksi, mengirimkan, mengubah, dan menggunakan materi pengguna dalam pengoperasian serta pengembangan layanan.
Meskipun demikian, terdapat pengecualian khusus untuk data Google Workspace. Instinct menyatakan data yang berasal dari Google Workspace tidak digunakan untuk melatih model, tidak digunakan untuk iklan, dan tidak dijual. Pengguna juga dapat mencabut akses atau meminta penghapusan melalui pengaturan akun.
Perbedaan perlakuan tersebut membuat pengguna perlu memeriksa aturan untuk setiap layanan yang dihubungkan. Perlindungan yang berlaku bagi Google Workspace belum tentu identik dengan perlakuan terhadap data dari aplikasi atau akun lainnya.
TechCrunch melaporkan sejumlah pengalaman pengguna awal yang menimbulkan kekhawatiran. Seorang penguji mengaku pada awalnya kesulitan menghapus catatan Gmail yang telah diberikan kepada sistem. Fitur penghapusan kemudian dilaporkan ditambahkan.
Pengguna lain mengatakan masih menerima ringkasan kotak masuk setelah memutuskan koneksi. Dalam percakapan dengan asisten, sistem disebut menyatakan bahwa surat elektronik sebelumnya telah disimpan.
Penguji lainnya mencoba melihat risiko serangan prompt injection, yaitu instruksi tersembunyi dalam konten pihak ketiga yang berusaha memengaruhi tindakan AI. Setelah pengujian tersebut, pengguna bersangkutan memilih menghapus akunnya.
Ada pula laporan mengenai asisten yang mengirim surat elektronik tanpa pemeriksaan akhir dari pengguna. Seluruh pengalaman tersebut merupakan laporan pengguna awal dan belum membuktikan terjadinya kebocoran data berskala luas.
Pada saat laporan TechCrunch diterbitkan, perusahaan disebut belum memberikan jawaban terhadap permintaan tanggapan. Karena itu, kekhawatiran yang muncul harus dibedakan dari insiden peretasan atau kebocoran data yang telah dikonfirmasi.
Pemberitahuan privasi Instinct sendiri mengakui sejumlah risiko baru. Di antaranya adalah pembayaran atau komunikasi yang tidak disengaja, keluaran yang keliru, paparan informasi sensitif, dan instruksi menyesatkan dari pihak ketiga.
Risiko tersebut tidak hanya berlaku bagi Instinct.