Kue Balok: Jejak Sejarah Jajanan Sederhana yang Menghangatkan Kota Bandung

Kue Balok: Jejak Sejarah Jajanan Sederhana yang Menghangatkan Kota Bandung

07 Februari 2026 | 11:23

Keboncinta.com-- Di antara dinginnya udara Bandung, ada satu jajanan yang hampir selalu berhasil memancing antrean panjang: kue balok. Bentuknya sederhana, aromanya khas, dan sensasi hangatnya seolah punya kemampuan menghibur siapa pun yang menggigitnya. Tapi di balik tampilannya yang kini semakin modern, lumer cokelat, topping keju, hingga varian setengah matang, kue balok menyimpan kisah panjang tentang kreativitas, keterbatasan, dan budaya jalanan khas Jawa Barat.

Kue balok diyakini berasal dari Bandung dan sekitarnya pada era 1950–1960-an. Saat itu, masyarakat kelas pekerja membutuhkan makanan ringan yang murah, mengenyangkan, dan mudah dibuat. Dari kebutuhan inilah kue balok lahir mengandalkan bahan dasar yang sangat akrab di dapur: tepung terigu, telur, gula, dan soda kue.
Nama “balok” bukan sekadar julukan. Bentuknya yang menyerupai potongan kayu balok berasal dari cetakan besi sederhana berbentuk persegi panjang, yang dipanaskan di atas bara api. Cara memasaknya pun masih sangat manual: adonan dituangkan, cetakan ditutup, lalu dibalik satu per satu. Tidak ada oven, tidak ada mixer listrik, hanya tenaga tangan dan ketelitian.

Jajanan Rakyat yang Mengenyangkan
Berbeda dengan kue tradisional lain yang cenderung manis dan ringan, kue balok dikenal padat. Teksturnya legit, agak berat, dan mengenyangkan. Inilah sebabnya kue balok dulu sering dijadikan pengganjal perut oleh buruh, pelajar, dan pedagang kecil. Harganya terjangkau, porsinya pas, dan bisa dinikmati sambil berjalan atau berbincang di pinggir jalan.
Pada masa awal kemunculannya, kue balok hanya hadir dalam satu rasa: cokelat sederhana dari bubuk kakao. Tidak ada topping, tidak ada lelehan. Namun justru kesederhanaan inilah yang membuatnya bertahan lama di ingatan kolektif masyarakat Bandung.

Popularitas kue balok sempat meredup, terdesak oleh kue modern dan jajanan impor. Namun sekitar satu dekade terakhir, kue balok kembali naik daun, kali ini dengan wajah baru. Inovasi datang dari generasi muda yang mengemas ulang jajanan lama dengan sentuhan kekinian.
Muncullah istilah “kue balok lumer” atau “setengah matang”, dengan bagian tengah yang lembut dan meleleh. Topping pun semakin beragam: keju, kacang, meses, hingga matcha. Media sosial berperan besar dalam kebangkitan ini. Video kue balok yang dibelah dan memperlihatkan lelehan cokelat terbukti ampuh mengundang rasa lapar sekaligus nostalgia.
Meski tampil modern, proses dasarnya tetap setia pada teknik lama: cetakan besi dan panas langsung. Inilah yang membuat kue balok tetap memiliki cita rasa khas yang sulit ditiru oleh kue oven biasa.

Simbol Kreativitas Kuliner Lokal
Lebih dari sekadar jajanan, kue balok adalah contoh nyata bagaimana kuliner lokal beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas. Ia lahir dari keterbatasan, tumbuh di pinggir jalan, lalu bangkit kembali lewat kreativitas dan teknologi.
Di tengah maraknya makanan viral, kue balok mengingatkan kita bahwa tren tidak selalu harus baru.

Tags:
Makanan Viral Kue balok dan bolu susu lembang Pecinta kue balok

Komentar Pengguna