Keboncinta.com-- Dalam proses pembelajaran, waktu sering kali terasa tidak pernah cukup. Jam pelajaran yang terbatas harus diisi dengan banyak materi, sementara siswa dituntut untuk memahami semuanya dalam waktu singkat. Akibatnya, belajar tidak lagi terasa sebagai proses yang menyenangkan, melainkan menjadi perlombaan dengan waktu.
Banyaknya materi yang diberikan membuat siswa sering kali merasa kewalahan. Belum selesai memahami satu topik, pembahasan sudah beralih ke materi berikutnya. Tanpa disadari, waktu terus berjalan dan pemahaman pun menjadi setengah-setengah. Hal ini diperparah dengan tugas-tugas yang harus dikumpulkan dalam batas waktu yang terbatas, sehingga siswa merasa belajar hanya demi menyelesaikan kewajiban, bukan untuk benar-benar memahami.
Rasa kehabisan waktu juga berdampak pada kondisi mental siswa. Tekanan untuk mengejar materi dan tugas membuat siswa mudah lelah, stres, bahkan kehilangan motivasi belajar. Waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk memulihkan energi justru dipakai untuk menyelesaikan tugas yang menumpuk.
Namun, keterbatasan waktu bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Sistem pembelajaran yang padat, target kurikulum yang tinggi, serta tuntutan akademik yang berlapis turut menjadi faktor utama. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama bahwa belajar bukan hanya soal cepat menyelesaikan materi, tetapi tentang proses memahami dan bertumbuh.
Sebagai siswa, mengatur waktu dan menentukan prioritas belajar menjadi langkah penting agar waktu yang terbatas dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sementara itu, guru dan pihak sekolah juga diharapkan dapat menyesuaikan beban materi dan tugas agar sejalan dengan kemampuan dan kondisi siswa.
Ketika waktu belajar terasa tidak cukup, yang paling dibutuhkan bukan hanya tambahan jam belajar, melainkan keseimbangan. Dengan keseimbangan antara materi, waktu, dan kondisi siswa, proses belajar dapat kembali menjadi ruang untuk berkembang, bukan sekadar tekanan yang harus dilewati.