Keboncinta.com-- tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar: mengapa manusia masih perlu berdoa? Ketika banyak persoalan dapat dijelaskan secara rasional dan diselesaikan secara teknis, doa kerap dianggap sekadar ritual spiritual tanpa dampak nyata. Padahal, dalam perspektif psikologi, sosiologi, dan teologi Islam, doa justru menempati posisi fundamental dalam struktur kebermaknaan hidup manusia.
Secara antropologis, manusia adalah makhluk yang menyadari keterbatasannya. Kesadaran akan ketidakpastian, kematian, dan kegagalan mendorong manusia untuk mencari sandaran transenden. Dalam psikologi eksistensial, doa dipahami sebagai ekspresi ultimate concern, kebutuhan terdalam manusia untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Doa bukan pelarian dari realitas, melainkan cara manusia berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya.
Dalam Islam, doa memiliki kedudukan yang sangat sentral. Doa tidak hanya diposisikan sebagai permohonan, tetapi sebagai bentuk pengakuan hamba atas ketergantungannya kepada Allah. Ketika seseorang berdoa, ia sedang menegaskan batas dirinya sebagai makhluk dan mengakui keagungan Sang Pencipta. Inilah mengapa doa disebut sebagai inti ibadah: karena di dalamnya terkandung kerendahan hati, kepasrahan, dan kesadaran spiritual yang mendalam.
Doa juga berfungsi sebagai proses regulasi emosi. Penelitian menunjukkan bahwa praktik spiritual, termasuk doa, membantu individu mengelola kecemasan, menurunkan stres, dan memperkuat ketahanan mental (resilience). Saat seseorang berdoa, ia menyusun ulang pikirannya, menata harapannya, dan memberi makna baru pada pengalaman sulit. Dengan demikian, doa bekerja tidak hanya secara spiritual, tetapi juga psikologis.
Lebih jauh, doa melatih manusia untuk tidak terjebak pada ilusi kemandirian absolut. Modernitas sering menanamkan keyakinan bahwa manusia dapat mengendalikan segalanya melalui rasio dan usaha. Doa hadir sebagai penyeimbang: mengingatkan bahwa usaha tanpa kesadaran spiritual berpotensi melahirkan kelelahan eksistensial. Dalam Islam, doa dan ikhtiar bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam satu kesatuan etis.Tidak semua doa mengubah keadaan eksternal, tetapi hampir semua doa yang sungguh-sungguh mengubah kondisi internal pendoanya. Perubahan cara memandang masalah, penerimaan terhadap takdir, dan tumbuhnya kesabaran adalah bentuk pengabulan yang sering luput disadari. Dalam kerangka ini, doa bukan alat untuk “memaksa” kehendak Tuhan, melainkan sarana membentuk keselarasan antara kehendak manusia dan kebijaksanaan Ilahi.
Dengan demikian, manusia perlu berdoa bukan karena Allah membutuhkan doa, tetapi karena manusialah yang membutuhkan hubungan dengan-Nya. Doa menjaga manusia tetap sadar akan asal-usulnya, batas kemampuannya, dan arah hidupnya. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, doa menjadi ruang sunyi tempat manusia kembali mengenali dirinya sebagai makhluk yang lemah, berharap, dan selalu membutuhkan Tuhan.