Bisnis
Admin

Leadership Jaman Now: Kenapa Bos yang "Galak" Sudah Gak Laku, dan Bos yang "Empati" Lebih Dicari

Leadership Jaman Now: Kenapa Bos yang "Galak" Sudah Gak Laku, dan Bos yang "Empati" Lebih Dicari

29 Januari 2026 | 14:54

keboncinta.com--  Dunia bisnis telah mengalami pergeseran paradigma yang masif. Jika di era industri kepemimpinan ala militer yang kaku dan "galak" dianggap sebagai standar efisiensi, maka di era digital dan Gen Z saat ini, gaya tersebut justru menjadi resep kegagalan. Kini, wajah kepemimpinan telah berubah; command and control (perintah dan kontrol) telah digantikan oleh trust and inspire (percaya dan inspirasi).

Mengapa bos yang mengandalkan rasa takut mulai ditinggalkan, dan pemimpin yang empati justru menjadi rebutan? Berikut adalah ulasan mendalamnya.

Perubahan Ekspektasi Tenaga Kerja (Gen Z & Milenial)

Karyawan modern tidak lagi hanya mencari gaji di akhir bulan. Mereka mencari makna, keseimbangan hidup (work-life balance), dan lingkungan yang mendukung kesehatan mental. Bos yang galak cenderung menciptakan lingkungan "toxic" yang memicu burnout. Sebaliknya, pemimpin yang empati memahami bahwa karyawan adalah manusia dengan emosi, bukan sekadar roda penggerak mesin bisnis.

Keamanan Psikologis (Psychological Safety)

Google pernah melakukan riset mendalam bertajuk Project Aristotle untuk mencari tahu apa yang membuat sebuah tim sukses. Hasilnya mengejutkan: faktor terpenting bukanlah keahlian teknis, melainkan Psychological Safety.

Karyawan yang dipimpin oleh bos yang empati merasa aman untuk mengambil risiko, bertanya, dan mengakui kesalahan tanpa takut dimarahi. Di bawah bos yang galak, karyawan cenderung menyembunyikan masalah hingga menjadi bom waktu yang merugikan perusahaan.

Empati Meningkatkan Inovasi

Inovasi lahir dari keberanian untuk mencoba hal baru. Bos yang memimpin dengan rasa takut secara tidak langsung membunuh kreativitas. Ketika seorang pemimpin menunjukkan empati, ia membangun koneksi emosional yang kuat. Hal ini menciptakan loyalitas dan keinginan karyawan untuk memberikan kontribusi terbaik—bukan karena takut dihukum, tapi karena merasa dihargai.

Retensi Talenta di Era "Great Resignation"

Biaya untuk merekrut dan melatih karyawan baru jauh lebih mahal daripada mempertahankan karyawan lama. Bos yang galak adalah alasan nomor satu kenapa karyawan berbakat memilih untuk resign. Dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif, perusahaan dengan pemimpin yang empatik memiliki tingkat retensi yang lebih tinggi, yang secara langsung berdampak pada stabilitas finansial bisnis.

Bagaimana Cara Menjadi Pemimpin yang Empati?

Menjadi pemimpin yang empati bukan berarti menjadi "lemah" atau membiarkan performa menurun. Sebaliknya, ini adalah tentang:

  • Active Listening: Mendengarkan untuk memahami, bukan sekadar untuk menjawab.
  • Radical Candor: Memberikan kritik yang jujur namun didasari oleh kepedulian pribadi yang tinggi.
  • Vulnerability: Berani mengakui jika tidak tahu dan terbuka terhadap masukan dari tim.

Intinya: Bos yang galak mungkin mendapatkan kepatuhan, tetapi bos yang empati mendapatkan dedikasi.

Tags:
Bisnis Empati Leadership Soft Skills Kepemimpinan

Komentar Pengguna