Sejarah
Admin

Kisah Mustafa Kemal Ataturk: Pendiri Turki Modern yang Sarat Kontroversi

Kisah Mustafa Kemal Ataturk: Pendiri Turki Modern yang Sarat Kontroversi

31 Desember 2025 | 17:53

Keboncinta.com-- Saat membahas tentang sejarah berdirinya Republik Turki modern, akan ada satu tokoh sentral yang menjadi pembahasan, tokoh tersebut ialah Mustafa Kemal Ataturk.

Mustafa Kemal Ataturk dikenal luas sebagai pendiri Republik Turki sekaligus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern negara tersebut. Ia dipuja sebagai Bapak Bangsa karena keberhasilannya membawa Turki keluar dari keterpurukan pasca perang dan mengarahkannya menuju negara modern dan sekuler.

Namun di balik penghormatan itu, sosok Ataturk juga kerap menuai kontroversi, terutama karena perannya yang dianggap mempercepat runtuhnya Kekaisaran Ottoman.

Ataturk lahir sekitar tahun 1881 di Salonica, wilayah Kekaisaran Ottoman yang kini dikenal sebagai Thessaloniki, Yunani. Ia berasal dari keluarga kelas menengah Muslim berbahasa Turki.

Baca Juga: Penilaian Guru Berubah Total 2026, Ruang GTK Jadi Kunci Reformasi Pendidikan

Pendidikan militernya membentuk karakter disiplin dan pemikirannya yang strategis. Karier awalnya membawanya bertugas di berbagai wilayah, termasuk Suriah dan Palestina.

Namanya mulai dikenal luas saat Perang Dunia I. Ketika Kekaisaran Ottoman bergabung dengan Jerman dan Austria-Hongaria, Ataturk tampil sebagai salah satu perwira paling menonjol.

Dalam kampanye Gallipoli, ia berhasil menahan laju pasukan Inggris dan Prancis yang berupaya merebut Istanbul, menjadikannya pahlawan nasional di mata rakyat Ottoman.

Pasca perang, situasi kekaisaran memburuk akibat kekalahan di berbagai front dan pendudukan asing. Dalam kondisi inilah Ataturk memimpin gerakan nasionalis yang menentang kekuatan asing sekaligus pemerintahan sultan di Istanbul.

Dengan dukungan militer dan politik, ia berhasil mengusir pasukan Yunani dari Anatolia dan memproklamasikan berdirinya Republik Turki pada 1923. Ataturk pun terpilih sebagai presiden pertama negara baru tersebut.

Baca Juga: Profil Muhammad Ali Jinnah, Sosok Penting di Balik Lahirnya Negara Pakistan

Sebagai pemimpin, Ataturk menjalankan reformasi besar-besaran. Ia menghapus sistem kesultanan, memperkenalkan hukum bergaya Eropa, dan mendorong sekularisme dalam kehidupan bernegara.

Bahasa, sistem pendidikan, hingga cara berpakaian masyarakat Turki mengalami perubahan drastis demi mendekatkan negara itu pada model modern Barat.

Namun, kebijakan-kebijakan tersebut tidak lepas dari kritik. Ataturk dinilai memimpin dengan pendekatan yang cenderung otoriter. Oposisi politik sering dibatasi, dan ruang demokrasi belum sepenuhnya terbuka.

Reformasi yang menyentuh ranah agama, seperti penghapusan jabatan khalifah dan penggunaan azan berbahasa Turki, memicu ketegangan dengan kelompok yang ingin mempertahankan tradisi Islam.

Di bidang militer dan diplomasi, Ataturk menunjukkan kepiawaiannya. Ia memenangkan pertempuran penting seperti Pertempuran Sakarya dan berhasil memaksa pasukan Yunani mundur.

Baca Juga: Alarm Bahaya 2025! Penjualan Mobil Listrik China Turun, Perang Harga Makin Brutal

Secara internasional, ia merundingkan perjanjian yang mengakui kedaulatan Turki dan mengakhiri pendudukan asing, meskipun wilayah kekuasaan Turki menyusut dibandingkan era Ottoman.

Hingga akhirnya, Mustafa Kemal Ataturk wafat pada 10 November 1938 di Istanbul. Sampai saat ini, pengaruhnya masih terasa kuat dalam kehidupan politik dan sosial Turki.

Ia dikenang sebagai tokoh yang meletakkan fondasi negara modern, meskipun penilaian terhadap warisannya berbeda-beda tergantung sudut pandang politik dan keagamaan.

Sebagai negara yang berada di persimpangan Asia dan Eropa, Turki terus bergulat dengan warisan Ataturk—antara mempertahankan nilai sekularisme dan mengakomodasi identitas keagamaan—dalam menghadapi tantangan zaman.***

Tags:
Sejarah Internasional Sejarah Islam sejarah dunia

Komentar Pengguna