Doa, Harapan, dan Afirmasi: Tiga Bahasa Batin yang Sering Disamakan, Padahal Berbeda

Doa, Harapan, dan Afirmasi: Tiga Bahasa Batin yang Sering Disamakan, Padahal Berbeda

12 Februari 2026 | 15:26

Keboncinta.com-- Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan tiga istilah ini secara bergantian: doa, harapan, dan afirmasi. Ketiganya terdengar mirip, sama-sama berangkat dari keinginan akan sesuatu yang lebih baik. Namun jika ditelaah lebih dalam baik dari sudut pandang psikologi maupun Islam ketiganya memiliki makna, arah, dan posisi yang berbeda dalam kehidupan manusia.

Perbedaan ini penting dipahami, bukan untuk dipertentangkan, melainkan agar kita tidak salah menempatkan diri: kapan berserah, kapan berusaha, dan kapan menguatkan batin.

1. DOA

Dalam Islam, doa adalah bentuk penghambaan. Ia bukan sekadar permintaan, tetapi pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah memiliki kuasa penuh. Saat berdoa, seseorang menempatkan dirinya sebagai hamba yang bergantung, bukan sebagai pengendali hasil. Karena itu, doa selalu mengandung unsur tawakal berserah setelah berikhtiar.

Sementara itu, harapan dalam psikologi dipahami sebagai kondisi mental yang berorientasi pada masa depan. Teori Hope dari C.R. Snyder menjelaskan bahwa harapan terdiri dari dua unsur utama: agency (keyakinan bahwa diri mampu bergerak) dan pathways (kemampuan melihat jalan untuk mencapai tujuan). Artinya, harapan menuntut peran aktif manusia ia mendorong usaha, bukan sekadar penantian.

Di sinilah perbedaannya mulai terlihat. Doa berangkat dari kesadaran akan keterbatasan manusia di hadapan Tuhan, sedangkan harapan berangkat dari keyakinan bahwa manusia masih memiliki ruang untuk berusaha dan memilih. Dalam praktiknya, Islam justru memadukan keduanya: berdoa tanpa harapan dan usaha akan menjadi pasif, sementara berharap tanpa doa bisa menjelma menjadi keangkuhan tersembunyi.

2. Afirmasi

Berbeda lagi dengan afirmasi. Afirmasi adalah kalimat positif yang diulang untuk membentuk pola pikir dan keyakinan diri. Teori Self-Affirmation (Claude Steele) menjelaskan bahwa afirmasi membantu individu menjaga harga diri dan stabilitas psikologis, terutama saat menghadapi tekanan atau kegagalan.

Masalah muncul ketika afirmasi dipahami secara keliru, seolah dengan mengatakan “aku pasti bisa” atau “semesta akan mengabulkan” saja, realitas akan otomatis berubah. Dalam Islam, keyakinan seperti ini perlu diluruskan. Islam mengajarkan bahwa kekuatan utama bukan terletak pada kata-kata manusia, melainkan pada kehendak Allah. Afirmasi boleh digunakan sebagai penguat mental, tetapi tidak boleh menggantikan doa atau menjadikan manusia merasa berkuasa mutlak atas takdir.

Dengan kata lain, afirmasi berfungsi di ranah psikologis, menata batin dan pikiran sementara doa beroperasi di ranah spiritual, dan harapan menjembatani keduanya dalam bentuk usaha nyata.

Menempatkan Ketiganya secara Seimbang

Doa, harapan, dan afirmasi bukanlah tiga hal yang saling meniadakan. Ketiganya justru saling melengkapi jika ditempatkan secara proporsional. Doa menjaga kerendahan hati dan hubungan dengan Tuhan.

Tags:
perbedaan Makna doa dalam Islam Parenting Islamic

Komentar Pengguna