keboncinta.com-- Dalam khazanah Islam, mata sering disebut sebagai "pintu gerbang hati". Apa yang ditangkap oleh indra penglihatan akan langsung dialirkan ke dalam pikiran dan menetap di hati. Di era digital saat ini, perintah untuk Ghadzul Bashar atau menjaga pandangan mengalami tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu godaan visual mungkin hanya ditemui di titik-titik tertentu, kini godaan tersebut berada dalam genggaman tangan, siap muncul kapan saja di layar ponsel.
Makna Hakiki Ghadzul Bashar
Secara etimologi, Ghadzul Bashar bukan berarti memejamkan mata sama sekali hingga tidak melihat jalan, melainkan menahan atau menundukkan pandangan dari hal-hal yang tidak halal atau tidak pantas dilihat. Ini adalah bentuk kendali diri (self-control) yang diperintahkan langsung dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah An-Nur ayat 30:
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka...'"
Algoritma: Musuh Baru dalam Menjaga Pandangan
Tantangan terbesar laki-laki di era media sosial bukan sekadar niat, melainkan sistem algoritma. Media sosial dirancang untuk memberikan apa yang sering kita lihat. Sekali seorang pria terpaku pada konten yang mengeksploitasi aurat atau keindahan fisik yang tidak halal, maka algoritma akan terus menyuguhkan konten serupa di explore atau feed mereka.
Inilah yang disebut sebagai "jebakan visual". Mata yang tidak terjaga di dunia maya akan membuat hati kehilangan ketenangan (khusyuk) dan melemahkan daya spiritual.
Dampak Psikologis dan Spiritual
Secara spiritual, ulama terdalam menjelaskan bahwa pandangan yang liar adalah "anak panah beracun dari iblis". Dampaknya nyata:
Strategi Bertahan di Era Digital
Menjaga pandangan di zaman sekarang memerlukan strategi yang proaktif, bukan sekadar defensif:
Kurasi Timeline: Segera lakukan unfollow, mute, atau block akun-akun yang memancing syahwat. Gunakan fitur "Not Interested" agar algoritma berubah.
Sadari Pengawasan Tuhan: Tanamkan prinsip Ihsan—beribadah seolah melihat Allah, atau minimal merasa selalu diawasi oleh-Nya, bahkan saat sedang sendirian di depan layar.
Puasa Digital: Sediakan waktu dalam sehari untuk benar-benar jauh dari layar guna memberikan waktu bagi hati untuk "detoksifikasi" dari paparan visual yang berlebihan.
Penutup
Menjaga pandangan adalah perjuangan (jihad) batin yang berkelanjutan. Di balik perintah ini, ada janji ketenangan hati dan cahaya iman yang tidak bisa digantikan oleh kenikmatan visual sesaat. Di era media sosial, kehebatan seorang laki-laki tidak lagi diukur dari seberapa banyak ia melihat, tapi dari seberapa kuat ia mampu memalingkan wajah demi menjaga kesucian hatinya.