Keboncinta.com-- Dalam dunia parenting, banyak orang tua berusaha keras menanamkan nilai-nilai moral kepada anak melalui nasihat dan kata-kata. Namun, sejatinya pendidikan akhlak tidak hanya terletak pada seberapa banyak kita berbicara, melainkan pada seberapa konsisten kita memberi teladan. Anak-anak adalah peniru ulung; mereka belajar bukan dari ceramah panjang, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Ketika orang tua berkata jujur, anak belajar kejujuran. Ketika ayah menepati janji kecil, anak belajar tentang tanggung jawab. Ketika ibu meminta maaf setelah melakukan kesalahan, anak belajar tentang kerendahan hati. Nilai-nilai seperti sopan santun, empati, dan keikhlasan tumbuh alami melalui contoh nyata yang mereka saksikan di rumah.
Pendidikan lewat teladan ini adalah bentuk komunikasi yang paling efektif dan tulus. Anak tidak merasa digurui, melainkan diajak untuk memahami makna dari setiap tindakan. Mereka melihat bagaimana orang tuanya bersikap saat marah, bersabar dalam kesulitan, atau bersyukur atas hal kecil. Dari situlah akar akhlak terbentuk—bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran.
Tentu, memberi teladan bukan berarti orang tua harus sempurna. Justru dalam keterbatasan dan usaha memperbaiki diri, anak belajar tentang kejujuran hati. Mengakui kesalahan dan berusaha menjadi lebih baik adalah pelajaran berharga tentang kemanusiaan dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, mengajarkan akhlak lewat teladan adalah bentuk pendidikan yang paling hidup. Ia tidak memerlukan banyak kata, tapi meninggalkan kesan yang dalam dan bertahan lama. Karena akhlak tidak diajarkan lewat suara, melainkan ditanamkan lewat perbuatan.
Contributor: Tegar Bagus Pribadi