Menanti Bulan Suci Ramadan, Ini Makna dan Keistimewaan Nisfu Syaban 1447 H

Menanti Bulan Suci Ramadan, Ini Makna dan Keistimewaan Nisfu Syaban 1447 H

01 Februari 2026 | 18:02

Keboncinta.com-- Bulan Syaban menempati posisi istimewa dalam kalender Hijriah karena berada tepat satu bulan sebelum Ramadan.

Bagi umat Islam, Syaban kerap dimaknai sebagai masa persiapan spiritual untuk menyambut bulan suci dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, serta niat ibadah yang lebih matang.

Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW dikenal memperbanyak amalan ibadah selama bulan Syaban. Puasa sunnah, memperbanyak doa, dan melakukan berbagai kebaikan dianjurkan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Para ulama pun menilai Syaban sebagai momentum penting untuk memperbaiki kualitas spiritual sekaligus memperkuat hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Baca Juga: Pengangkatan Pegawai MBG Jadi PPPK Picu Polemik, Guru Honorer Merasa Dianaktirikan

Perhatian umat Islam biasanya semakin meningkat ketika memasuki pertengahan bulan Syaban. Pada fase inilah terdapat malam Nisfu Syaban, malam yang diyakini memiliki keutamaan tersendiri dan sarat dengan nilai spiritual.

Malam ini kerap dimanfaatkan sebagai waktu muhasabah atau introspeksi diri sebelum memasuki Ramadan.

Berdasarkan kalender resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, awal bulan Syaban 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Penetapan tersebut sejalan dengan perhitungan yang digunakan oleh organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Adapun susunan tanggal penting dalam bulan Syaban 1447 H adalah sebagai berikut:

Baca Juga: Menag Dorong Evaluasi Beasiswa LPDP, Usulkan Porsi Non-STEM Diperluas

  • 1 Syaban 1447 H: 20 Januari 2026

  • 15 Syaban 1447 H (Nisfu Syaban): 3 Februari 2026

  • Akhir Syaban: 18 Februari 2026

Dengan demikian, pertengahan bulan Syaban berada di awal Februari 2026. Malam Nisfu Syaban sendiri dimulai sejak terbenamnya matahari pada Senin, 2 Februari 2026, bertepatan dengan waktu Maghrib.

Perbedaan ini sering menimbulkan kebingungan karena dalam kalender Masehi, tanggal 15 Syaban tercatat pada 3 Februari.

Dalam sistem penanggalan Hijriah, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam, bukan pada pukul 00.00 waktu setempat. Artinya, saat azan Maghrib berkumandang pada 2 Februari 2026, umat Islam telah memasuki tanggal 15 Syaban.

Sejumlah literatur Islam menyebut malam Nisfu Syaban sebagai malam penuh rahmat dan ampunan. Para ulama memasukkannya dalam deretan malam mustajab, bersama malam Jumat dan malam dua hari raya.

Baca Juga: Kapan Sidang Isbat Awal Ramadhan 1447 H Digelar? Ini Mekanisme dan Prediksinya

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani disebutkan bahwa Allah SWT melimpahkan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya pada malam tersebut, kecuali mereka yang menyekutukan Allah dan menyimpan permusuhan terhadap sesama.

Beberapa ulama klasik, termasuk Imam Al-Ghazali, juga mengaitkan malam Nisfu Syaban dengan pencatatan ketentuan hidup manusia untuk satu tahun ke depan, seperti rezeki, umur, dan berbagai urusan dunia lainnya.

Karena itu, malam ini sering dimanfaatkan untuk memperbanyak doa, istighfar, serta memperbaiki niat hidup.

Meski memiliki keutamaan, para ulama menegaskan bahwa tidak ada ibadah khusus yang bersifat wajib pada malam Nisfu Syaban.

Baca Juga: Kabar Baik Guru Honorer, Insentif Bulanan Rp400 Ribu Cair Langsung ke Rekening

Amalan yang dilakukan tetap berstatus sunnah dan tidak boleh diyakini sebagai kewajiban agama agar tidak menimbulkan pemahaman keliru dalam beribadah.***

Tags:
Khazanah Islam Khazanah Puasa Ramadhan

Komentar Pengguna