Keboncinta.com-- Hujan sejatinya adalah peristiwa alam yang membawa manfaat besar bagi kehidupan. Namun, di banyak wilayah, hujan justru memunculkan rasa cemas dan ketakutan di tengah masyarakat. Ketakutan ini bukan muncul tanpa alasan, melainkan terbentuk dari pengalaman sosial, lingkungan, dan kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya aman.
Salah satu alasan utama masyarakat takut hujan adalah ancaman banjir. Di kawasan perkotaan dan daerah aliran sungai, hujan deras sering kali langsung diikuti genangan hingga banjir. Saluran air yang tersumbat, alih fungsi lahan, serta minimnya daerah resapan membuat air hujan tidak terserap dengan baik. Akibatnya, hujan yang seharusnya membawa berkah justru menjadi awal dari bencana.
Selain banjir, hujan juga sering dikaitkan dengan risiko bencana lain, seperti tanah longsor dan pohon tumbang. Di wilayah perbukitan, hujan lebat meningkatkan kejenuhan tanah sehingga memicu longsor. Kondisi ini membuat masyarakat yang tinggal di daerah rawan menjadi lebih waspada dan takut setiap kali hujan turun dalam waktu lama.
Faktor lain yang memperkuat ketakutan masyarakat adalah pengalaman traumatis. Mereka yang pernah mengalami banjir besar, kehilangan harta benda, atau bahkan anggota keluarga akibat bencana akan lebih sensitif terhadap hujan. Dalam psikologi sosial, pengalaman buruk yang berulang dapat membentuk rasa takut kolektif terhadap pemicu tertentu, termasuk hujan.
Hujan juga berdampak pada aktivitas ekonomi dan mobilitas. Bagi sebagian masyarakat, hujan berarti pekerjaan terhambat, penghasilan menurun, atau risiko kecelakaan meningkat. Jalanan licin, jarak pandang terbatas, dan kemacetan menjadi sumber kekhawatiran, terutama bagi pekerja lapangan dan pengguna jalan.
Tidak kalah penting, pemberitaan media turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap hujan. Informasi tentang banjir, cuaca ekstrem, dan peringatan bencana yang terus muncul dapat memperkuat rasa takut, meskipun hujan yang turun tidak selalu berujung pada kejadian buruk.